
Geriatri.id - Apakah sesak nafas menjadi gejala khas Covid-19? Kenapa kita harus menggunakan masker dan disiplin melakukan social dan physical distancing untuk mencegah Covid-19?
Temukan jawaban sehari-hari terkait masalah Covid-19 ini dari tanya-jawab bersama dr. Syahrizal, Sp.PD., dalam webinar bertajuk "Kupas Tuntas Covid-19" belum lama ini. Apa saja pertanyaan yang diajukan masyarakat?
Berikut tanya-jawab seputar Covid-19:
Sebenarnya sesak nafas dari gejala Covid-19 apakah ada yang membedakan dengan gejala yang punya asma atau sesak napas lainnya?
Covid-19 susah dibedakan dengan banyak penyakit. Kasus pertama kami pasien dengan demam typhoid, typhoid-nya tegak karena salmonella nya +6. Hari ketiga kita rontgen ulang hasil rontgen-nya perburukan. Di situ kita curiga Covid. Pasien kedua Covid yang paling mirip adalah demam berdarah, bedanya di manifestasi saluran nafas. Hasil rontgen parunya dalam waktu tiga hari langsung jelek.
Manifestasi klinis Covid-kan sudah beralih ke semua organ, mata, dan lainnya. Apakah virusnya mengalami reseptor yang tidak spesifik?
Covid ini kan ilmu baru. Belum ada di textbook kedokteran. Yang awal kita tahu kan reseptornya awalnya di paru dan sedikit di saluran cerna. Awalnya kita tahu ada kelainan di paru, ada juga di kulit, kulitnya merah. Kalau ada kulit merah kita masukkan ke PDP (pasien dalam pengawasan). Kita pernah ketemu pasien seperti itu Alhamdulillah negatif, mirip seperti morbili.
Yang kita lakukan di RS adalah, kalau ketemu penyakit infeksi, dikasih obat empirik belum perbaikan, langsung kita kasih PDP si Covid sudah dikasih gelar grand imitator jadi dia bisa meniru penyakit apapun. Selagi nunggu hasil swab turun, sebaiknya pasien langsung berkegiatan atau langsung isolasi mandiri ke rumah seharusnya kita se-Indonesia isolasi mandiri.
Apakah benar chloroquine digunakan sebagai obat di RS untuk mengobati Covid-19?
Waktu itu pernah saya baca, tapi kayaknya nggak dipakai, karena dari artikel di luar (negeri-red) diketahui, margin of safety-nya pendek terutama efek samping terhadap kardiovaskulernya. Saya sendiri di RS, ini belum pernah saya pakai.
Apakah sekarang rumah sakit swasta bisa menerima pasien Covid?
Ada RS-RS yang ditunjuk pemerintah untuk merawat pasien Covid, tetapi karena jumlah pasiennya banyak, RS yang tidak merawat pasien Covid, terpaksa merawat pasien yang dicurigai PDP, positif, Covid confirm. Tapi untuk RS rujukan, diantrekan ke RS tersebut tidak mudah karena pasiennya banyak, tempatnya terbatas.
Mengapa kita harus disiplin melakukan social distancing untuk mencegah Covid-19?
Covid itu, saat ini WHO menyepakati menular lewat droplet, cairan saat kita berbicara, berteriak. Si droplet ini kuncinya daya jelajah yang terbatas. Minimal kita menghindar dari droplet. Kalau kita disiplin social distancing, kita akan menghindari droplet ini saat berhadapan.
Kalau saya nggak pakai masker, terus ngomong muncrat ke microfon misalnya, itu ada umurnya (masa virus bertahan) sampai dia kering. Si virus perlu droplet, perlu media agar dia bisa tetap hidup. Nanti kalau dia kena sinar matahari lebih cepat lagi. (mag)
foto: ilustrasi social distancing (pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri