Opa, Oma, Yuk Mengenal Grand Parenting


Berita Lansia - Mendidik cucu memang berbeda dengan saat mereka mendidik anak-anak mereka

2020-07-17 14:48:06

Geriatri.id - Istilah parenting selama ini sudah banyak dikenal oleh kalangan pasangan muda sebagai ilmu tentang bagaimana mengasuh anak dalam keluarga.

Namun tak banyak yang mengenal grandparenting. Istilah ini muncul dari fakta bahwa dalam keluarga, terutama keluarga modern dimana kedua orang tua bekerja, kakek-nenek juga akhirnya dilibatkan dalam pengasuhan anak.

"Grandparenting secara sederhana diartikan kakek-nenek menggantikan pola asuh sementara atau jangka yang panjang," kata Praktisi Mindful Parenting Melly Amaya Kiong, kepada Geriatri.id.

Bagi grandparents, atau kakek-nenek, mendidik cucu memang berbeda dengan saat mereka mendidik anak-anak mereka. "Untuk masanya, sekarang memang berbeda dengan dulu, jadi butuh penyesuaian.

Penyesuaian terjadi kalau grandparents mau mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dibutuhkan oleh generasi cucunya," jelas Melly.

Grandparents tidak mengklaim dirinya mengerti pola asuh anaknya terhadap cucunya.

Kakek-nenek terkadang memiliki pandangan berbeda antara anak dengan cucunya.

"Sama anak, mereka mendidik, sementara sama cucu apa saja boleh. Ini nggak bisa dilakukan, kakek-nenek harus adil," jelas Melly.

Kakek-nenek juga perlu memberikan literasi karakter kepada cucunya. Perlu disadari, kakek-nenek juga menjadi model dari pengembangan karakter cucu.

"Kita menjadi model gaya kita kepada cucu kita supaya mereka merekam yang baik, apa yang mau direkam kalau kita tidak mau menjadi pendengar, teriak-teriak, tidak mampu menahan emosi, karakter ini bisa dicontoh oleh cucu kita," ujar Melly.

Dalam konteks terjadi perceraian orang tua misalnya, pasti ada penderitaan dari seorang anak, dia tidak bisa bersama dengan kedua orang yang dicintainya.

Kehadiran kakek-nenek tidak bisa menggantikan sepenuhnya. Tetapi ketika anak haus akan perhatian, didengarkan, muncul kakek-neneknya untuk mendampingi, maka, meski tidak bisa menggantikan posisi orang tuanya, cucu akan tetap merasa dicintai. 

"Anak kan ingin diperhatikan, dicintai, kalau pundi-pundi dicintai itu ada maka anak akan dilengkapi.

Penting bagi lansia untuk merasa bahagia dalam hidupnya.

Sebelum lansia bahagia, dia akan sulit mentransformasi rasa bahagia ke anak cucunya.

Inilah kenapa saya ingin membuat lansia bahagia di usia senja. Kalau lansia sudah selesai dengan dirinya dia bisa menerapkan," pungkas Melly.*** (mag)

Lansia bersama cucu. (pikist)

lansia,lansia sehat,merawat lansia,kesehatan mental lansia,grandparenting,berita lansia,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Pemerintah Dorong “Care Economy” untuk Lansia

Ketika Lansia Diajak Jalan-Jalan di HLUN 2026

Industri Robot Lansia di China Kian Melaju

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026