
Geriatri.id - Brainspotting adalah teknik psikoterapi yang bertujuan mengatasi trauma dan emosi negatif lain dengan mengandalkan mata untuk masuk ke area bawah sadar subkortikal (struktur otak yang bertanggung jawab mengatur fungsi dalam sistem motorik, seperti dalam kinerja keterampilan sosial atau dalam pengaturan emosi).
Metode ini ditemukan seorang psikoterapis David Grand, PhD., pada tahun 2003 silam.
Ine Indriani, M.Psi, Psikolog, yang juga Trainer dan Leader Brainspotting Indonesia mengatakan, brainspotting adalah sebuah metode 'brain-body integrated based' terapi dengan menggunakan posisi mata (eye position).
Baca Juga: Kenali Tanda Sarcopenia, Ukuran Otot Mengecil hingga Penurunan Keseimbangan
"Kenapa eye position, bukan talk atau ucapan? Karena David Grand menemukan bahwa mata memiliki akses ke bawah sadar, sub koritkal," ujarnya kepada Geriatri.id.
Posisi mata memiliki kaitan dengan aktivasi emosi yang disebabkan oleh trauma atau masalah emosi yang tersimpan di otak, di area sub kortikal.
Gerak refleks yang terjadi bisa berupa mata yang berkedut, berkedip, pupil melebar, menyempit, alis berkerut, berbagai respons tubuh seperti menguap, batuk, menganggukkan kepala, gerakan tangan atau kaki dan pergeseran tubuh.
Refleks dari ekspresi wajah merupakan indikator kuat dari brainspot.
Dengan brainspotting, terapis menemukan dan melepaskan pengalaman negatif atau berbagai masalah emosi, trauma, dan disosiasi, yang berada di luar area kesadaran, kognitif dan bahasa.
Karena dilakukan melalui area bidang penglihatan, brainspotting dapat menjadi alternatif bagi pendekatan talk therapy (terapi melalui kata-kata) ataupun bagi klien/ pasien yang tidak ingin menceritakan masalahnya secara detail.
"Kenapa nggak pakai talk therapy, karena terapi dengan menggunakan bahasa, melalui proses yang lebih panjang.
Otak yang menyimpan bahasa itu menempuh jangka waktu yang lebih lama ke area subkortikal.
Sedangkan mata memiliki akses lebih cepat dibandingkan bahasa.
"Untuk kasus trauma berat, otak bagian bahasa mengalami shutdown. Karena shutdown, dia tidak bisa mengungkapkan masalahnya dengan kata-kata," jelas Ine.
Singkatnya, brainspotting membantu proses healing tanpa harus berkata-kata.
"Ada klien yang nggak mau cerita, kalau pakai bahasa, klien bisa bilang nggak tahu, karena bisa secara kesadaran dia di-repress (tekan), dengan brainspotting bisa bantu dirilis, tanpa perlu digali dengan bahasa," tambah Ine.
Baca Juga: Mengenal Sarcopenia pada Lansia, Penyebab dan Perawatannya
Lewat brainspotting, dengan menggunakan mindfulness, akan menghasilkan rilis emosi.
"Dengan mindfulness, kita merasakan badan kita, maka otak mengalami regulasi terhadap isu masalah, dirasakan oleh tubuh, sehingga membantu proses healing (penyembuhan)," jelas Ine. (mag)
Foto ilustrasi - Pixabay
Video Lansia Terbaru:
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri