Dukungan Keluarga Bisa Atasi Masalah Kesepian pada Lansia


Berita Lansia - Rasa kesepian yang melanda lansia setelah lebaran.

2020-06-05 12:54:12

Geriatri.id - Lebaran telah berlalu beberapa pekan. Bagi beberapa lansia, lebaran kemarin mungkin menjadi hari yang cukup menyedihkan, karena anak-anak dan cucu mereka tidak bisa berkunjung dengan alasan kesehatan akibat pandemi Covid-19.

Rasa kesepian yang melanda, mungkin masih tersisa, dan para lansia harus mampu mengatasi perasaan tersebut.

Psikolog Dr. Rena Latifa, M. Psi mengatakan, dalam situasi ini, lansia yang sehat dan terbiasa dengan kegiatannya sendiri, cenderung lebih mudah mengalihkan dengan aktivitas yang biasa dia lakukan.

"Tetapi secara umum emosi yang dirasakan adalah sedih. Merasa lebaran kali ini berbeda, karena tidak dikunjungi anak-anaknya," ujarnya kepada Geriatri.id.

Namun bagi sebagian lansia, kondisi tidak mudah diatasi. Terlebih, jika lansia hanya tinggal berdua dengan pasangannya.

Dalam kondisi seperti ini, dukungan sosial dari lingkungan sekitar (social support) sangat membantu baik dari dalam maupun sekitar rumah.

"Tergantung masih ada social support di rumah atau tidak. Biasanya kalau ada suami tidak terlalu sesedih kalau nggak ada suami. Kalau sakit-sakitan lebih sedih lagi, karena perhatian yang didapatkan kan setahun sekali," tegasnya.

Bagi lansia, kehadiran anak-anak memang ditunggu, untuk menghibur, membasuh kerinduan.

"Melepaskan anak nggak mudah, yang timbul adalah perasaan rindu dan kangen," ujar Kepala Program Studi Sarjana Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. 

Melakukan komunikasi dengan bantuan video call, bisa membantu, meski tidak bisa menggantikan kehadiran fisik.

"Orang tua juga punya harapan untuk Lebaran ketemu anak, membelikan sesuatu buat cucu, menyiapkan kue, harapan mereka merecharge energi untuk memulihkan kerinduan. kalau sudah ketemu, senang lagi, semangat hidup," kata Rena.

Karena itu, dia menyarankan bagi para anak atau cucu agar lebih sering melakukan kontak dengan video call.

"Kalau terkait apakah video call cukup bisa mewakili, sebenarnya cukup bisa mewakili, tapi frekuensinya harus ditambahin. Yang mungkin biasanya nelepon sehari sekali, bisa sehari dua kali," jelas Rena. 

Intinya, untuk mengatasi kesepian pada lansia pasca lebaran ini, anak-anak dan cucu harus menjaga koneksi untuk mengkompensasi ketidakhadiran mereka.

Dalam melakukan kontak, sebisa mungkin banyak bercerita. 

"Jadi kuantitasnya ditambahkan supaya dia tetap merasakan kehadiran. Karena biasanya mudik itukan cerita, ngerumpi, sambil masak atau apa. Nereka juga butuh penyaluran emosi," papar Rena. 

Dengan melakukan kontak, saling berbagi cerita, maka proses re-charge energi pada lansia akan terjadi, emosi negatif bisa dihilangkan. 

"Jadi fase saling memaafkan ini tetap berlangsung dan menerbitkan harapan baru," pungkasnya.*** (mag)

foto: lansia menelepon (pixnio)

lansia,lansia sehat,merawat lansia,geriatri,kesepian lansia,kesehatan mental lansia,lansia bahagia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Cegah Demensia dengan Konsumsi Kacang-kacangan

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026