Geriatri.id—Ramadan tahun ini datang dengan suasana yang berbeda dengan sebelumnya karena pandemi COVID-19. Penyebaran virus Corona yang sangat cepat menuntut semua orang untuk tetap di rumah dan menjaga kesehatan.
Lalu, bagaimana penderita jantung dan hipertensi menjalankan ibadan puasa ini?
dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC mengatakan ketentuan puasa sudah jelas tercantum dalam alquran.
“Bagi siapa yang sakit atau dalam perjalanan, bisa tidak berpuasa dan menggantinya sebanyak hari menjalankan atau membayar fidyah,” kata dokter Ceva dalam webinar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Kamis 23/4/2020. “Tetapi kalau mencoba berpuasa dan ternyata kuat, itu lebih baik.”
“Keringanan” dalam berpuasa berlaku juga bagi Anda yang mengidap penyakit jantung, hipertensi, dan ginjal. Ketika sakit akut (sedang sakit/ serangan), dianjurkan tidak berpuasa. Ketika serangan, beberapa hal yang mesti diperhatikan seperti minum obat
Berikut tips dari dokter Ceva:
PENYAKIT JANTUNG DAN HIPERTENSI
- Tidur setengah duduk. Kita bisa melakukan ibadah tanpa mengangkat mushaf. Obat dokter semua harus diminum termasuk diuretik (obat buang air kecil).
- Saat tenang/ stabil, boleh berpuasa, hati-hati terhadap minum dan garam saat berbuka, berhati-hati dengan diuretik: bila berpuasa jangan memulai ketika belum pernah, makan banyak serat atau sayur agar buang air besar lancar.
- Upayakan untuk menghindari lemak jenuh seperti susu fullcream, kulit ayam, lemak yang terlihat pada daging, daging merah, kelapa, santan, margarin, mentega, ghee, creamer kopi, dan minyak inti sawit.
- Upakan menghindari lemak trans seperti makanan yang digoreng secara komersial, biskuit, kue, dan kerupuk yang dapat meningatkan kolesterol, dan menurunkan HDL high-density lipoprotein atau kolesterol baik.
- Pilih makanan dengan lemak tak jenuh tunggal dan ganda. Lemak tak jenuh tunggal bisa diperoleh dari alpukat, zaitun, minyak zaitun, kacang almond, kacang tanah, kacang pecan, kacang mete. Adapaun lemak tak jenuh ganda bisa diperoleh dari ikan berminyak, biji-bijian, margarin, dan minyak sayur lembut. “Kacang-kacangan dapat dikonsumsi kalau tidak ada larangan karena asam urat. Tambahkan segenggam kacang dan biji-bijian ketika sahur dan buka untuk kebutuhan lemak yang baik”
- Periksa rutin selalu berat badan, tekanan darah, nadi, dan napas. Bila saat puasa berat badan naik, harus hati-hati. Tekanan darah 100-140/60-90. Nadi saat tidak berjalan 60-90. Napas ketika tidak berjalan 14-20.
- Latihan ringan tetap dapat dilakukan seperti berjalan. Salat tarawih sebenarnya cukup untuk membuat tubuh beraktivitas.
GINJAL DAN HEMODIALISIS
- Protesin, air, dan garam harus cukup namun tidak boleh berlebih.
- Protein 0,5-0,6 gram /kg/BB per hari bila belum cuci darah. Jadi sekitar 25-30 gram per hari. Posri ini bisa diperoleh dari daring 100 gram sehari. Kalau sudah cuci darah 0,8g/kg/BB bila sudah cuci darah.
- Air sebanyak urin/hari ditambah segelas. Caranya, tampung urin sehari semalam. Jadi, jumlah minum kita selama puasa sebanyak jumlah urin yang ditampung itu, ditambah segelas untuk mengganti kehilangan keringat yang ada. Sedangkan bagi yang dusah cuci darah, umumnya 1 liter per hari.
- Hindari makan yang kaya kalium seperti kurma, pisang, jeruk, mangga, tomat, kentang, dan okra.
- Upayakan makan hidangan non lemak
- Upayakan memasak dengan merebus, bukan menggoreng
- Makanan harus cukup Calsium.***
(ymr)
*Foto PAPDI
lansia,geriatri,hipertensi,lansia sehat,lansia bahagia,lansia online,merawat lansia,berita lansia,tips lansia,lansia hipertensi