Kadang-kadang kita menghadapi lansia yang keras kepala, sulit menerima saran, atau merasa selalu benar. Ini bisa membuat hubungan menjadi tegang, terutama dalam keluarga.
Kehilangan pasangan (suami atau istri) bisa menjadi pukulan besar bagi lansia. Apalagi jika mereka telah hidup bersama puluhan tahun, berbagi suka duka, dan saling bergantung.
Lansia juga perlu mengenali faktor risiko jatuh seperti otot melemah, penglihatan kabur, obat, dan lingkungan. Penurunan kekuatan otot, gangguan penglihatan seperti katarak, efek samping obat itu semua menambah risiko jatuh
Lansia rentan terhadap risiko seperti jatuh, luka ringan, atau kondisi kesehatan tiba-tiba yang memerlukan tindakan cepat. Kotak P3K untuk lansia harus mencakup peralatan medis dan informasi penting yang mudah diakses.
Acara besar tetap bisa dinikmati oleh lansia asal kita menerapkan langkah pencegahan yang tepat: vaksinasi lengkap, selalu menjaga kebersihan, dan menggunakan masker bila perlu, disertai lingkungan ruangan yang aman dan terjaga.
Menurut lembaga riset gerontologi, menjaga kemandirian lansia memberi rasa harga diri dan kebahagiaan. Pendamping sebaiknya membantu tanpa mengambil alih sepenuhnya.
Penelitian menunjukkan bahwa isolasi sosial menyebabkan kelelahan mental dan fisik, seperti gangguan tidur, depresi, hingga penurunan kualitas hidup pada lansia.
Mengetahui tanda bahaya dan menyiapkan respons cepat—mulai dari mengenali gejala hingga menelepon ambulans—bisa sangat menyelamatkan hidup saat situasi kritis terjadi dalam acara besar.
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan
mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara
lebih dari 11,8–12 % dari total populasi,
menempatkan Indonesia secara resmi
dalam era populasi menua.”
Geriatri.ID
Geriatri-ID adalah wahana digital yang
menyajikan informasi dan edukasi
terpercaya mengenai gaya hidup
senior, 50 hingga 100 tahun.