
Oleh dr. Fatihah Fikriyah
Geriatri - Rokok sering dianggap sebagai “teman setia” saat stres, menunggu, atau sekadar mengisi waktu. Di banyak warung kopi, rokok bahkan menjadi bagian dari budaya bersosialisasi. Namun di balik kepulan asap yang terlihat sepele, tersembunyi mekanisme biologis kompleks yang mempengaruhi tubuh—terutama sistem pembuluh darah dan tekanan darah.
Dalam dunia medis, hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu penyebab utama serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Ironisnya, merokok, yang masih menjadi kebiasaan jutaan orang di Indonesia, merupakan salah satu faktor terbesar dalam meningkatkan risiko hipertensi, bahkan setelah sebatang rokok saja.
Bagaimana sebenarnya rokok mempengaruhi tekanan darah? Mengapa efeknya begitu kuat? Dan apakah berhenti merokok masih bermanfaat meski sudah lama merokok?
Apa yang Terjadi Ketika Seseorang Menyalakan Rokok
Saat seseorang menyalakan rokok dan menghisap asap pertama, tubuh menerima lebih dari 7.000 zat kimia. Beberapa di antaranya sangat berbahaya bagi tubuh, terutama:
Di antara sekian banyak zat tersebut, nikotin adalah tokoh utama yang memicu peningkatan tekanan darah.
Bagaimana Cara Rokok Menyebabkan Hipertensi?
Nikotin yang Mempercepat Detak Jantung
Begitu masuk ke tubuh, nikotin merangsang sistem saraf simpatis yaitu sistem yang mengatur respons siaga “fight or flight”. Dalam hitungan detik dapat terjadi:
• Detak jantung meningkat
• Pembuluh darah menyempit
• Aliran darah menjadi lebih kuat menekan dinding pembuluh
Inilah salah satu alasan mengapa mengukur tekanan darah setelah merokok sering menghasilkan angka yang lebih tinggi.
Pada beberapa penelitian, satu batang rokok saja dapat menaikkan tekanan darah selama 20–30 menit.
Pembuluh Darah Menjadi Lebih Sempit
Nikotin memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin, yang membuat pembuluh darah berkontraksi. Pembuluh darah yang sempit artinya:
Bayangkan aliran air dalam selang yang dipersempit maka tekanan di dalamnya pasti akan naik. Ini pula yang terjadi pada aliran darah di tubuh perokok.
Merokok Merusak Lapisan Pembuluh Darah
Asap rokok mengandung berbagai zat perusak yang menyebabkan:
Perubahan ini berlangsung perlahan, tanpa gejala, tetapi dalam jangka panjang dapat:
Perokok Pasif pun Bisa Terkena Dampaknya
Banyak orang berpikir bahwa risiko hanya menimpa perokok aktif. Sayangnya, penelitian menunjukkan bahwa perokok pasif—orang yang hanya menghirup asap—juga mengalami peningkatan tekanan darah.
Anak, pasangan, atau rekan kerja yang berada di ruangan sama dengan perokok berisiko mengalami:
Artinya, kebiasaan merokok bukan sekadar masalah pribadi, tetapi juga menyangkut kesehatan orang-orang di sekitar.
Ketika Merokok Bertemu Faktor Risiko Lain
Merokok jarang berdiri sendiri. Banyak perokok juga memiliki faktor risiko lain seperti:
Ketika merokok berpadu dengan faktor-faktor ini, efeknya saling memperkuat. Misalnya:
Karena itu, perokok dengan dua atau lebih faktor risiko biasanya memiliki risiko serangan jantung dan stroke yang jauh lebih tinggi dibanding bukan perokok.
Berhenti Merokok: Perubahan Baik Dapat Terjadi Cepat
Banyak perokok pesimis dan mengira bahwa kerusakan sudah “terlanjur parah”. Padahal, tubuh manusia memiliki kemampuan pemulihan yang luar biasa.
Beberapa penelitian menunjukkan:
Berhenti merokok memberikan manfaat pada usia berapa pun, bahkan bagi mereka yang berhenti setelah bertahun-tahun merokok.
Langkah Realistis untuk Mulai Mengurangi Merokok
Setiap perjalanan besar dimulai dengan satu langkah kecil. Beberapa strategi yang bisa dilakukan:
Bahkan pengurangan jumlah rokok harian terbukti dapat menurunkan tekanan darah dalam beberapa minggu.
Kesimpulan: Merokok Bukan Sekadar Masalah Paru-Paru
Selama ini, sebagian besar orang mengaitkan rokok dengan batuk atau kanker paru. Padahal, salah satu dampak paling serius tetapi sering diabaikan adalah hipertensi.
Rokok:
Hasilnya adalah tekanan darah yang meningkat dan risiko tinggi terhadap serangan jantung, stroke, dan gagal jantung.
Kabar baiknya, tidak ada kata terlambat untuk berhenti. Bahkan keputusan kecil hari ini—mengurangi satu batang—dapat memperbaiki tekanan darah dan melindungi pembuluh darah di masa depan.
=====
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. (2023). Tobacco and cardiovascular disease.
2. Benowitz, N. L. (2010). Nicotine addiction. New England Journal of Medicine, 362(24), 2295–2303.
3. Primatesta, P., et al. (2001). Association between smoking and blood pressure. Hypertension, 37(2), 187–193.
4. Jatoi, N. A., et al. (2007). Smoking cessation and arterial stiffness. Hypertension, 49(5), 981–985.
5. U.S. Department of Health and Human Services. (2014). The Health Consequences of Smoking: 50 Years of Progress.
6. Leone, A. (2009). Smoking and hypertension: Independent or additive effects? Current Hypertension Reviews, 5(2), 118–123.
7. Pan American Health Organization. (2022). Secondhand smoke and cardiovascular risk.
8. Nakamura, K., et al. (2008). Does smoking increase the risk of hypertension? Journal of Hypertension, 26(5), 921–926.
Indonesian Society of Hypertension (InaSH). (2021).
9. Pedoman Pengelolaan Hipertensi di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. (2023). InfoDATIN: Pengendalian Tembakau di Indonesia.
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri