
Geriatri.id--Perempuan yang tinggal di lokasi dengan tingkat polusi udara tinggi mengalami lebih banyak penyusutan otak daripada wanita yang tinggal di lokasi relatif bersih.
Studi dari American Academy of Neurology dikutip Sciencedaily menemukan bahwa perempuan berusia 70-an dan 80-an yang terpapar polusi udara tingkat tinggi memiliki peningkatan risiko perubahan otak yang terkait dengan demensia dan penyakit Alzheimer selama lima tahun.
Penelitian menunjukkan bahwa racun ini dapat mengganggu struktur atau koneksi otak dan jaringan sel saraf yang berkontribusi pada perkembangan penyakit.
"Volume otak yang lebih kecil merupakan faktor risiko yang berkaitan dengan demensia dan penyakit Alzheimer. Tetapi apakah polusi udara mengubah struktur otak masih diteliti," kata penulis studi Diana Younan, Ph.D., dari University of Southern California di Los Angeles dalam
Penelitian melibatkan 712 wanita dengan usia rata-rata 78 tahun yang tidak mengalami demensia pada awal penelitian.
Peserta memberikan riwayat kesehatan serta informasi tentang ras / etnis, pendidikan, pekerjaan, penggunaan alkohol, merokok, dan aktivitas fisik.
Semua wanita menerima pemindaian otak MRI pada awal penelitian dan lima tahun kemudian.
Peneliti menggunakan alamat tempat tinggal setiap peserta untuk menentukan paparan rata-rata mereka terhadap polusi udara dalam tiga tahun sebelum pemindaian MRI pertama.
Mereka kemudian membagi peserta menjadi empat kelompok yang sama. Kelompok terendah terpapar rata-rata 7 sampai 10 mikrogram polusi partikel halus per meter kubik udara.
Kelompok tertinggi terpapar rata-rata 13 hingga 19 mikrogram polusi partikel halus per meter kubik udara.
Badan Pencemaran Lingkungan (EPA) AS menganggap paparan aman tahunan rata-rata hingga 12 mikrogram polusi partikel halus per meter kubik udara.
Peneliti menggunakan alat pembelajaran mesin untuk mengukur tanda-tanda penyakit Alzheimer di otak.
Alat itu telah dilatih untuk mengidentifikasi pola penyusutan otak yang spesifik untuk peningkatan risiko penyakit Alzheimer dengan membaca pindaian otak penderita penyakit tersebut.
Pemindaian otak MRI peserta pada awal penelitian dan lima tahun kemudian diberi skor berdasarkan kemiripannya dengan pola penyakit Alzheimer yang diidentifikasi oleh alat itu, khususnya perubahan otak di daerah yang ditemukan rentan terhadap penyakit Alzheimer.
Skor berkisar dari nol hingga satu. Skor yang lebih tinggi menunjukkan lebih banyak perubahan otak.
Secara keseluruhan, skor perempuan berubah dari 0,28 pada awal penelitian menjadi 0,44 lima tahun kemudian.
"Temuan kami memiliki implikasi kesehatan masyarakat yang penting, karena kami tidak hanya menemukan penyusutan otak pada wanita yang terpapar polusi udara tingkat tinggi, kami juga menemukan itu pada wanita yang terpapar polusi udara lebih rendah daripada yang dianggap aman oleh EPA," kata Younan.
"Sementara lebih banyak penelitian diperlukan, upaya federal untuk memperketat standar paparan polusi udara di masa depan dapat membantu mengurangi risiko penyakit Alzheimer pada populasi kita yang lebih tua."
Keterbatasan penelitian termasuk bahwa hanya melihat otak wanita yang lebih tua, jadi hasilnya mungkin tidak sama untuk pria atau wanita yang lebih muda.
Penelitian itu juga hanya memeriksa polusi partikel halus regional, bukan sumber polusi lain seperti emisi lalu lintas.
Para peneliti juga tidak dapat memperkirakan paparan partisipan terhadap polusi partikel halus di usia paruh baya dan dewasa muda karena data nasional tidak tersedia untuk tahun-tahun tersebut.***(ymr)
*Foto Pixabay
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri