
Geriatri.id - Masa pandemi Covid-19 ini merupakan masa-masa yang mengubah kehidupan hampir seluruh manusia. Yang tadinya bisa beraktivitas bebas, demi memutus rantai pandemi, kini harus saling menjaga jarak sosial dan jarak fisik. Tinggal di rumah, dan hanya beraktivitas di luar rumah manakala perlu saja. Ketika masa pembatasan sosial dilonggarkan pun, kita masih perlu beradaptasi dengan kebiasaan baru dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Nah, bagaimana lansia bisa beradaptasi pada situasi seperti ini? Psikolog Dra.Lenny Kendhawati, M.Si, mengatakan, jika merujuk kepada WHO, maka usia lansia dimulai sejak usia 60 tahun dan terbagi dalam beberapa penggolongan. Pertama usia 60-74 tahun yang disebut lanjut usia. Kedua, usia 75-90 tahun yang digolongkan lansia sangat tua. Ketiga, lebih dari 90 tahun.
Lenny mengatakan, mengutip Cicirelli (2002), kelompok lansia berusia 65-74 tahun, lebih mirip dengan kelompok usia dewasa tua dibandingkan lansia. "Pada usia ini kebanyakan mampu hidup mandiri dan masih bekerja meskipun lebih banyak untuk kesenangan ketimbang memenuhi kebutuhan hidup," ujarnya, pada acara webinar bertajuk: 'Sabtu Bersama Perkembangan' yang dihelat Prodi Psikologi Perkembangan Unpad, Sabtu (20/6).
Pada usia tersebut, terang Lenny, orang kebanyakan masih menjalani aktivitas fisik dan sosialisasi layaknya kelompok usia dewasa. "Masih senam bersama, masih touring, live dance, bersepeda bersama teman-teman, sosialisasi yang lain," ujarnya.
Sementara lansia berusia 75-84 lebih mengalami banyak keterbatasan untuk beraktivitas secara fisik, biasanya akibat penyakit kronis. "Beberapa mengalami kesulitan mendengar yang mempengaruhi aktivitas sosialisasinya. Lebih banyak perempuan pada usia ini yang tinggal sendiri karena pasangannya meninggal dunia," kata Lenny.
Kemudian lansia di atas 85 tahun, biasanya membutuhkan bantuan pengasuhan jangka panjang, sehingga harus tinggal dengan keluarga terdekat ataupun di panti wreda. Secara fisik, lansia sendiri sudah mengalami penurunan fisik sejak usia 60 tahun, sehingga sangat mempengaruhi aktivitas sosialnya.
"Misal karena memiliki kesulitan mendengar, maka lebih terbatas untuk bisa beraktivitas sosial. Perempuan mungkin lebih panjang usianya sehingga lebih banyak tinggal sendiri atau ditinggal oleh pasangan," papar Lenny.
Apa kaitan antara usia ini dengan adaptasi kehidupan sosial di era pandemi? Mengutip Erikson, Lenny menjelaskan, apa yang sudah dicapai di usia tertentu, maka dia akan memasuki tahap berikutnya. "Kalau dia bisa percaya pada yang mengasuh, bisa berkembang ke tahap selanjutnya. Pada fase integrity versus despair ini, ada dorongan untuk lansia memaknai tujuan hidupnya, sampai apa yang sudah dia lakukan," jelas Lenny.
Jika lansia bisa melakukan penerimaan, mendapatkan kepuasan, tenggang rasa, akan melahirkan integritas pada lansia. Jika di usia lansia, yang timbul adalah kebencian, tidak puas pada kehidupan, kekecewaan, maka akan menimbulkan putus asa.
Pada diri lansia, menurut continuity theory, ada internal structure dan external structure. Kedua faktor ini menentukan bagaimana orang bisa beradaptasi pada pencapaian tujuannya.
"Internal structure terdiri dari personality, ide-ide, belief, dan itu biasanya menetap sepanjang hidupnya. Dan itu menjadi dasar untuk menetapkan tujuan hidup dan menjadi fondasi, internal structure pada masa lalunya," papar Lenny.
Sementara, external structure terdiri dari relasi dia, bagaimana dia berhubungan dengan orang lain, peran sosial yang dia jalankan, yang mendukung self concept dan lifestyle. "Cara pandang lansia pada dirinya tidak jauh berbeda dengan dia muda dulu, pendekatan dalam melihat masalah dan memandang situasi tidak berubah, hanya tubuh yang menua, sehingga ingin mempertahankan identitas yang sama meskipun peran tidak berubah," pungkasnya. (mag)
foto: ilustrasi lansia beraktivitas (piqsels)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri