
Geriatri.id - Di Indonesia, lansia pada umumnya mulai memasuki masa pensiun di usia 57 tahun. Apa yang bisa terjadi pada lansia di usia pasca pensiun ini? "Kalau kemampuan mental dan kognisinya baik sejak sebelum masa pensiun, maka saat masuk masa pensiun dia akan masuk masa pensiun yang baik," kata Psikolog Dra.Lenny Kendhawati, M.Si pada acara webinar bertajuk: 'Sabtu Bersama Perkembangan' yang dihelat Prodi Psikologi Perkembangan Unpad, Sabtu (20/6).
Kemampuan mental dan kognisi yang baik, akan mendorong lansia memiliki kegiatan yang bersifat kontributif. Lenny mengatakan, lansia akan lebih bermakna kalau dia punya kegiatan yang bersifat kontributif. "Yang terdekat, kalau misalnya dia pensiun, tidak punya aktivitas yang lain, dia bisa memberikan kontribusi ke komunitasnya, misal pensiun jadi ketua RT, jadi pengurus PKK, pengurus pengajian, pengurus arisan, kegiatan yang ada di lingkungan yang bisa dilakukan di hari Sabtu, Minggu, atau sore hari," jelasnya.
Lenny memaparkan, lansia di Indonesia, tidak banyak ditemukan mengalami kesepian, karena kebanyakan lansia di Indonesia tinggal dengan keluarga besarnya, seperti dengan anaknya, dengan adiknya, dengan keluarga besar yang lain. "Lansia di Indonesia juga masih bersosialisasi dengan lingkungannya. Seringkali pada usia ini kerjanya reuni saja, reuni SD, SMP, SMA, mahasiswa," ujar Lenny.
Bahkan, kelompok lansia di Indonesia mampu melakukan banyak sekali kegiatan yang mengalahkan kita yang bekerja. "Hari ini ada pengajian dengan ibu ini, kegiatan memasak, setiap minggu, dua kali dalam seminggu berkegiatan dengan kelompoknya," paparnya.
Lenny mengatakan, dia sendiri pernah melakukan wawancara dengan kurang lebih 26 orang dan 20 responden di antaranya ada yang berusia di atas 60 dan selebihnya dari kelompok usia 70-79 tahun, terkait kegiatan di masa pandemi yaitu di masa sebelum dan saat melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Dari hasil wawancara itu, diketahui yang terjadi pada lansia di masa pandemi, yaitu perasaan yang muncul tadinya memang sangat kental sekali di minggu pertama dan kedua, yakni perasaan takut, khawatir, dan cemas, tinggi sekali. "Karena berita sangat banyak, lansia menjadi salah satu golongan yang berisiko tinggi, maka proteksi anak cucu dan lingkungan sangat besar, mereka menjadi merasa takut, khawatir," jelas Lenny.
Semua kecemasan kekhawatiran sangat tinggi, bosan, tidak menentu perasaannya. "Karena sebetulnya pada dasarnya sudah tinggal di rumah, ada juga yang berkegiatan, tapi karena ini adalah kejadian di luar kendali kita dan semua orang di seluruh dunia juga mengalami, kecemasan semakin berkurang," ujarnya.
Kuncinya, kata Lenny, ikhlas. "Ini sudah masanya, saya tidak bisa beribadah, pergi ke rumah peribadatan, tidak bisa dikunjungi cucu setiap saat, pergi belanja ke supermarket, sekadar kuliner jajan sama pasangan tidak bisa, tapi dengan melihat bahwa kondisi ini tidak hanya dialami oleh mereka sendiri, mereka bisa menjalaninya. Apakah masih ada perasaan takut atau khawatir? Masih, tapi tidak besar," jelas Lenny.
Biasanya perkembangan emosi lansia sudah pada tahap, di ujung itu mereka sudah mulai memikirkan kematian. Walaupun kematian tidak terbatas pada lansia, minat terhadap kematian meningkat pada lansia. "Saya meninggal bagaimana, cara saya supaya bisa meninggal di jalan Tuhan dan sebagainya, hal seperti itu menata keikhlasan mereka," pungkasnya. (mag)
foto: ilustrasi lansia berkegiatan sosial (pxhere)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri