Pentingnya Pendamping Bagi Lansia Penderita Demensia


Berita Lansia - Peran pendamping menjadi sangat penting bagi lansia penderita demensia

2020-06-29 22:34:41

Geriatri.id - Penderita demensia, umumnya memang akan sangat bergantung pada keluarga. Pasalnya, akibat demensia, banyak penderita yang kerap mengalami kebingungan, kesulitan mengingat, mengukur jarak, hingga tak jarang, penderita demensia mengalami cedera misalnya akibat menabrak cermin saat berjalan, atau menumpahkan air panas.

"Karena itu peran pendamping menjadi sangat penting bagi penderita demensia," kata dr. Yudo Murti Mupangati, Sp.PD., K-Ger, dalam acara Kelas Lansia Online bertajuk 'Mengenal Demensia Pada Lansia', yang diselenggarakan oleh Geriatri.id dan PB Pergemi, Jumat (26/6).

Pendamping dalam hal ini tidak melulu berarti perawat atau caregiver yang dipekerjakan mendampingi lansia. Pendamping biasa juga dari anggota keluarga bahkan tetangga di sekitar tempat tinggal lansia penderita demensia.

"Beberapa dinas kesehatan provinsi memberikan saran adanya pendampingan dari tetangga kalau memang lansia hidup sendirian," jelas dr. Yudo.

Selain untuk menjaga keselamatan fisik lansia, pendamping sangat penting agar lansia dengan demensia mampu menjalani hidup yang berkualitas. "Karena keterbatasan dan ganguan fungsi kognitif atau mengalami pikun patologis, penderita demensia harus didampingi, harus ada caregiver, supaya misalnya kalau dapat obat, agar lansia tidak salah dosis atau over dosis, lupa sudah minum obat, kemudian minum lagi, karena itu menjadi sangat perlu ada pendamping," paparnya.

Jika anda lansia dengan demensia, dr. Yudo menyarankan agar tidak ragu menyatakan pada anggota keluarga bahwa anda membutuhkan pendamping. "Bisa memanggil anak minta ditemani, dan sebagainya," ujarnya.

Keberadaan pendamping sangat baik untuk memastikan keselamatan lansia. "Karena misalnya, penderita demensia umumnya kerap salah memperkirakan jarak, jadi bisa nabrak sesuatu, bisa menyebabkan jatuh.

Kalau jatuh biasanya lansia menjadi cuma tiduran saja, atau imoblitas. Kalau tiduran terus jadi ada luka di tubuhnya atau decubitus atau luka infeksi bertambah. Ini akan menjadi lingkaran setan, karena lansia bisa demam, tak mau makan kondisi makin lemah, dan seterusnya," tegas dr. Yudo.

Keluarga juga perlu memiliki perhatian pada lansia yang tinggal dengan mereka. "Gejala demensia terjadi perlahan-lahan biasanya kurang disadari oleh anggota keluarganya. Karenanya bagi keluarga penting mendapatkan informasi tentang demensia untuk mengantisipasi perlunya pendamping," pungkas dr. Yudo.***(mag)

Ilustrasi - Pendamping lansia.(piqsels)

lansia,lansia sehat,merawat lansia,geriatri,demensia,caregiver,dr yudo,berita lansia,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026