
Geriatri.id - Demi menghindari penyebaran pandemi Covid-19 membuat pemerintah menetapkan kebijakan pembatasan sosial skala luas. Kebanyakan orang pun akhirnya terpaksa diam di rumah dan melaksanakan work from home (WFH). Kondisi ini, dalam jangka waktu tertentu bisa menjadi sumber stres bagi masyarakat. Dewan Pakar Kesehatan Mental Indonesia Psikolog Klinis Dr. Rena Latifa mengatakan, dengan adanya sumber stres selama masa stay at home, yang pertama bisa dilakukan adalah mengatur kembali rencana-rencana yang sudah dibuat.
"Kalau misalnya dalam satu semester punya rencana yang sudah kita lakukan, maka yang harus kita lakukan adalah mengatur kembali rencana. Kita diajak untuk mencapai kreatif, rencana tercapainya seperti apa ya supaya tetap tercapai," ujar Rena, dalam diskusi secara daring bertajuk 'Stress Management During Social Distancing'.
Sambil menyusun ulang rencana, mereka yang terpaksa tinggal di rumah juga harus melakukan hal-hal yang bisa menghasilkan energi positif bagi diri. "Untuk anak-anak muda, atau untuk kita sendiri (termasuk para lansia-red), untuk menyenangkan diri sendiri bisa membuat vlog, misalnya bagaimana cara make-up tutorial, kita share, jadi ada poin berbagi," papar Rena.
Atau bagi yang suka memasak, bisa membuat vlog memasak dan saling berbagi resep atau tips memasak. "Jadi ada tujuan yang lebih membuat diri merasa bermanfaat, atau buat keluarga bikin resep baru, secara fisik kita bergerak, secara pikiran teralihkan dari pikiran buruk, secara emosi ada proses melatih kesabaran dari mulai menyiapkan bahan-bahannya, itu semua memberikan efek relaksasi," papar Rena.
Bisa juga misalnya, bermain dengan anak, seperti bermain playstation, dan lainnya. "Tetapi harus dipantau jangan sampai mengalami kecanduan. Kalau kecanduan tidak solutif hanya mengalihkan dari satu masalah ke masalah baru," katanya mengingatkan.
Bermain game atau teknologi, menurut Rena, hanya sebagai option dalam mengisi waktu bermain mengasah kreativitas, mengasah kognisi, mengalihkan emosi. "Saat kita bermain dalam permainan anak memberikan efek nyaman, joyful, rileks, bahagia, berbeda dengan rileks dalam relaksasi," ujarnya.
Selain bermain, ada juga aktivitas lain yang bisa memberikan efek relaksasi seperti membersihkan rumah, berkebun, melukis, menikmati musik, menulis dan sebagainya. "Bersihkan, rapihkan, nyamankan. Kalau udah nyaman kita enak tinggal di rumah, memberikan efek relaksasi. Berkebun juga, kan ada psikologi warna ya, kalau lihat warna hijau kan merefresh pikiran kita. better mind, melihat hal-hal yang menyegarkan, demikian pula dengan melukis, enjoying music, bisa memberikan efek menenangan dan memberikan rasa nyaman," jelas Rena.
Dengan melakukan aktivitas tersebut, secara fisiologis bergerak, happy, memberikan ide-ide yang sebelumnya terabaikan. "Bisa menyusun posisi furnitur, atau membuat pandangan kita lebih less-stress lagi, atau misal punya rencana menulis apa. Tetapi itu tadi tetap harus diatur-atur lagi jadwal harian kita," kata Rena. (mag)
foto: ilustrasi relaksasi di taman (wikipedia)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri