
GERIATRI.CO.ID - Melihat anggota keluarga yang dirawat tidur terus-menerus sering kali membuat caregiver serba salah—di satu sisi merasa kasihan jika dibangunkan, tapi di sisi lain ada rasa khawatir kalau-kalau ada masalah kesehatan yang tersembunyi.
Berikut langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan untuk menyikapi kondisi ini:
Cari Penyebabnya Terlebih Dahulu
Sering tidur bisa disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya efek samping obat, yang memiliki efek kantuk berat. Juga pada kondisi medis tertentu (seperti demensia stadium lanjut, pasca-stroke, penyakit ginjal, atau kanker), tubuh pasien memang membutuhkan lebih banyak energi untuk sekadar bertahan hidup.
Atau bisa jadi si pasien hanya menunjukkan tanda lemas luar biasa dan tidur melulu, sebagai akibat dari infeksi saluran kemih (ISK) atau pneumonia.
Yang juga patut "dicurigai" adalah sang pasien mengalami depresi atau kebosanan. Ia merasa terisolasi, sedih, atau tidak memiliki kegiatan bisa menggunakan tidur sebagai cara melarikan diri dari rasa bosan/sedih. Atau, apakah malam hari ia sering terbangun, gelisah, atau mengalami sleep apnea (henti napas sejenak saat tidur), sehingga ia mengidap kualitas yang tidak sehat pada malamnya.
Perhatikan "Tanda Bahaya"
Perlu segera menghubungi dokter atau membawa pasien ke fasilitas kesehatan, jika tidur melulu ini disertai tanda-tanda berikut: (1) sangat sulit dibangunkan, (2) kesadaran menurun/bingung, atau (3) ada perubahan fisik mendadak seperi demam, bibir/kuku kebiruan, napas terengah-engah/sesak, atau menolak makan dan minum sama sekali hingga dehidrasi.
Tindakan Taktis untuk Caregiver
Jika kondisi fisiknya stabil (napas normal, tidak demam, dan masih bisa dibangunkan untuk makan/minum), lakukan penyesuaian berikut:
- Buat jadwal dan rutinitas harian. Bantu tubuh pasien mengenali ritme sirkadian (jam biologis). Buat jadwal tetap untuk bangun, makan, minum obat, dan mandi setiap hari.
- Optimalkan pencahayaan. Pada pagi dan siang hari, buka tirai jendela lebar-lebar agar sinar matahari masuk. Cahaya terang membantu menekan hormon melatonin (hormon tidur) dan memberi sinyal pada otak bahwa ini adalah waktu untuk beraktivitas.
- Ajak beraktivitas ringan secara bertahap. Jangan langsung mengajak aktivitas berat. Coba beri stimulasi sederhana.
- Duduk bersama di teras sebentar untuk menghirup udara segar. Dengarkan musik kesukaannya atau ajak berbincang ringan. Atau berikan pijatan lembut di tangan atau kaki.
- Cukupi asupan nutrisi dan dehidrasi. Dehidrasi ringan saja bisa membuat lansia atau orang sakit terasa sangat lemas dan mengantuk. Pastikan asupan air putih dan gizi harian tetap terpenuhi saat ia terbangun.
- Jaga keamanan posisi tidur. jika pasien memang harus banyak berbaring, ingat untuk mengubah posisi badannya setiap 2 jam sekali (miring kanan, terlentang, miring kiri) agar kulitnya tidak lecet/luka tekan (dekubitus).
Catat dan Konsultasikan ke Dokter
- Buat catatan kecil mengenai pola tidurnya selama beberapa hari. Misalnya berapa jam total ia tidur dalam sehari, apakah ada obat baru yang baru saja ia konsumsi, atau apakah ia masih mau makan dan minum saat dibangunkan?
- Bawa catatan ini saat konsultasi berikutnya. Dokter dapat melakukan penyesuaian dosis obat, tes darah, atau evaluasi medis lainnya untuk memastikan penyebab pasti dari rasa kantuk yang berlebihan tersebut. (a2s)
======
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri