
Geriatri.id - Seperti sudah diulas sebelumnya, brainspotting merupakan salah satu bentuk terapi utnuk mengatasi trauma dan emosi negatif lain dengan mengandalkan mata. Apakah metode ini bisa dilakukan untuk mengatasi trauma pada lansia?
"Untuk terapi lansia, jika merujuk pada jurnal ilmiah, memang belum ada mengenai geriatri, tetapi di lapangan, Braibrainspotting Internasional Group, itu sudah ada, juga pasien di Psycoach ada juga pasien geriatri," kata Ine Indriani, M.Psi, Psikolog, yang juga Trainer dan Leader Brainspotting Indonesia, kepada Geriatri.id.
Ine mengatakan, terapi brainspotting berpotensi menjadi terapi yang lebih efektif bagi lansia.
Baca Juga: Kenali Tanda Sarcopenia, Ukuran Otot Mengecil hingga Penurunan Keseimbangan
Karena dengan brainspotting, pasien tidak perlu banyak bercerita tentang pengalaman traumatiknya. Kedua, terapi brainspotting memberikan memberikan perhatian lebih kepada klien, dan berelasi kepada klien.
"Klien bereaksi apapun, kita perlu follow. Kita mengikuti respon neurobiologis klien, kita terima apapun itu," jelasnya.
Dalam konteks lansia, mereka lebih senang diikuti, diperhatikan dan tidak di -challange.
"Kita sebagai terapis harus mengikuti klien kalau klien belum siap dibrainspot kita nggak bisa melakukannya, jadi ada empati, perhatian dengan dia, perlu merefleksikan apa yang dia katakan, mengikuti reaksi dia," papar Ine.
"Untuk kasus geriatri, dari pengalaman praktik kami, biasanya kasus insomnia. Yang menarik dari brainspotting, bisa jadi pendamping penyakit, entah itu stroke, diabetes, cancer, itu sebagai pendamping karena kita mempercayai bahwa mind and body integrated, ketika memiliki penyakit tertentu, maka emosinya berpengaruh misal ada yang tangannya kaku-kaku, itu bisa dibantu, membantu (penyembuhan) stroke, ternyata strokenya jadi lebih baik, lebih bisa ngomong, selain obat juga," jelas Ine.
Dia mengatakan, ada teori yang menyatakan bahwa penyakit terkait dengan emosi tertentu, atau penyakit tertentu akan mempengaruhi emosi kita.
Di geriatri, orang dengan darah tinggi misalnya, jika mendapat berita buruk, darah tinggi naik atau kada gula bertambah.
"Banyak kasus terapi bagi lansia yang kami tangani seperti insomnia, kehilangan, unfinished business dengan pasangan, penyakit pendamping seperti stroke, penyakit diabetic, cancer, dan sebagainya," kata Ine yang menjadi terapis brainspotting sejak 2014 ini.***(mag)
Ilustrasi - Pixabay
Video Lansia Terbaru:
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri