Ketika Lansia Tak Mau Mengalah


Kadang-kadang kita menghadapi lansia yang keras kepala, sulit menerima saran, atau merasa selalu benar. Ini bisa membuat hubungan menjadi tegang, terutama dalam keluarga.

2025-09-19T07:43

Kadang-kadang kita menghadapi lansia yang keras kepala, sulit menerima saran, atau merasa selalu benar. Ini bisa membuat hubungan menjadi tegang, terutama dalam keluarga.

Tapi mari kita coba pahami dulu dari sisi mereka. Biasanya, sikap “tak mau mengalah” itu bukan semata karena keras kepala, tapi karena beberapa hal di bawah ini:

Mengapa Lansia Terlihat Tidak Mau Mengalah?

1. Ingin Tetap Merasa Berdaya

Setelah pensiun dan menua, mereka mungkin merasa banyak hal diambil darinya (pekerjaan, peran sosial, kesehatan).
Dengan mempertahankan pendapat, mereka sedang mempertahankan kendali.

2. Takut Dianggap Lemah

Lansia kadang takut dianggap “tidak bisa apa-apa”, sehingga mereka ingin menunjukkan masih mampu.

3. Pengaruh Latar Belakang dan Gaya Hidup

Dulu, mereka hidup di zaman yang berbeda.
Nilai-nilai lama seperti: “Orangtua tidak boleh dibantah” atau “Yang tua lebih tahu” masih sangat melekat.

4. Perubahan Emosi atau Kognisi

Beberapa lansia mengalami penurunan fungsi otak atau perubahan emosi, yang membuat mereka lebih kaku atau sulit beradaptasi.

 

Bagaimana Menyikapinya?

1. Pilih Pertempuran yang Penting

Tidak semua perbedaan perlu dibahas.
Fokuslah pada hal-hal yang betul-betul berdampak pada keselamatan atau kesehatan mereka.

2. Gunakan Pendekatan Halus dan Positif

Contoh:

  • Bukan: “Ibu salah, itu bahaya.”

  • Tapi: “Ibu, boleh saya kasih pilihan yang mungkin lebih nyaman untuk Ibu?”

Atau:

  • “Yuk kita coba cara ini, kalau Ibu gak cocok, kita ganti lagi nanti.”

3. Berikan Perasaan Dihargai

Biarkan mereka tetap merasa didengar, dihormati, dan tetap punya suara.

Contoh kalimat:

  • “Pendapat Bapak memang ada benarnya… saya juga baru tahu lho.”

  • “Saya jadi banyak belajar dari Ibu.”

4. Libatkan Mereka dalam Keputusan

Ajak diskusi, bukan instruksi sepihak.
Ini memberi rasa dipercaya, bukan “disuruh”.

Contoh:

  • “Ibu lebih suka ke dokter pagi atau sore?”

  • “Mau pilih buah yang ini atau yang itu, Bu?”

5. Beri Contoh Diam-diam

Tunjukkan hal positif secara perlahan.
Misal: Saat mereka tidak mau minum obat, tunjukkan anak kecil minum vitamin dengan semangat. Atau ikut minum bareng.

6. Gunakan Tokoh yang Mereka Hormati

Kadang nasihat anak sendiri tidak mempan, tapi kalau dari dokter, ustaz, atau tokoh sepuh lain, lebih didengar.

Dan yang paling penting: Bersabar.

Ini bukan tentang menang atau kalah, tapi soal menjaga hubungan baik sambil tetap merawat mereka dengan hormat.

Kalimat Penutup yang Bisa Digunakan:

“Saya tahu ini mungkin berbeda dari cara Bapak dulu, tapi boleh kita coba sebentar?”
“Ibu tetap jadi panutan kami, dan kami cuma ingin bantu supaya Ibu tetap nyaman.”

Geriatri,Lansia Indonesia,Geriatri Sehat,Menua Bahagia,Komunikasi Lansia

ARTIKEL LAINNYA

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

'Apakah Boleh Kita Meminta dan Memilih Pulang?'

Mata Juga Perlu Dicek Secara Rutin

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026