
Geriatri.id--Puasa, seperti diketahui bukan hanya kegiatan menahan nafsu makan dari sejak imsak sampai waktu berbuka. Namun selain mendapatkan manfaat reliji, puasa juga memberikan manfaat jasmaniah pada orang yang menjalankan.
dr. Gatot Soegiarto Sp.PD-KAI, Pakar Imunisasi Dewasa dalam acara #TanyaJawabIDI di saluran PB Ikatan Dokter Indonesia, memaparkan temuan ilmuwan Jepang, Yoshinuri Ohsumi. Ilmuwan yang juga peraih Nobel tahun 2016 di bidang Kedokteran, menemukan manfaat dari puasa. Hasil temuannya menyebutkan seseorang yang menjalankan puasa setidaknya lebih dari 8 jam maka akan mengalami penurunan nutrisi di dalam darah.
Penurunan karena puasa ini, ternyata karena sel-sel kita menjalani prose yang disebut autofagi. Autofagi adalah mekanisme alami sel mendegradasi komponen-komponen yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Sehingga membuat bahan-bahan toxic, sel-sel yang tidak berguna dan tidak normal dibersihkan dan sel-sel baru dibuat kembali,
Dr. dr. Gatot lebih jauh memaparkan, pada kondisi puasa terjadi autofagi untuk limfosite, yaitu tipe sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem imun. Dimana pada limfosit, terdapat limfosit B yang berperan untuk membentuk antibodi. Pada kondisi puasa, limfosit B ternyata menjadi aktif, sehingga pembentukan antibodi tidak terganggu dan malah meningkat.
Sehingga dengan bukti-bukti tersebut, tidak ada lagi alasan untuk menunda vaksin. Banyak laporan masuk yang menyebutkan masyarakat enggan melakukan vaksin di bulan puasa karena efek samping. Seperti yang dilaporkan oleh Dr.dr. Safrizal Rahman Sp,OT M Kes Ketua IDI Wilayah Aceh, adanya penurunan jumlah orang yang melakukan vaksin tahap kedua. Padahal, menurutnya MUI dan bahkan pemerintah Arab Saudi memastikan vaksiniasi tetap bisa dilakukan di bulan puasa dan tidak membatalkan karena intramuscular. Namun kendala justru terjadi di masyrakat yang takut ada efek samping, lemas dan lapar.
Dr. dr. Gatot sendiri menyebutkan laporan mengenai efek samping yang lemas menang ada. Namun presentasi laporannya sangat kecil, hanya 0,5-2%. Dan efek samping ini terjadi pada penerima vaksin Sinovac, yang merasa lemas dan ngantuk. Sedangkan untuk penerima vaksin AstraZeneca malah tidak ditemukan keluhan. Kalaupun ada keluhan yaitu ngilu, pegal linu di tempat suntikan dan demam. Meski prosentase laporannya besar namun tingkat gejalanya ringan-sedang.
Sehingga kekhawatiran efek samping yang hanya kecil ini jangan dijadikan alasan untuk menunda vaksinasi. Selain itu MUI juga sudah berfatwa vaksinasi pada saat menjalankan ibadah puasa tidak akan membatalkan puasa.. “Mestinya tidak perlu menunda vaksin, karena kita tidak tau kapan virusnya datang. Siapa yg duluan? Virusnya datang atau melindungi diri dengan vaksin. Mending kita melindungi diri,” ujar Dr. dr. Gatot. (Dewi Retno untuk Geriatri.id | Foto Pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri