Melawan Kesepian di Usia Senja, Eropa Kembangkan Program Kelompok Pertemanan untuk Lansia


Program yang berasal dari Finlandia ini mempertemukan lansia dalam kelompok kecil agar mereka dapat membangun hubungan sosial, saling berbagi pengalaman, dan menemukan kembali kesenangan dalam beraktivitas bersama. 

2026-11-05T06:37

Tidak semua kesepian terlihat dari seseorang yang tinggal sendirian. Ada lansia yang tinggal bersama keluarga, tetapi tetap merasa tidak memiliki teman untuk berbagi cerita, menyampaikan perasaan, atau melakukan kegiatan yang disukai.

Kesepian pada usia lanjut bukan sekadar persoalan kurangnya teman mengobrol. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup lansia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sejumlah negara di Eropa mulai mengembangkan program Circle of Friends atau Lingkaran Pertemanan. Program yang berasal dari Finlandia ini mempertemukan lansia dalam kelompok kecil agar mereka dapat membangun hubungan sosial, saling berbagi pengalaman, dan menemukan kembali kesenangan dalam beraktivitas bersama. 

Circle of Friends dikembangkan oleh Finnish Association for the Welfare of Older Adults (VTKL), organisasi Finlandia yang berfokus pada kesejahteraan lansia.

Menurut European Health and Digital Executive Agency (HaDEA), program tersebut menjadi salah satu praktik berbasis bukti yang diperluas melalui proyek kerja sama Uni Eropa, Joint Action PRISM, untuk mendukung kesehatan mental kelompok rentan, termasuk lansia.

Dalam pengumuman pada 1 Oktober 2026, HaDEA menyebutkan bahwa program ini akan diuji coba dengan penyesuaian terhadap kondisi setempat di 14 negara Uni Eropa.

Dalam pelaksanaannya melalui proyek JA PRISM, peserta diundang mengikuti 12 kali pertemuan selama tiga bulan.

Pertemuan tersebut bukan sekadar ajang berkumpul. Lansia diberi kesempatan untuk saling mengenal, membicarakan pengalaman kesepian, serta melakukan aktivitas bersama sesuai minat dan kebutuhan mereka.

Kegiatannya dapat berupa menulis secara terapeutik, latihan fisik, membuat karya seni, hingga mencoba aktivitas memasak.

Pendekatan ini memberikan ruang bagi lansia untuk membangun kedekatan secara bertahap. Mereka tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga berperan aktif dalam menentukan kegiatan dan menjalin hubungan dengan sesama peserta.

Model Circle of Friends telah dikembangkan dan disempurnakan selama hampir dua dekade. Menurut informasi dari JA PRISM, lebih dari 13.000 lansia di Finlandia telah mengikuti kelompok program ini, sedangkan hampir 1.300 orang telah menyelesaikan pelatihan sebagai fasilitator.

Mengapa pertemanan penting bagi lansia?

Memasuki usia lanjut, lingkaran sosial seseorang dapat berubah. Pensiun, kehilangan pasangan atau teman sebaya, keterbatasan mobilitas, dan perubahan kondisi kesehatan dapat membuat kesempatan bersosialisasi semakin sedikit.

Sebagian lansia juga merasa sungkan meminta ditemani atau mengungkapkan bahwa mereka kesepian. Akibatnya, kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain tidak selalu terlihat oleh keluarga maupun lingkungan sekitar.

Kesepian perlu dibedakan dari hidup sendirian. Seseorang bisa tinggal sendiri tetapi tetap merasa memiliki hubungan sosial yang kuat. Sebaliknya, seseorang yang tinggal bersama keluarga pun dapat merasa kesepian jika tidak memiliki hubungan emosional yang dirasakan bermakna.

Karena itu, membantu lansia mengatasi kesepian tidak cukup hanya dengan memastikan mereka selalu berada di dekat orang lain. Kualitas hubungan, kesempatan untuk didengarkan, dan rasa menjadi bagian dari suatu komunitas juga penting.

Melalui kelompok pertemanan yang terstruktur, lansia mendapatkan kesempatan untuk bertemu orang dengan pengalaman serupa, membangun rasa saling percaya, dan mengembangkan hubungan yang dapat berlanjut di luar pertemuan terjadwal.

Salah satu hal penting dalam program Circle of Friends adalah keberadaan fasilitator terlatih. Fasilitator membantu menciptakan suasana yang aman dan mendukung, sehingga peserta dapat berinteraksi tanpa merasa terpaksa untuk menceritakan pengalaman pribadi.

Kegiatan juga disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Ada yang lebih nyaman memulai percakapan sambil membuat karya seni, ada yang menikmati latihan fisik ringan, dan ada pula yang lebih mudah membuka diri ketika melakukan kegiatan memasak bersama.

Pendekatan ini memungkinkan lansia berpartisipasi sesuai kemampuan dan minatnya. Mereka tidak dituntut untuk selalu aktif berbicara atau mengikuti semua kegiatan dengan cara yang sama.

Menurut penjelasan HaDEA, model ini berangkat dari penelitian dan pengalaman implementasi di Finlandia yang menunjukkan manfaat kegiatan kelompok terstruktur bagi kesejahteraan psikologis, daya ingat, dan kesehatan secara keseluruhan. Program tersebut juga berpotensi membantu mengurangi penggunaan layanan kesehatan dan sosial.

Meski demikian, manfaat program perlu dipahami sesuai konteks penelitian dan pelaksanaannya. Hasil dari suatu model intervensi tidak otomatis menjamin dampak yang sama bagi semua lansia atau di setiap negara.

Pengalaman Eropa dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk memperkuat kegiatan sosial yang ramah lansia. Upaya ini tidak selalu harus dimulai melalui program besar atau fasilitas khusus.

Posyandu lansia, komunitas warga, kelompok keagamaan, sekolah lansia, dan pusat kegiatan masyarakat dapat menjadi tempat untuk mengembangkan kelompok pertemanan yang lebih terstruktur.

Kegiatan bisa dimulai dari pertemuan rutin dalam kelompok kecil dengan aktivitas sederhana, seperti berbincang, membaca, berkebun, memasak, bermain musik, atau berjalan santai bersama sesuai kemampuan peserta.

Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan kegiatan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan lansia. Jadwal, lokasi, akses transportasi, kondisi fisik, kemampuan pendengaran, dan pilihan pribadi peserta perlu diperhatikan agar tidak ada yang merasa tersisih.


 

Lansia Indonesia,Geriatri,Lingkaran Pertemanan,Kesepian

ARTIKEL LAINNYA

Usia Senja Bukan Batasan, SSI Hadirkan Ruang untuk Terus Berkembang

Perempuan Lansia Hadapi Tantangan Perlindungan, Mengapa Hidup Bermartabat Harus Dijamin?

Saat Dokter Senior Bernyanyi dan Bermusik untuk Amal

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : [email protected]
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026