Faktor Cuaca dan Iklim Kurangi Risiko Penyebaran Covid-19


faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam mengurangi risiko penyebaran wabah COVID-19

2020-04-09 10:18:36

geriatri.id - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG),Prof. Dwikorita Karnawati, M.Sc. P.hD mengatakan, faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam mengurangi risiko penyebaran wabah COVID-19. Syaratnya, upaya pembatasan mobilitas orang/interaksi sosial, serta upaya intervensi kesehatan masyarakat lebih intensif diterapkan dan ditegakkan.

Hal itu, dikatakan Dwikorita terkait hasil kajian cepat lintas disiplin yang dilakukan BMKG bersama Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan  Masyarakat dan Keperawatan untuk mengetahui pengaruh cuaca dan iklim terhadap transmisi penyebaran epidemi Covid-19. "Kajian ini dilakukan dengan metode statistik dan pemodelan matematis, serta studi literatur," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4).

Hasil sementara dari kajian tersebut menunjukkan, iklim dan cuaca bukan satu-satunya faktor yang dapat mengontrol penyebaran epidemi COVID-19. "Penyebaran epidemi tersebut dikontrol oleh beberapa faktor, antara lain faktor iklim/cuaca, demografi manusia dan mobilitasnya, ataupun interaksi sosial, serta upaya intervensi kesehatan masyarakat," jelasnya. 

Iklim ataupun cuaca dapat berpengaruh terhadap kestabilan virus Corona, yang cenderung stabil pada suhu udara rendah antara 1 derajat Celcius sampai dengan 10 derajat Celcius, dan kelembaban udara rendah antara 40% sampai dengan 50% sebagaimana lingkungan di negara-negara Lintang Tinggi dalam zona iklim Subtropis dan Temperate, pada saat outbreak Gelombang pertama.

Indonesia sebagai negara yang terletak di Lintang rendah di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27 derajat hingga 30 derajat Celcius, dan kelembaban udara berkisar antara 70%-95%, merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19. Namun demikian fakta menunjukkan bahwa kasus COVID-19 telah menyebar di Indonesia (Gelombang ke-2). 

"Hal ini menunjukan faktor mobilitas orang lebih berpengaruh dalam penyebaran dan peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia," jelas Dwikorita. 

Hal lain yang perlu dicatat adalah polutan akibat mobilitas orang, hingga akhir Maret 2020 masih terjadi dengan intensitas polutan yang kurang lebih masih setara seperti hari-hari sebelum WFH diterapkan, yang dapat diinterpretasikan bahwa pembatasan mobilitas orang belum berjalan efektif. "Berdasarkan kesimpulan diatas, kajian ini merekomendasikan upaya pembatasan mobilitas orang dan interaksi sosial secara lebih optimal, sehingga faktor cuaca dapat berpengaruh lebih maksimal untuk pengurangan risiko penyebaran wabah COVID-19," pungkasnya. (mag)

ilustrasi: pengobatan pandemi Covid-19 (pixabay)

lansia,geriatri,merawat lansia,lansia sehat,covid 19,virus corona

ARTIKEL LAINNYA

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Usia Senja

Memahami Hipertensi (6): Kapan Perlu Pemeriksaan Lebih Lanjut?

Persiapan Menuju Masa Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026