Puasa Yang Sehat dan Bermanfaat Bagi Lansia


Simak paparan DR. dr. Probosuseno, SpPD, K-Ger, FINASIM, SE berjudul Puasa Bagi Lansia Sehat dan Bermanfaat.

2021-04-13 20:37:26

Geriatri.id--Setiap memasuki bulan Ramadan, umat muslim di seluruh dunia diwajibkan untuk melakukan ibadah puasa. Namun ibadah ini juga tidak memberatkan bagi mereka yang masuk kategori lanjut usia atau lansia. Jika lansia ini merasa tidak mampu melakukan puasa, maka ada kewajiban untuk menggantinya dengan membayar fidyah.

Lalu bagaiman dengan lansia yang tetap ingin berpuasa? DR. dr. Probosuseno, SpPD, K-Ger, FINASIM, SE dalam presentasinya yang berjudul Puasa Bagi Lansia Sehat dan Bermanfaat menjelaskan puasa dasarnya adalah proses reparasi, regenerasi dan restorasi tubuh. Keinginan lansia pada umumnya sebenernya sederhana, hanya ingin bahagia lahir dan batin. 

Lansia juga memiliki keinginan untuk panjang umur dan tidak banyak gangguan atau penyakit.  Tidak hanya itu, menurut dr. Probo lansia juga memiliki keinginan masa tua yang berkwalitas seperti finasial cukup, harmonis dengan pasangan dan anak-anak menyenangkan. Karena menjalani hari tua dalam keluarga yang tidak baik bisa menyebabkan depresi. 

Idealnya, menurut dr. Probo, meskipun tua namun kualitas hidup masih bagus atau successful aging. Salah satu yang membuat hidup berkualitas adalah puasa. Bagi umat Islam, salah satu ibadah yang membuat hidup sehat dan bahagia jika dilakukan dengan benar. 

Puasa membuat tubuh menyapu bersih sel-sel yang tidak bermanfaat, rejuvenasi tubuh. Sedangkan dari segi psikologis dan sosial membuat emosi lebih stabil, lebih tahan terhadap stress dan kecemasan. Juga mencegah kumatnya beberapa gangguan jiwa, meningkatkan rasa aman, lebih peka terhadap kondisi sosial dengan meningkatnya simpati dan empati.

Menurut penelitian dr. Probosuseno dkk (2000), dari penelitian terhadap 44 orang, terbukti puasa Ramadan dapat menurunkan berat badan dan tensi yang cukup besar. Penurunan tensi dan berat badan tampak nyata pada 7 pertama dan ke 14 sedang hari ke 21, 28 tensi relative stabil. Lalu 7 hari selepas puasa berat badan cenderung naik kembali mendekati berat badan sebelum puasa.

Penelitian lain dari Haricahyo, Puji Rahardjo, Siti Setiati dkk (1998), pada minggu pertama dan pertengahan puasa Ramadhan terjadi penurunan fungsi ginjal. Namun secara klinis keadaan ini tidak sampai menyebabkan keadaan yang membahayakan. Hasil penelitian menunjukkan, ternyata pada akhir puasa dan dua minggu selepas puasa justru terjadi perbaikan fungsi ginjal, bahkan lebih baik dibanding kondisi awal. 

Jadi bisa dikatakan puasa Ramadhan tidak berbahaya bagi fungsi ginjal pasien geriatric. Tentu saja dengan catatan jika CCT (Creatinine Clearance Test) sebelum puasa lebih dari 25cc/menit dan asupan cairan cukup. 

Sehingga, bagi lansia yang hendak menjalankan ibadah puasa perlu untuk menjaga asupan cairan. dr. Probosuseno menyarankan untuk minum yang cukup sebanyak 30cc x BB Kg, dibagi selama saat berbuka sampai sahur. Kalau kurang minum, maka bisa diganti dengan buah-buahan banyak mengandung air seperti semangka, melon dan pepaya. Atau makanan yang mengandung air seperti agar-agar.

Selain minuman, lansia juga perlu menjaga asupan nutrisi lainnya seperti karbohidrat dan protein. Asupan nutrisi ini bisa didapat dari sayur dan buah yang lengkap, seperti contohnya kurma, telor ayam rebus atau ceplok. Sedangkan untuk vitamin, usahakan untuk banyak mengkonsumsi Vitamin E dan Vitamin D. Berjemur di jam 07.00-09.30 atau jam 03.00-04.00 sore selama 5-15 menit cukup untuk mendapatkan asupan Vitamin D yang diperlukan tubuh.

Meski demikian, dr. Probosuseno menyebutkan beberapa kondisi yang harus diperhatikan lansia yang ingin berpuasa. Untuk mereka yang tidak bisa makan makanan sembarangan, baiknya tanyakan pada ahli gizi makanan yang cocok. Sedangkan untuk mereka yang tidak bisa lepas obat, mengalami demensia atau pikun, dr. Probo menyarankan baiknya mereka tidak usah puasa.

Dan untuk mendapatkan puasa yang sehat dan produktif di bulan puasa, oma opa harus tetap sahur, karena sahur penting. Selain itu untuk mereka yang sedang minum obat-obatan baiknya menyesuaikan jadwal. Istirahat yang cukup dan olahraga setengah jam sebelum waktu berbuka juga penting dilakukan. Dan tambahan lainnya adalah tetap melakukan ibadah selama bulan Ramadan agar puasa menjadi lebih berkah. (Dewi Retno untuk Geriatri.id | Foto Pixabay)


 

Lansia,Ramadan,Puasa,Probosuseno,Lansia Puasa,Geriatri

ARTIKEL LAINNYA

AI Lebih ‘Laris' di Kalangan Perempuan Lansia di Jepang

HLUN 2026: Momentum Mewujudkan Indonesia Ramah Lansia

Pengabdian ala Oma Hedy

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026