
Geriatri.id - Membangun rasa saling percaya antara anak dan orangtua adalah hal yang banyak diharapkan dari sebuah keluarga. Dengan membangun rasa saling percaya, orang tua dan anak, maka akan terbangun sikap anak yang mandiri, menghargai peraturan, kesepakatan di rumah maupun di masyarakat, dan yang terpenting anak akan mampu menghargai dirinya sendiri.
Masalahnya, membangun rasa saling percaya ini memang tak mudah. Para orang tua harus memulai dahulu untuk mendapatkan kepercayaan dari anak. "Bagaimana orang tua mendapatkan kepercayaan dari anaknya? "Lakukan apa yang kita ucapkan, dan lakukan dengan konsistensi," kata Parlindungan Marpaung, Psikolog yang juga seorang motivator, pada sesi berbagi melalui daring, Rabu (17/6) lalu.
Untuk bisa secara konsisten melakukan apa yang diucapkan, orang tua harus mampu menuntut diri sendiri untuk bersikap konsisten. "Jadi dengan begitu kita akan terus-menerus meningkatkan kualitas diri kita," tegasnya.
Berita Lansia:
LANSIA ONLINE, Kelas Kesehatan dari Rumah
Bila Lansia Sakit, Begini Cara Tepat Merawatnya
3 Kunci Sukses Agar Lansia Sehat, Apa Saja?
Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia Tanpa Kerentaan
Ketika mampu konsisten melakukan apa yang diucapkan, maka kemudian anak akan melihat adanya keteladanan dari orang tua dan akan menaruh kepercayaan kepada orang tua. "Saya percaya kepada anda, apa yang kita lakukan dan saya melihatnya, saya melihat keteladanan," papar Parlin.
Trust memang harus dibangun dengan konsistensi dan bukan dengan tindakan sekali saja. "Mengapa orang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain? Mengapa orang tidak menerima kepercayaan? Karena dia tidak yakin bahwa orang itu bisa melakukannya," papar Parlin.
Dalam banyak hal, kegagalan orang tua membangun rasa saling percaya pada anak juga terjadi karena orang tua tidak memberikan kepercayaan itu kepada anak. "Anda sebagai orang tua bekerja sendirian, karena ketidakmampuan mendelegasikan kepada orang lain. Saya merasa diri saya bisa melakukannya sendiri, karena saya tidak mau kehilangan popularitas, kehilangan kewenangan. Karena jika mempercayakan kepada orang lain, seolah kehilangan popularitas," jelas Parlin.
Karena sikap itu, anak seringkali kemudian menjadi manusia yang rentan kehilangan rasa percaya diri. Merasa tidak mampu, merasa tidak bisa dipercaya. "Belum apa-apa, merasa tugas ini berat, merasa ada orang lain yang lebih mampu daripada dia," kata Parlin.
Karena itu, orang tua selain memberikan keteladanan juga perlu memberikan keprcayaannya kepada anak, sehingga terbangun rasa saling percaya dan kemudian rasa percaya diri pada anak. Keteladanan menjadi kunci karena saat ini banyak orang yang pandai namun sulti dipercaya. "Orang pintar banyak, tapi yang bisa dipegang kata-katanya sangat sedikit," pungkasnya.***
foto: ilustrasi trust (flickr)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri