
Geriatri.id - Banyak orang lanjut usia yang hidup sendirian menghadapi risiko kekurangan gizi. Demikian menurut sebuah studi yang dipresentasikan pekan lalu pada Pertemuan Tahunan ke-40 American College of Nutrition di Washington, D.C.
Sekitar 2.200 lansia menjawab survei yang terdiri dari 10 pertanyaan, di antaranya pertanyaan mengenai jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari, kemampuan untuk membeli bahan makanan, jenis makanan yang dikonsumsi, dan masalah fisik yang dapat memengaruhi persiapan makanan.
"Saya perhatikan, ketika saya memasukkan data ternyata banyak responden mengatakan mereka makan sendirian," kata Velonda Thompson, seorang kandidat PhD dari Union Institute di Cincinnati, yang melakukan survei. Faktanya, dari 901 responden yang dianggap berisiko kekurangan gizi, sebanyak 850 responden juga menyatakan bahwa mereka sering makan sendirian.
Thompson mengatakan, berdasarkan hasil survei bahwa makan sendirian adalah indikator yang signifikan secara statistik untuk risiko kekurangan gizi.
Sementara, Kathleen Zelman, RD, juru bicara American Dietetic Association mengatakan, pada dasarnya, yang terjadi adalah seiring perubahan saluran pencernaan pada lansia, menggunakan gigi palsu, ada masalah mulut dan gigi, sehingga lansia cenderung mengalami masalah mengunyah dan mencerna. Kemudian, ditambah dengan merasa kesepian.
Zelman mengatakan bahwa itu sebabnya banyak orang lanjut usia yang sehari-harinya hanya mengonsumsi teh dan roti panggang. “Siapa yang mau memasakkan ayam panggang dan sayuran, apalagi ia duduk sendirian dan makan sendiri pula?"
"Pasien lansia sering memberi tahu saya bahwa dirinya kesepian dan kehilangan pasangannya (ditinggal meninggal) sehingga tidak ada yang memasakkan makanan yang kaya nutrisi," kata Taylor Graves, MD, ahli geriatrik di Wesley Woods Geriatric Center Rumah Sakit Emory University di Atlanta. Dia menambahkan bahwa perubahan kemampuan mencium rasa atau aroma yang tidak sensitif lagi, membuat selera makan para lansia juga turun.
Masalah malnutrisi pada lansia mungkin sangat akut pada wanita, kata Chris Rosenbloom, PhD, profesor nutrisi di Georgia State University di Atlanta. Dia melakukan penelitian pada tahun 1993. "Wanita pada khususnya, tidakrawat diri mereka sendiri," katanya. "Dalam penelitian saya, banyak wanita tidak menyiapkan makanan. Mereka mengonsumsi makanan apa saja yang tersedia."
Zelman mengatakan salah satu solusinya adalah menyarankan lansia untuk pergi ke pusat-pusat komunitas lansia di mana mereka bisa mendapatkan setidaknya makanan bergizi. Atau, lansia juga sebenarnya bisa melakukan sendiri bila masih merasa mampu, misalnya mengambil sekaleng sup tomat dan mencampurnya dengan susu. "Ada beberapa kalsium. Tambahkan sandwich keju panggang."
Seorang spesialis geriatri mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, para lansia yang sendirian mungkin ingin makan lebih sering. “Saya sarankan untuk mengonsumsi makanan kecil, sering, makanan ringan berprotein tinggi - seperti yogurt ketika lansia menonton televisi," kata Jean Mistretta , PhD, RN, seorang instruktur keperawatan di Georgia Perimeter College di Atlanta. (hil)
Referensi: webmd.com
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri