
GERIATRI.CO.ID - Mendengar istilah sekolah lansia, sebagian orang mungkin langsung membayangkan ruang kelas, papan tulis, buku pelajaran, hingga ujian. Padahal, sekolah lansia tidak seperti sekolah pada umumnya.
Sekolah lansia merupakan pendidikan nonformal yang dirancang untuk membantu warga lanjut usia tetap sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat. Program ini dikenal pula sebagai Sekolah Lansia Tangguh atau SELANTANG.
Jadi, jangan membayangkan lansia harus duduk berjam-jam menghafalkan pelajaran. Di sekolah ini, belajar justru dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada edukasi mengenai kesehatan, aktivitas fisik, kondisi emosional, kehidupan sosial, hingga bagaimana lansia tetap dapat berperan di tengah keluarga dan masyarakat.
Tidak Setiap Hari
Yang juga menarik, sekolah lansia tidak berlangsung setiap hari seperti sekolah formal. Frekuensinya dapat berbeda-beda sesuai program dan penyelenggara di masing-masing daerah.
Dalam sejumlah pelaksanaan SELANTANG, kegiatan dilakukan sekitar dua kali per bulan. Dengan pola tersebut, satu tahapan pembelajaran dapat ditempuh selama beberapa bulan. Ada pula daerah yang menyelenggarakan sekitar 11 hingga 12 kali pertemuan dalam satu program.
Durasi setiap pertemuan pun relatif singkat. Ada kegiatan yang berlangsung sekitar satu jam, sementara pelaksanaan lainnya bisa mencapai 1,5–2 jam. Artinya, sekolah ini dirancang agar tetap nyaman diikuti lansia dan tidak menjadi aktivitas yang melelahkan.
Apa yang Dipelajari?
Konsepnya adalah belajar sepanjang hayat. Bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru pada masa lansia, seseorang tetap membutuhkan pengetahuan baru agar mampu beradaptasi dengan perubahan tubuh, lingkungan, teknologi, maupun kehidupan sosial.
Materinya juga tidak melulu soal penyakit. Konsep lansia tangguh mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial kemasyarakatan, hingga keterampilan dan lingkungan.
Karena itu, kegiatan sekolah lansia bisa beragam. Mulai dari senam, edukasi kesehatan, diskusi, kegiatan sosial, keterampilan, aktivitas keagamaan, sampai kegiatan yang mendorong lansia tetap aktif dan percaya diri.
Bukan Cuma Belajar
Ada manfaat lain yang sering kali tidak kalah penting: bertemu dengan teman sebaya.
Bagi sebagian lansia, memiliki lingkungan untuk berbincang, belajar bersama, dan melakukan aktivitas secara rutin dapat membuat hari-hari terasa lebih berwarna. Sekolah lansia pun bisa menjadi ruang untuk mengurangi rasa kesepian sekaligus memperluas pertemanan.
Sekolah lansia juga bukan sekadar tempat untuk membuat lansia “sibuk”. Tujuan yang lebih besar adalah membantu mereka tetap memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, merawat diri, berinteraksi dengan lingkungan, dan berkontribusi sesuai kemampuan.
Keluarga pun dapat ikut berperan. Sebab, kehidupan lansia tidak berdiri sendiri. Dukungan keluarga tetap diperlukan agar pengetahuan yang diperoleh di sekolah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, kalau suatu hari Sobat Geriatri mendengar ada Sekolah Lansia di sekitar tempat tinggal, jangan buru-buru menganggapnya sebagai sekolah biasa.
Sebab, menjadi lansia bukan berarti berhenti tumbuh. Sekolah lansia pada akhirnya bukan cuma soal belajar, tetapi bagaimana seseorang tetap merasa berdaya, dihargai, punya teman, dan memiliki semangat untuk terus aktif menjalani kehidupan. (a2s)
***
Foto: Ilustrasi sekolah lansia. (chatgpt.com)
***
Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver?
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri