Lansia Demensia di Tengah Pandemi Corona


Dampak ganda dari demensia dan pandemi COVID-19 telah menimbulkan keprihatinan besar bagi orang yang hidup dengan demensia

2020-04-06 12:11:43

Geriatri.id — Pandemi virus corona (COVID-19) telah membuat semua orang di dunia khawatir. Kekawatiran itu berlipat bagi kelompok lanjut usia karena risiko lebih tinggi, apalagi lansia dengan demensia.

Secara global, lebih dari 50 juta orang menderita demensia. Dementia telah muncul sebagai pandemi dalam masyarakat yang menua. (Baca juga: Gaya Hidup Sehat Cegah Demensia)

“Dampak ganda dari demensia dan pandemi COVID-19 telah menimbulkan keprihatinan besar bagi orang yang hidup dengan demensia,” demikian jurnal yang terbit di Thelancet bertajut Dementia care during COVID-19 yang disusun Huali Wang dan kawan-kawan dari Universitas Peking, China.

Orang yang hidup dengan demensia memiliki akses terbatas ke informasi dan fakta yang akurat tentang pandemi COVID-19. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam mengingat prosedur upaya perlindungan, seperti memakai masker, atau dalam memahami informasi kesehatan masyarakat. Karena itu, lansia dengan demensia berisiko terpapar infeksi lebih tinggi.

Dukungan untuk orang yang hidup dengan demensia dan pengasuh mereka sangat dibutuhkan di seluruh dunia. Selain perlindungan fisik dari infeksi virus, kesehatan mental dan dukungan psikososial harus diberikan. Misalnya, profesional kesehatan mental, pekerja sosial, administrator panti jompo, dan sukarelawan harus memberikan perawatan kesehatan mental untuk orang yang hidup dengan demensia secara kolaboratif. 

Para pakar demensia dapat memimpin dan mendukung anggota tim dari disiplin ilmu lain. Bimbingan mandiri untuk mengurangi stres, seperti relaksasi atau latihan meditasi, dapat disampaikan melalui media elektronik. Tim layanan dapat mendukung manajemen perilaku melalui hotline telepon. 

Konselor psikologis dapat memberikan konsultasi online untuk pengasuh di rumah dan di panti jompo. Selain itu, bagi orang yang memiliki orang tua dengan demensia untuk melakukan kontak lebih sering atau menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang tua mereka, atau untuk mengambil beberapa tugas pengasuhan sehingga memberi pengasuh waktu istirahat.

China telah mengatasi epidemi, dan bisnis mulai kembali normal. “Kami percaya bahwa belajar pelajaran dari China akan memberdayakan dunia untuk mengatasi pandemi COVID-19, dengan sedikit risiko mengkompromikan kualitas hidup orang yang hidup dengan demensia dan pengasuh mereka”.  (ymr)

*Foto ilustrasi Pixabay

Yuk, ikut kelas Lansia Online 

lansia,geriatri,demensia,covid-19,virus corona

ARTIKEL LAINNYA

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Usia Senja

Memahami Hipertensi (6): Kapan Perlu Pemeriksaan Lebih Lanjut?

Persiapan Menuju Masa Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026