
GERIATRI.CO.ID – Bayangkan skenario ini: Oma atau Opa harus melakukan kontrol rutin bulanan ke rumah sakit. Prosesnya mulai dari bersiap-siap, menembus kemacetan kota, mengantre lama di fasilitas kesehatan, hingga menebus obat. Bagi lansia dengan keterbatasan fisik, perjalanan ini sering kali menguras energi dan memicu kelelahan ekstrem sebelum sempat bertemu dokter.
Di era digital ini, hadirnya layanan telemedicine (konsultasi medis jarak jauh) menawarkan secercah harapan. Cukup lewat layar ponsel atau laptop, lansia bisa bertatap muka dengan dokter. Namun pertanyaannya, efektif dan baguskah telemedicine untuk lansia?
Sisi Positif: Mengapa Telemedicine Bagus untuk Lansia?
Bagi kelompok usia senja, telemedicine bukan sekadar tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan aksesibilitas. Berikut beberapa keuntungan utamanya:
1. Menghemat Energi Fisik: Lansia dengan gangguan mobilitas, nyeri sendi hebat, atau pasca-stroke tidak perlu melalui perjalanan fisik yang melelahkan hanya untuk konsultasi rutin.
2. Meminimalkan Risiko Infeksi Silang: Rumah sakit adalah tempat berkumpulnya berbagai kuman dan virus. Konsultasi dari rumah menjaga lansia yang memiliki sistem imun lemah dari risiko tertular penyakit menular.
3. Kontrol Rutin Lebih Konsisten: Untuk penyakit kronis yang sudah stabil seperti hipertensi atau diabetes, telemedicine mempermudah dokter memantau perkembangan pasien dan memperpanjang resep obat tanpa repot.
Tantangan Nyata: Kendala Teknologi dan Komunikasi
Meskipun terdengar ideal, penerapan telemedicine pada lansia kerap membentur dinding realitas, antara lain:
1. Hambatan Sensorik dan Kognitif: Penurunan fungsi penglihatan, pendengaran (presbikusis), atau penurunan kognitif membuat lansia kesulitan menangkap penjelasan dokter lewat speaker ponsel yang kecil.
2. Gagap Teknologi (Gaptek): Mengoperasikan aplikasi medis, mengatur kamera, atau memastikan koneksi internet yang stabil sering kali membuat lansia merasa cemas dan frustrasi.
Solusi Kunci: Peran Vital Caregiver (Pendamping)
Agar telemedicine berjalan sukses, kehadiran caregiver atau anggota keluarga muda adalah syarat mutlak. Tugas pendamping meliputi:
Batasan Medis: Kapan Telemedicine TIDAK Boleh Digunakan?
Keluarga harus bijak memahami bahwa tatap muka digital tidak bisa menggantikan pemeriksaan fisik langsung secara total.
Telemedicine tidak cocok dan berbahaya jika digunakan pada kondisi:
Telemedicine adalah inovasi yang sangat bagus dan meringankan bagi lansia, asalkan digunakan untuk kontrol penyakit yang sudah stabil dan wajib didampingi oleh keluarga. Teknologi hadir bukan untuk menjauhkan, melainkan mendekatkan layanan kesehatan ke ruang tamu Oma dan Opa. (a2s)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri