Tahu dan Tempe untuk Penderita Asam Urat, Aman atau Berisiko? 


Berita Lansia - Penderita asam urat sering kali disarankan untuk berhati-hati terhadap makanan yang mereka konsumsi, terutama yang kaya akan purin, karena purin dapat memicu peningkatan kadar asam urat dalam tubuh. 

2024-12-13 09:39:03

Geriatri.id - Penderita asam urat sering kali disarankan untuk berhati-hati terhadap makanan yang mereka konsumsi, terutama yang kaya akan purin, karena purin dapat memicu peningkatan kadar asam urat dalam tubuh. 

Namun, bagaimana dengan tahu dan tempe yang berbahan dasar kedelai? Apakah kedua makanan ini perlu dihindari?  

Kandungan purin pada ledelai  

Kedelai dikenal memiliki kandungan purin cukup tinggi. Namun penelitian menunjukkan pengaruh purin dalam kedelai terhadap kadar asam urat berbeda dengan purin dari sumber lain, seperti daging merah atau jeroan.  

Menurut penelitian yang dilakukan tim dari Duke-NUS Graduate Medical School dan National University Hospital, kedelai justru memiliki efek perlindungan terhadap asam urat. 

Studi ini mendapati, konsumsi tahu dan tempe tidak memicu peningkatan kadar asam urat dalam tubuh.

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia 
 
Salah satu studi besar yang dilakukan di Singapura melibatkan lebih dari 50.000 peserta keturunan Cina. Studi ini mengamati pola makan mereka selama bertahun-tahun. 

Hasilnya menunjukkan, konsumsi produk kedelai, termasuk tahu dan tempe, tidak berkorelasi dengan peningkatan risiko asam urat. 

Temuan ini sejalan dengan enam penelitian lain di Jepang dan Taiwan yang mengungkapkan, kedelai bahkan dapat membantu meningkatkan ekskresi asam urat dari tubuh.  

Kedelai vs makanan Lain yang tinggi purin
  
Dibandingkan daging merah dan unggas, kedelai memiliki efek jauh lebih aman terhadap kadar asam urat. 

Penelitian menunjukkan, konsumsi daging merah meningkatkan risiko asam urat hingga 8 persen. 

Sementara unggas dapat meningkatkan risiko hingga 27 persen. Sebaliknya, konsumsi kedelai tidak menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan.  

Mengapa kedelai tidak memicu asam urat?


Meski kandungan purin dalam kedelai relatif tinggi, proses metabolisme kedelai di dalam tubuh tampaknya berbeda. 

Para peneliti menduga bahwa metabolisme purin dalam kedelai tidak menghasilkan penumpukan asam urat seperti yang terjadi pada sumber purin lain. 

Namun, mekanisme ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dipahami sepenuhnya.  

Saran konsumsi untuk penderita asam urat
  
Berdasarkan temuan ini, penderita asam urat dapat mengonsumsi tahu dan tempe dalam jumlah wajar, misalnya satu hingga dua porsi per hari. 

Namun, penting untuk tetap menjaga pola makan seimbang dan menghindari makanan lain yang kaya purin, seperti jeroan, makanan laut tertentu, atau daging merah.  

Bagi yang masih ragu, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk menyusun pola makan sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing.  

Pertanyaan umum tentang tahu, tempe, dan asam urat  

1. Apakah tahu dan tempe aman bagi penderita asam urat?

Penelitian menunjukkan tahu dan tempe tidak memicu peningkatan kadar asam urat.  

2. Mengapa kedelai tidak memicu asam urat meskipun tinggi purin? 

Diduga, metabolisme purin dalam kedelai berbeda dari makanan lain, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan hal ini.  

3. Apa saja makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita asam urat?

Makanan tinggi purin seperti jeroan, makanan laut tertentu, dan daging merah sebaiknya dihindari atau dikurangi.  

4. Berapa banyak tahu dan tempe yang boleh dikonsumsi penderita asam urat?

Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung

Konsumsi dalam jumlah wajar, misalnya satu hingga dua porsi per hari, dapat dianggap aman.  

5. Apakah daging unggas lebih berisiko dibandingkan kedelai?

Penelitian menunjukkan, konsumsi unggas meningkatkan risiko asam urat lebih tinggi dibandingkan konsumsi produk kedelai.***  
dcast

*Ilustrasi - Asam urat.(Pixabay)

Video Senior Po


ARTIKEL LAINNYA

Industri Robot Lansia di China Kian Melaju

Memahami Hipertensi (11): Fakta Medis Rokok yang Perlu Diketahui

Layanan Home Care di Hari Lanjut Usia Nasional 2026

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026