Yang Harus Diperhatikan Ketika Memilih Dokter untuk Lansia


Berita Lansia - Menemukan dokter yang tepat bagi kebutuhan lansia adalah sebuah isu . Ada kalanya pasien merasa sungkan dan tidak enak hati untuk mengganti dokter utama atau langganan mereka.

2022-04-14 09:20:05

Penulis: Husna Sabila

Geriatri.id - Kemudahan memperoleh layanan kesehatan yang baik adalah hal penting bagi kesehatan lansia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, dalam kurun waktu satu bulan setidaknya ada 43% lansia mengeluhkan gangguan kesehatan.

Namun dari jumlah itu, 52% tidak mengonsultasikan masalah kesehatan mereka dengan pihak ahli atau tenaga medis.

Untuk itu, keluarga maupun lansia perlu menemukan dokter yang tepat bagi kebutuhan lansia.

Ada kalanya pasien merasa sungkan dan tidak enak hati untuk mengganti dokter utama atau langganan mereka, karena takut akan menyakiti perasaan dokter tersebut.

Namun, dokter juga mengetahui kebutuhan pasien mungkin berbeda sehingga perlu mencari dan menemukan opsi dokter lainnya, entah itu karena kurang lancarnya komunikasi, pindah domisili, ataupun penggantian faskes di keanggotaan asuransi yang diikuti pasien.

Bagi lansia khususnya, komunikasi yang baik dengan dokter mereka adalah fondasi dasar suksesnya konsultasi dan pemberian layanan kesehatan dari dokter kepada pasien.

Terlebih dengan permasalahan kesehatan lansia yang cenderung berbeda dengan usia lainnya. Menemukan dokter yang ‘cocok’ menjadi hal penting untuk dipenuhi.

Dokter Geriatri, atau yang disebut Konsultan Geriatri, adalah rekomendasi pertama untuk lansia.

Sebab, berdasarkan keilmuan dan pendidikannya, seorang konsultan geriatri merupakan dokter yang secara khusus menangani berbagai keluhan dan masalah kesehatan pada orang lanjut usia.

Ia merupakan sub dari spesialis penyakit dalam (internis)– bergelar Sp.PD., K-Ger.

Konsultan Geriatri merupakan ahli untuk menangani sindrom geriatri, malnutrisi pada lansia, delirium, gangguan berkemih, gangguan tidur, sampai masalah demensia, disfungsi seksual, hipotensi ortostatik, gagal jantung, hipertensi, infeksi pada lansia seperti pneumonia dan infeksi saluran kemih, penyakit Parkinson, osteoporosis, dan diabetes.


Secara umum, opsi pilihan dokter yang beragam mulai dari internis/ahli penyakit dalam, dokter keluarga, maupun dokter geriatri mungkin dapat dijadikan opsi-opsi bagi lansia—selain opsi dokter spesialis penyakit lain yang sesuai dengan penyakit bawaannya.

Namun, dalam memutuskan dokter yang akan dipilih sebagai dokter utama, lansia perlu mempertimbangkan dan melakukan hal-hal berikut ini, sesuai dengan arahan National Institute on Aging, Amerika Serikat:

1. Putuskan hal atau nilai apa yang paling dibutuhkan dari seorang dokter.

Dalam poin ini, lansia dapat menjabarkan preferensi mereka terhadap dokter yang akan memberi pelayanan kesehatan.

Apakah lebih nyaman dengan dokter laki-laki atau perempuan? Atau mungkin hal seperti keleluasaan waktu konsultasi, misalnya di pagi atau sore hari, ataupun hal-hal lain agar lansia memperoleh kenyamanan dalam mengomunikasikan keluhannya kepada si dokter. 

2. Buat daftar nama dokter yang dituju

Setelah menemukan hal apa yang dibutuhkan lansia, selanjutnya lansia dan keluarga dapat mengelompokkan nama-nama dokter yang sesuai dengan preferensi lansia tersebut. 


3. Mencari dan mengumpulkan informasi mengenai dokter-dokter tersebut

Dari nama-nama dokter yang sudah dikumpulkan pada poin nomor 2, selanjutnya lansia dan keluarga dapat mengumpulkan informasi lebih lanjut mengenai dokter yang dirasa sesuai.

Informasi yang dikumpulkan dapat berupa kesesuaian jam praktek dengan ketersediaan/kenyamanan lansia, bidang keahlian, dan—apabila memungkinkan—bagaimana dokter tersebut membangun komunikasi dan edukasi yang sesuai dengan kebutuhan lansia. 

Setelah melakukan observasi dengan 3 langkah tersebut, selanjutnya lansia dan keluarga dapat memutuskan dokter mana yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lansia.

Beberapa poin tetap perlu mendapat perhatian ketika menemui dokter, seperti kebebasan dan keleluasaan pasien dalam bertanya, cara dokter mendengarkan keluhan dan cerita pasien, serta bagaimana pemaparan edukasi yang disampaikan oleh dokter: apakah sudah cukup jelas untuk dipahami atau tidak.

‘Pertemuan pertama’ setelah memutuskan dokter mana yang akan menangani lansia adalah saat yang penting bagi keberlangsungan konsultasi layanan kesehatan lansia ke depannya.

Pada tahap ini, lansia ataupun keluarga dan caregiver yang mendampingi, perlu untuk membawa catatan medis baik rekam pemeriksaan dengan dokter sebelumnya, ataupun hasil pemeriksaan laboratorium yang pernah dijalani si pasien.

Jangan lupa pula untuk membawa atau menyampaikan obat apa saja yang dikonsumsi lansia kepada dokter tersebut. 

 

berita lansia, dokter lansia, geriatri, lansia sehat, merawat lansia, kabar lansia

ARTIKEL LAINNYA

Kerentaan Bisa Diperbaiki Kok

Telemedicine untuk Lansia: Solusi Praktis atau Justru Bikin Bingung?

Kenapa Mata Lansia Sering Berair?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026