Kesepian, Ancaman Tersembunyi Covid-19 Bagi Lansia


Pandemi Covid-19 memberikan ancaman tersembunyi bagi lansia, yaitu kesepian

2020-05-04 15:32:19

Geriatri.id - Pandemi Covid-19 memberikan ancaman tersembunyi bagi lansia, yaitu kesepian. Kondisi dimana lansia harus melakukan isolasi mandiri, menjaga jarak fisik dan jarak sosial, membuat mereka rentan mengalami kesepian, terlebih pada lansia yang tidak tinggal bersama anak-anak mereka.

Assosiate profesor dari Sekolah Keperawatan di Utah University Linda S. Edelman mengatakan, kesepian pada lansia bukan semata ditimbulkan oleh situasi dimana mereka harus melakukan isolasi. Banyak lansia yang sebelum pandemi terjadi, terbiasa hidup mandiri. Hanya saja, situasi pandemi membuat para lansia mandiri yang tadinya tetap bisa pergi bersosialisasi, kemudian tidak dapat melakukannya demi menjaga kesehatan mereka. 

Hal inilah yang menurut Edelman, membuat lansia menjadi rentan dihinggapi rasa kesepian. "Apa yang saya khawatirkan dari Covid adalah membawa mayoritas lansia yang tadinya tidak terisolasi dan tidak kesepian ke kelompok yang sangat rentan. Terisolasi dan kesepian adalah tempat yang mengerikan," kata Edelman, seperti dikutip dari Deseret News.

Kesepian ini sendiri dikhawatirkan membawa dampak yang juga tak kalah buruk bagi kesehatan lansia. Sejak lama, kesepian dikaitkan dengan kebiasaan buruk merokok, obesitas, penyakit jantung, kurang aktivitas fisik, dan polusi udara yang merugikan kesehatan manusia.

Edelman mengatakan, seberapa banyak orang yang menderita terisolasi sebagian ditentukan oleh genetika. Tetapi dampak fisik dan psikologis masih dapat diukur. Kesendirian menekan sistem kekebalan tubuh, menghambat kualitas tidur dan berkontribusi pada perilaku impulsif dan penyalahgunaan zat. 

Kesendirian dapat mengubah ekspresi gen dan meningkatkan peradangan. Ini dapat mengubah respons tubuh terhadap bakteri, virus, dan glukosa. Stres menjadi kurang terkendali; kelelahan bisa tumbuh. "Ada konsekuensi nyata untuk menyeimbangkan dengan kebutuhan untuk menghentikan Covid-19," kata Edelman.

Asosiate Profesor Ilmu Politik dari Utah University Tim Chambless mengatakan, teknologi mungkin bisa membantu, tetapi bantuan teknologi tidak menggantikan koneksi manusia. dari hasil risetnya, diketahui, upaya melakukan hubungan sosial dengan bantuan sosial media, tetap tidak bisa menghilangka perasaan terasing. "Pahit, untuk menonton penduduk saling melambai melalui layar komputer mereka. Meskipun mereka berada di gedung yang sama, mereka dipisahkan seolah-olah benua dan lautan berada di antara mereka," kata Chambless.

"Depresi dan kesepian tampak jelas, tidak hanya terlihat dalam perilaku mereka, tetapi bahkan dalam pertanyaan mereka," tambah Chambless.

Dia mengatakan, Covid telah berkontribusi pada terjadinya kesepian, isolasi, dan kesedihan yang lebih besar. "Bagi para lansia, ini adalah hal yang sangat negatif. Mereka mencoba menggunakan teknologi modern, tetapi ini malah berkontribusi pada rasa kesepian yang eksistensial, mereka seperti 'dimatikan' dan saya tidak ingin mereka 'dimatikan', mereka menarik diri," jelasnya. (mag)

Foto: ilustrasi kesepian (pixabay)


 

lansia,geriatri,merawat lansia,kesepian,covid 19,virus corona

ARTIKEL LAINNYA

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Usia Senja

Memahami Hipertensi (6): Kapan Perlu Pemeriksaan Lebih Lanjut?

Persiapan Menuju Masa Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026