
Geriatri.id - Penduduk berusia lanjut (lansia) merupakan kelompok rentan tertular virus COVID-19 sehingga perlu adanya perlindungan sosial.
Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan FISIPOL UGM dan peneliti PSKK UGM, Dr. Mulyadi Sumarto mengatakan, hanya sekitar 13,4 persen lansia yang menerima perlindungan sosial. Secara rinci, 11,13 persen adalah pensiunan ASN, 1,5 persen pensiunan militer, 0,01 persen jaminan hari tua, 0,13 persen PKH, dan 0,64 persen dari program ASLUT (BPS 2019).
Pemerintah telah menggagas beberapa program Jaringan Pengamanan Sosial (JPS) COVID-19, seperti kartu prakerja, bantuan sosial (bansos) tunai, bantuan langsung tunai (BLT) dana desa, program keluarga harapan (PKH), program sembako, bantuan presiden (banpres) sembako Jabodetabek, dan bantuan listrik.
“Di antara bantuan itu, di mana hak sosial lansia? Ada kecenderungan negara ‘agak’ kurang memperhatikan kepentingan lansia di tengah COVID-19. Ada satu program (yang menyertakan lansia), yaitu program keluarga harapan. Tetapi tetap saja tidak ada program khusus untuk lanjut usia di era covid-19,” ujar Mulyadi dalam Web Seminar bertajuk Mereka yang Terlupakan: Lansia dan COVID-19 yang digelar Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM mengadakan pada Jumat, 5 Juni 2020.
Berdasarkan data BPS 2019, sebanyak 41 persen lansia tinggal bersama tiga generasi (anak dan cucu), 27 persen bersama keluarga, 20 persen bersama pasangan, 3 persen lainnya, dan 9 persen tinggal sendiri. “Kita bisa bayangkan bagaimana dalam satu rumah ada tiga generasi. Ini cukup masalah bila kita lihat kenyamanan hidup,” ujar Mulyadi.
Di negara lain, pengobatan lansia dibebankan kepada negara. Sementara di Indonesia, sebagian besar lansia yang sakit berobat dengan biaya mandiri. “Sebagian besar yang sakit mengobati sendiri, dibebankan ke anak dan cucunya untuk biaya pengobatan,” katanya.
Dari sisi kategori lansia pun sedikit berbeda. Di hampir sebagian besar negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand, jaminan perlindungan sosial lansia hanya mensyaratkan usia 60 tahun maka di tanah air jaminan perlindungan sosial lansia berupa Program Bantuan Asistensi Sosial Lanjut Usia Terlantar (ASLUT) diberikan dengan syarat usia 70 tahun.
Direktur Penanggulanan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial, Kementerian PPN, Dr. Maliki, mengatakan pandemi wabah Covid-19 meningkatkan jumlah keluarga jatuh miskin meningkat hingga 55 persen dan yang kelompok masyarakat rentan menjadi miskin jadi 47 persen. Keluarga yang berisiko jadi miskin akan berdampak pada lansia yang selama ini bergantung dengan pasangan maupun anggota keluarga yang terdampak covid.
Jaminan perlindungan sosial dari pemerintah sangat penting agar memastikan masyarakat dapat bisa mengakses fasilitas kesehatan, pelayanan dasar dan pelayanan sosial secara efektif. Ia menyebutkan saat ini sebagian besar hidup dengan kondisi yang sungguh mengkhawatirkan. Ia menyebutkan sekitar 2 juta orang lansia yang berumur di atas 65 tahun hidup miskin.
Dari jumlah tersebut sekitar 1,7 juta lansia tidak bisa hdup mandiri, dan 11,3 persen yang lanjut usia megalami depresi. “Lansia perempuan umurnya lebih panjang dibanding lansia laki-laki meski sehat, namun masih mengkhawatirkan,” katanya.
Di hampir sebagian besar negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand, jaminan perlindungan sosial lansia hanya mensyaratkan usia 60 tahun. Sedangkan maka di tanah air jaminan perlindungan sosial lansia berupa Program Bantuan Asistensi Sosial Lanjut Usia Terlantar (ASLUT) diberikan dengan syarat usia 70 tahun.
Sementara pakar geriatri dari FKKMK UGM, Dr. dr Probosuseno, SpPD-KGer (K)., mengatakan promosi kesehatan hingga tindakan kuratif pada lansia sangat diperlukan sehingga perlu dukungan dari pemerintah dan elemen masyarakat. Salah satu kunci untuk meningkatkan kesehatan kepada para lansia adalah dengan memberikan dukungan bagi lansia untuk menjaga hidup sehat lewat relawan lingkungan dan partisipasi sosial.
Bagi lansia yang tinggal dengan anggota keluarga, kata Probosuseno, diperlukan dukungan berupa kecukupan asupan makanan, menjaga kebersihan, mencipatakan kondisi lingkungan yang menyenangkan bagi lansia.
“Lingkungan yang saling menyayangi sangat penting selain mengajak lansia untuk kontrol kesehatan rutin, selalu bergembira namun tetap berkarya dengan rajin baca tulis,” kata Probosuseno.***(ymr)
*Foto ilustrasi Pixabay.
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri