Memahami Hipertensi (6): Kapan Perlu Pemeriksaan Lebih Lanjut?


Tidak ada sensasi “sakit” yang terasa. Kerusakan pun berlangsung diam-diam namun pasti.

2026-05-18T10:41

Oleh dr. Fatihah Fikriyah

Geriatri - Hipertensi atau tekanan darah tinggi sering disebut sebagai “pembunuh senyap” atau "the silent killer". Artinya, kondisi ini sering muncul tanpa gejala yang jelas, tetapi bisa perlahan merusak tubuh jika tidak disadari sejak awal. Banyak orang merasa baik-baik saja, padahal tekanan darahnya sudah tinggi.

Tekanan darah sendiri adalah tekanan atau dorongan darah saat mengalir di dalam pembuluh darah. Selama tekanannya normal, tubuh bisa bekerja dengan baik. Namun, jika tekanan darah terlalu tinggi dan berlangsung lama, organ penting seperti jantung, ginjal, dan otak bisa ikut terdampak.

Karena itu, hipertensi bukan hanya soal angka di alat tensi. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak hal, seperti pola makan, kebiasaan sehari-hari, usia, dan penyakit lain yang mungkin dimiliki. Itulah sebabnya penting untuk memeriksa tekanan darah secara rutin dan menjaga gaya hidup tetap sehat.

Untuk memahami hipertensi lebih mendalam, kita perlu mengenal tipe-tipe utamanya.

1. Hipertensi Primer (Esensial)

Tipe yang Paling Banyak Ditemui. Sekitar 90–95% kasus hipertensi termasuk dalam kelompok ini. 

Pada hipertensi primer, tidak ada penyebab tunggal yang jelas. Kondisi ini merupakan hasil kombinasi berbagai faktor yang saling memengaruhi, seperti:
• Penuaan dan penurunan elastisitas pembuluh darah
• Faktor genetik atau riwayat keluarga
• Konsumsi garam berlebih
• Kurangnya aktivitas fisik
• Obesitas
• Stres kronis
• Kebiasaan konsumsi alkohol dan merokok

2. Hipertensi Sekunder

Terjadi Karena Penyebab Medis yang Jelas.

Berbeda dengan hipertensi primer, hipertensi sekunder memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi dengan jelas. Kondisi ini terjadi akibat gangguan medis atau konsumsi obat tertentu yang memengaruhi tekanan darah. Beberapa penyebab yang umum antara lain:
• Penyakit ginjal
• Kelainan kelenjar adrenal
• Penyempitan arteri ginjal
• Sleep apnea
• Hipotiroid atau hipertiroid
• Konsumsi obat tertentu, seperti kontrasepsi hormonal, obat flu dekongestan, atau steroid

Pada hipertensi sekunder, tekanan darah sering meningkat lebih cepat dan bisa lebih sulit dikendalikan hanya dengan perubahan gaya hidup. Namun kabar baiknya, jika penyebab utamanya berhasil ditemukan dan diatasi, tekanan darah dapat membaik secara signifikan.

3. Hipertensi Maligna

Ini adalah bentuk hipertensi yang jarang, namun bersifat darurat. Pada hipertensi maligna, tekanan darah meningkat sangat cepat hingga menimbulkan kerusakan organ dalam waktu singkat. Biasanya tekanan darah mencapai ≥180/120 mmHg.

Pada kondisi ini, pembuluh darah dapat rusak mendadak, dan penderita sering mengalami gejala berat seperti:
• Sakit kepala hebat
• Sesak napas
• Penglihatan kabur atau ganda
• Mual atau muntah
• Nyeri dada

Jika tidak segera ditangani, hipertensi maligna dapat menyebabkan stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung dalam hitungan jam hingga hari. Karena itu, kondisi ini memerlukan penanganan segera di fasilitas medis.

4. Hipertensi Resisten. 

Tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan.

Hipertensi disebut “resisten” apabila tekanan darah tetap tinggi meski penderita sudah mengonsumsi minimal tiga jenis obat antihipertensi dalam dosis yang cukup, termasuk satu di antaranya adalah diuretik. Kondisi ini sering berhubungan dengan:
• Obesitas
• Penyakit ginjal
• Sleep apnea
• Diabetes
• Konsumsi garam berlebih
• Tidak patuh mengonsumsi obat

Meski tampak menantang, sebagian besar hipertensi resisten tetap dapat dikontrol dengan pendekatan yang tepat, kombinasi terapi, serta evaluasi menyeluruh terhadap gaya hidup dan faktor medis lain yang menyertainya.

Mengapa Hipertensi Sering Tidak Bergejala?

1. Tekanan Naik Perlahan, Tubuh Menyesuaikan Tanpa Kita Sadari

Sebagian besar hipertensi berkembang tidak mendadak, tidak dalam hitungan hari, tetapi bertahun-tahun. Karena meningkat perlahan maka:
• Jantung bekerja sedikit lebih keras setiap hari, tapi masih kuat menahan.
• Pembuluh darah menebal pelan-pelan untuk menahan tekanan.
• Organ tubuh belajar beradaptasi dan lama-lama tubuh menganggap kondisi abnormal ini sebagai “normal baru”.

2. Tidak Ada Saraf Nyeri di Pembuluh Darah

Tidak ada sensasi “sakit” yang terasa. Kerusakan pun berlangsung diam-diam namun pasti.

3. Sensor Tekanan Tubuh Ikut Beradaptasi

Jika tekanan tinggi berlangsung terus menerus terlalu lama, baroreseptor ikut “menyetel ulang”. Tekanan yang tinggi dianggap normal sehingga tidak ada lagi sinyal peringatan.

Gejala Hipertensi

Gejala yang kadang berkaitan dengan hipertensi misalnya:
• Pusing atau kepala terasa berat
• Pusing berputar
• Badan cepat lelah
• Mimisan
• Dada berdebar atau terasa sesak

Sebagian besar gejala hipertensi baru terasa setelah terjadi kerusakan di organ.

Kapan dan Seberapa Sering Perlu Cek Tekanan Darah?

1. Usia ≥ 40 Tahun atau Punya Risiko Tinggi

Setidaknya sekali setahun. Termasuk kategori risiko tinggi:
• Obesitas
• Riwayat keluarga hipertensi
• Kurang aktivitas fisik
• Perokok
• Pola makan tinggi garam
• Diabetes atau kolesterol tinggi

2. Usia 18–39 Tahun Tanpa Faktor Risiko

Pemeriksaan setiap 3–5 tahun.

3. Sudah Didiagnosis Hipertensi

• Kontrol pertama: 1–2 bulan setelah mulai obat
• Setelah stabil: setiap 3–6 bulan

Mengelola Tekanan Darah

Mengelola tekanan darah adalah kombinasi:
• cek tekanan darah rutin
• perubahan pola hidup sehat
• obat bila diperlukan

Dengan pendekatan ini, hipertensi dapat dikendalikan sehingga kita tetap hidup aktif, sehat, dan produktif hingga usia lanjut.

=====

Daftar Pustaka

1. Carretero, O. A., & Oparil, S. (2000). Essential Hypertension: Part I: Definition and Etiology. Circulation, 101(3), 329–335.
2. Whelton, P. K., Carey, R. M., Aronow, W. S., et al. (2018). 2017 ACC/AHA Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults. Journal of the American College of Cardiology, 71(19), e127–e248.
3. Beevers, G., Lip, G. Y. H., & O’Brien, E. (2001). ABC of Hypertension: The Pathophysiology and Epidemiology of Hypertension. BMJ, 322(7292), 912–916.
4. Hall, J. E., & Guyton, A. C. (2021). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology (14th ed.). Elsevier.
5. James, P. A., Oparil, S., Carter, B. L., et al. (2014). Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults. JAMA, 311(5), 507–520.
6. Mancia, G., Fagard, R., Narkiewicz, K., et al. (2013). ESH/ESC Guidelines for the Management of Arterial Hypertension. Journal of Hypertension, 31(7), 1281–1357.
7. Kearney, P. M., Whelton, M., Reynolds, K., et al. (2005). Global Burden of Hypertension: Analysis of Worldwide Data. Lancet, 365(9455), 217–223.
8. WHO (World Health Organization). (2021). Hypertension: Key Facts.
9. American Heart Association (2022). Understanding Blood Pressure Readings.
10. Alhabeeb, W., Tash, A. A., Alshamiri, M., dkk. (2023). National Heart Center / Saudi Heart Association Guidelines on the Management of Hypertension. Journal of the Saudi Heart Association.
11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/2090/2023 – Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pelayanan Skrining Kesehatan.
12. “Hipertensi Disebut sebagai Silent Killer, Menkes Budi Imbau Rutin Cek Tekanan Darah.” Sehat Negeriku, Kementerian Kesehatan RI.

hipertensi,tekanan darah tinggi,lansia sehat,merawat lansia

ARTIKEL LAINNYA

Persiapan Menuju Masa Lansia

Jangan Lupa: Hari Buku Nasional 2026

Hari Hipertensi Sedunia: Jaga Hidup Lebih Sehat

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026