
Geriatri.id--Ibadah puasa sering dibilang ibadah yang bisa membersihkan tubuh dari sel-sel buruk. Namun tentu saja harus dilakukan dengan benar. Meski ibadah puasa Ramadhan ini wajib bagi umat Islam, namun tetap ada pengecualian bagi mereka yang lanjut usia dan menderita penyakit kronis.
Puasa pada orang lanjut usia atau lansia yang perlu diperhatikan adalah efek pada ototnya. Karena orang yang berpuasa biasanya pada usia lanjut, efek pd ototnya bagaimana? Biasanya orang yang berpuasa akan mengalami berat badan, namun tidak baik jika diikuti dengan penurunan masa otot. Penurunan ini bisa dilihat dari kemampuan fisik, kecepatan berjalan dan kemampuan untuk memegang. Apakah puasa atau sesudah puasa tidak berbeda atau tidak mengganggu.
Dalam webinar Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Ceva Wicaksono Pitoyo SpPD K-P FINASIM KIC mengemukakan tentang pentingnya otot untuk bernafas. Jika saat berpuasa asupan protein cukup, maka otot akan baik. Dan puasa ini bisa menurunkan nilai resiko coroner pada 10 tahun kemudian, penurunan LDL, kenaikan HDL dan juga sel darah putih.
Untuk orang yang sehat, rajin berpuasa risiko terjadinya diabetes, jantung coroner itu menurun dibandingkan mereka yang tidak. Bagi mereka yang memiliki penyakit jantung dan hipertensi, dr. Ceva menyarankan, jika sedang akut baiknya tidak berpuasa dan tetap meminum obat. Namun, jika denyut jantung dirasa sedang stabil, maka boleh saja berpuasa. Meski demikian, tetap harus dijaga untuk tidak boleh terlalu banyak minum dan garam. Kedua hal tersebut bisa memicu kelebihan cairan yang berbahaya untuk orang dengan penyakit jantung.
Hal lain yang harus diperhatikan mereka yang memiliki penyakit jantung, untuk berhati-hati dengan obat deuratik (obat yang memicu buang air kecil). Menurut dr. Ceva, jika sebelumnya tidak minum obat deuratik, maka jangan memulai obat deuratik tanpa petunjuk dokter. Namun jika sebelumnya sudah pakai maka barangkali dosisnya bisa dikurangi.
Selain itu dianjurkan juga untuk banyak makan serat sehingga memudahkan untuk proses buang air besar. Untuk makanannya, dr. Ceva menyarankan untuk mengindari lemak jenuh seperti kulit ayam, lemak pada daging, kelapa, santan dan lain-lain. Begitu juga dengan lemak trans pada biskuit dan kue yang digoreng untuk dihindari, karena bisa menurunkan HDL.
dr. Ceva juga menyarankan, untuk memilih makanan yang mengandung lemak tak jenuh seperti alpukt, zaitun, kacang almon, kacang tanah, kacang mete. Juga makanan yang mengandung lemak tak jenuh ganda seperti ikan berminyak, biji, margarin, dan minyak sayur lembut. Bagi mereka yang tidak memiliki larangan makan kacang-kacangan tambahkan segenggam kacang-kacangan dan biji-bijian untuk sahur atau berbuka. Hal ini untuk menambah kebutuhan lemak yang baik.
Selain itu, bagi mereka yang memiliki penyakit kronis dan tetap ingin berpuasa sebaiknya jangan lupa rutin periksa berat badan, tekanan darah dan nadi. Sedangkan untuk gula darah, gula darah pada orang puasanya lebih rendah. Maka harus diperhatikan bagi penderita diabetes, gula darahnya harus di antara 90-140.
Untuk orang diabetes, baiknya control rutin 1-2 bulan sebelum bulan puasa. Karena ditakutkan akan terjadi gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia) dan gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) pada penderita DM selama puasa. Jika mengalami hipoglikemia makan akan merasa keringat dingin, berkunang-kunang, kejang, hingga tak sadar. Sedangkan hiperglikemia penglihatan kabur, sakit kepala peningkatan kelelahan dan kehausan.
Pada pasien yang gula darah selalu >250 mg/dl , berarti gula tak maksimal masuk ke sel-sel tubuh, dan tubuh menganggap gula perlu ditambah. Maka jika mereka berpuasa dan gula tak maksimal masuk tubuh, gula akan diproduksi dari hati. Sementara hika hati tak cukup makan akan diproduksi dari lemak hingga bisa menimbulkan resiko keton.
Lalu siapa saja penderita diabetes yang tidak disarankan puasa? dr. Ceva menyebutkan mereka yang mendapat insulin lebih dari 2x/hari disarankan untuk tidak puasa. Karena selama puasa, kegiatan makan hanya 2x/hari yaitu sahur dan berbuka. Mereka yang sedang hamil, orangtua yang tidak bisa menilai gula darah tinggi, haus atau kunang-kunang, punya penyakit lain seperti ginjal, hati hipertensi dan juga yang memiliki riwayat gula darah drop juga tidak disarankan berpuasa.
Namun jika mereka ingin berpuasa, baiknya sahur dengan makanan yang mengandung karbohidrat kompleks. Karena karbohidrat kompleks proses cernanya lebih lama. Usahakan untuk sahur sedekat mungkin dengan imask. Berbuka dengan makanan banyak serat, jangan makanan yang bergula dan berlemak.
Sebaliknya saat berbuka, usahakan makan makanan yang mengandung karbohidrat sederhana dan banyak serat. dr. Ceva menyarankan untuk berbuka dengan kurma, karena kurma itu tinggi seratnya. Saat berbuka juga jangan makan berlebihan dan menghindari caffeine dan susu untuk mencegah dehidrasi. Diusahakan saat berbuka kalori harus lebih banyak daripada sahur. Mengatur pola minum obat sesuai dengan petunjuk dokter.
Untuk mereka yang memiliki penyakit ginjal dan hemodialisis, dr. Ceva menyebutkan harus mendapatkan protein, air dan garam yang cukup dan tidak berlebih. Jumlah air yang dikonsumsi tidak boleh lebih banyak dari jumlah air yang keluar. Hindari makanan yang terlalu banyak kalium seperti kurma dan pisang. Dan upayakan makanan yang tidak berlemak, rebusan yang cukup kalsium.
Bagi mereka yang menderita long Covid baiknya untuk mengurangi karbohidrat saat berbuka dan sahur. Karena pada penderita Covid yang memiliki diabetes, biasanya penyakit gagal ginjal dan jantung ikut muncul. Untuk mereka yang masih merasakan sesaik, baiknya mengkonsumi makanan yang mengandung banyak protein. Selain itu perbanyakan vitamin yang mengandung antioksidan Vit C, B, D, Zinc, dan Kalsium. Namun jika masih demam baiknya batalkan puasa dan minum yang banyak.*** (Dewi Retno untuk Geriatri.id)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri