Waspadai dan Kenali Demensia pada Lansia


Berita Lansia - Demensia atau pikun sering dianggap normal pada lansia. Bagaimana ciri dan penanganannya?

2020-06-11 06:05:55

Geriatri.id -  Demensia atau pikun sering dianggap sebagai sesuatu yang normal pada lansia. Proses penuaan memang menyebabkan penurunan pada beberapa sistem tubuh termasuk otak.

Proses penuaan otak normal tidak sampai menyebabkan gangguan fungsi dan penurunan kemampuan berpikir.

Demensia adalah penurunan fungsi daya ingat dan berpikir yang berlangsung kronik dan progresif sehingga menyebabkan gangguan fungsi aktivitas sehari-hari.

Demensia adalah kumpulan penyakit dengan gejala yang mengakibatkan perubahan cara bepikir dan berinteraksi dengan orang lain.

Biasanya orang dengan demesia akan mengalami gangguan memori jangka pendek, pikiran, kemampuan berbicara dan kemampuan motorik.   

Seperti dikutip dari kemkes.go.id, penurunan fungsi pikir biasanya disertai dengan kemunduran pengendalian emosi dan perilaku sosial.

Hal ini menyebabkan demensia sebagai penyebab utama hilangnya kemandirian pada lansia.

Penyakit alzheimer penyebab utama demensia, mencakup 60-70 kasus, sisanya disebabkan oleh stroke (demensia vaskular) atau penyakit lain pada otak.

Siapa yang bisa terkena Demensia?

Demensia dapat terjadi pada segala rentang usia, namun pada umumnya pada usia >60 tahun

Tanda Gejala Demensia menurut tahapannya:

1.    Tahap awal

-    Mudah lupa

-    Lupa waktu

-    Tersesat di tempat yang sudah familiar

2.    Tahap menengah

-    Lupa peristiwa yang baru terjadi dan nama orang

-    Tersesat di rumah sendiri

-    Semakin sulit berkomunikasi

-    Perlu bantuan merawat diri

-    Mengalami perubahan perilaku, termasuk menanya berulang atau berjalan tanpa tujuan

3.    Tahap lanjut


-    Tidak mengenal waktu dan tempat

-    Sulit mengenali kerabat dan teman

-    Semakin perlu dibantu untuk merawat diri

-    Sulit berjalan

-    Mengalami perubahan perilaku yang semakin meningkat, termasuk agresi

 

Seseorang mungkin sedang mengalami demensia bila terjadi pemburukan pada:

1.    Kemampuan mengambil keputusan

2.    3.    Menghadapi masalah dalam orientasi waktu dan ruang

4.    Pemecahan masalah

5.    Kemampuan berbicara (verbal)

 

Perubahan perilaku

1.    Makan

2.    Berpakaian

3.    Kegemaran / hobi

4.    Aktivitas rutin (gangguan melaksanakan kegiatan sehari-hari)

5. Kepribadian (stimulus respon yang tidak sesuai, bermasalah dalam pengendalian emosi)

 

Apa penyebab Demensia?

1.    Intoksikasi (obat, termasuk alkohol)

2.    Infeksi susunan saraf pusat

3.    Gangguan metabolik

4.    Gangguan gizi

5.    Gangguan vesikuler (demensia nulti-infrak dll)

6.    Lesi desak ruang

7.    Hidrosefalus bertekanan normal

8.    Depresi (pseudo-dementia defrensif)

9.    Penyakit degeneratif progresif

  • Penyakit alzheimer
  • Penyakit parkinson
  • Penyakit hantinton
  • Keluhan supranuklear progresif
  • Penyakit degeratif lainnya

Bagaimana merawat orang dengan Demensia?


1.    Peran aktif penderita dalam:

  • Mengobati penyakitnya (tekanan darah tinggi, penyakit parkinson/gemetar karena sakit)
  • Menghindari pemakaian obat yang mempunyai efek samping pada otak dan menghindari situasi yang menekan mental
  • Mengkaji keadaan lingkungan
  • Meningkatkan perbaikan gizi

2.    Mengenali dan mengobati keadaan yang memperberat penyakit

  • Perilaku merusak
  • Gangguan perilaku
  • Perasaan tertekan  atau depresi
  • Inkontinesia (tidak mampu menahan buang air)

3.    Mengupayakan informasi kesehatan bagi penderita dan keluarga

  • Berbagai masalah tentang penyakitnya
  • Kemungkinan kelainan atas gangguan yang terjadi
  • Dugaan sementara terjadinya demensia

4.    Upaya nasehat keluarga

  • Berbagai pelayanan kesehatan masyarakat seperti layanan daycare psikogeriatri
  • Nasehat hukum atau keuangan
  • Pengenalan cara mengatasi konflik keluarga
  • Penanganan rasa marah atau bersalah

Keluarga dengan kegiatan yang dinamis kerap mengalami kesulitan saat mendampingi Orang Dengan Demensia (ODD).

Dibutuhkan dedikasi yang utuh untuk dapat mendampingi ODD. Layanan daycare psikogeritari dapat menjadi pilihan bagi keluarga untuk menjaga kualitas hidup lansia dan keluarga.***(hil)

Foto : freepik.com

geriatri,lansia,demensia,pikun,lansia sehat,lansia bahagia,merawat lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026