
“Apa tadi? Coba ulangi sekali lagi.” Kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa ketika berbicara dengan orang tua. Namun, jika lansia semakin sering meminta lawan bicara mengulang perkataan, kesulitan mengikuti percakapan, atau menaikkan volume televisi, keluarga sebaiknya tidak buru-buru menganggapnya sebagai hal yang wajar karena usia.
Kebiasaan tersebut bisa menjadi salah satu tanda gangguan pendengaran yang berkaitan dengan proses penuaan, atau disebut presbikusis.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tanda awal penurunan pendengaran terkait usia antara lain sering meminta orang mengulang perkataan, kesulitan mengikuti percakapan di tempat ramai, dan kesulitan memahami pembicaraan melalui telepon.
Gangguan ini sering berkembang secara bertahap. Akibatnya, lansia mungkin tidak menyadari perubahan pendengarannya, sementara keluarga lebih dahulu melihat adanya perubahan dalam cara mereka berkomunikasi.
Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya dan mengetahui kapan pemeriksaan pendengaran perlu dilakukan.
Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menjelaskan bahwa presbikusis dapat ditandai dengan penurunan kemampuan mendengar, telinga berdenging, kesulitan memahami ucapan, serta kebiasaan meminta orang lain mengulangi perkataan.
Selain proses penuaan, gangguan pendengaran juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, paparan suara keras dalam waktu lama, penyakit telinga, dan penggunaan obat-obatan tertentu yang berpotensi merusak pendengaran.
Meski demikian, tidak semua keluhan pendengaran pada lansia disebabkan oleh penuaan. Penumpukan kotoran telinga dan infeksi, misalnya, juga dapat mengganggu penghantaran suara dan memerlukan penanganan yang berbeda.
Lima tanda pendengaran lansia perlu diperiksa
Keluarga dapat memperhatikan perubahan perilaku berikut dalam kehidupan sehari-hari.
1. Sering meminta orang mengulang perkataan
Lansia berulang kali bertanya, “Apa tadi?” atau meminta lawan bicara berbicara lebih keras. Jika kebiasaan ini semakin sering terjadi, terutama dalam percakapan sehari-hari, pemeriksaan pendengaran patut dipertimbangkan.
2. Volume televisi semakin keras
Lansia merasa suara televisi terlalu pelan meskipun orang lain menganggap volumenya sudah cukup keras. Kebiasaan ini bisa menjadi petunjuk bahwa kemampuan mendengarnya mulai berubah.
3. Sulit memahami percakapan di tempat ramai
Lansia masih dapat berbicara dengan satu orang dalam suasana tenang, tetapi kesulitan mengikuti obrolan saat beberapa orang berbicara bersamaan. Kondisi ini dapat membuat mereka kehilangan bagian penting dari percakapan.
4. Sulit mendengar melalui telepon
Percakapan melalui telepon terasa semakin sulit dipahami. Lansia mungkin lebih sering meminta lawan bicara mengulang kalimat atau salah menangkap informasi yang disampaikan.
5. Mulai menghindari percakapan dan kegiatan sosial
Sebagian lansia memilih diam ketika berkumpul bersama keluarga atau enggan menghadiri kegiatan sosial karena kesulitan mengikuti percakapan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan hubungan sosial mereka.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan pendengaran. Namun, jika muncul berulang kali, terlebih ketika mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan diabaikan.
Lantas, kapan lansia perlu menjalani pemeriksaan pendengaran?
Menurut WHO, pemeriksaan pendengaran secara berkala penting dilakukan, terutama jika seseorang mulai sering meminta perkataan diulang, menaikkan volume televisi, melewatkan bagian percakapan, atau mengalami telinga berdenging.
Lansia yang mengalami keluhan tersebut dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya. Dokter akan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan, serta memeriksa telinga untuk melihat kemungkinan penumpukan kotoran atau masalah lainnya.
Jika diperlukan, lansia dapat dirujuk untuk menjalani pemeriksaan audiometri. Pemeriksaan ini mengukur kemampuan mendengar berbagai frekuensi dan tingkat kekerasan suara sehingga membantu menentukan jenis dan derajat gangguan pendengaran.
Hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang sesuai. Sebagian penyebab dapat diatasi dengan perawatan medis, sedangkan gangguan pendengaran yang menetap mungkin memerlukan rehabilitasi pendengaran atau alat bantu dengar.
Ada satu kondisi yang tidak boleh ditunda: apabila pendengaran tiba-tiba menurun atau hilang pada satu maupun kedua telinga, segera cari pertolongan medis pada hari yang sama. Jangan menunggu sampai beberapa hari atau menganggapnya sekadar telinga tersumbat. Penurunan pendengaran mendadak merupakan kondisi yang memerlukan evaluasi segera, idealnya oleh dokter THT.
Pemeriksaan segera juga diperlukan jika penurunan pendengaran berkembang cepat, terutama dalam beberapa hari hingga minggu, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan.
Ketika orang tua mulai kesulitan mendengar, keluarga dapat melakukan beberapa penyesuaian sederhana agar komunikasi tetap nyaman.
Pertama, berbicaralah sambil berhadapan dengan lansia sehingga mereka dapat melihat gerakan bibir dan ekspresi wajah. Pilih tempat yang tenang dan kurangi suara televisi atau sumber kebisingan lainnya.
Kedua, ucapkan kalimat dengan jelas menggunakan kecepatan bicara yang wajar. Jika lansia belum memahami perkataan, cobalah mengulang atau menyusun kalimat dengan cara berbeda daripada sekadar berteriak.
Ketiga, tanyakan apakah mereka mengalami kesulitan mendengar dan tawarkan bantuan untuk menjalani pemeriksaan. Hindari menyalahkan atau mempermalukan mereka ketika terjadi kesalahpahaman.
Gangguan pendengaran juga tidak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda penurunan daya ingat atau sikap tidak peduli. Seseorang yang tidak menangkap perkataan dengan jelas mungkin memang kesulitan memahami apa yang sedang dibicarakan.
Pada akhirnya, sering meminta orang mengulang kalimat bukanlah sesuatu yang harus selalu dianggap wajar pada usia lanjut. Perubahan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk mengenali masalah lebih awal.
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri