
GERIATRI.CO.ID – Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, termasuk bagi mereka yang telah memasuki usia lanjut. Sayangnya, perubahan emosi, kesepian, hingga hilangnya semangat menjalani aktivitas sehari-hari pada lansia kerap dianggap sebagai bagian biasa dari proses penuaan.
Padahal, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian. Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia setiap 10 Oktober menjadi pengingat bahwa lansia juga berhak menjalani kehidupan yang tenang, bahagia, dan bermakna.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 persen orang berusia 70 tahun ke atas hidup dengan gangguan mental. Depresi dan gangguan kecemasan termasuk masalah yang dapat dialami pada kelompok usia ini. Sayangnya, persoalan kesehatan mental lansia masih kerap tidak dikenali dan tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Kesepian Bukan Persoalan Sepele
Memasuki usia lanjut, seseorang menghadapi berbagai perubahan kehidupan. Pensiun, kehilangan pasangan atau sahabat, berkurangnya kemampuan fisik, hingga perubahan kondisi ekonomi dapat memengaruhi perasaan dan cara seseorang memandang kehidupannya.
Situasi menjadi lebih berat ketika lansia tinggal sendirian, jarang berinteraksi dengan orang lain, atau merasa tidak lagi dibutuhkan oleh keluarga. Kesepian dan isolasi sosial merupakan faktor risiko penting bagi munculnya masalah kesehatan mental pada usia lanjut.
Tidak semua lansia yang lebih banyak diam atau memilih menyendiri mengalami gangguan mental. Namun, jika perubahan perilaku berlangsung terus-menerus, disertai kesedihan berkepanjangan, hilangnya minat, gangguan tidur, atau penurunan nafsu makan, keluarga sebaiknya tidak menganggapnya sebagai hal sepele.
Lansia Tetap Membutuhkan Ruang untuk Didengar
Pada peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, WHO mengangkat tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”, yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata orang-orang yang hidup dengan masalah kesehatan mental serta melibatkan mereka dalam keputusan yang memengaruhi kehidupannya.
Pesan ini relevan bagi lansia. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau perawatan, melainkan individu yang memiliki pengalaman, pilihan, pendapat, dan kebutuhan yang patut dihormati.
Karena itu, keluarga perlu memberikan kesempatan kepada lansia untuk mengungkapkan perasaan tanpa takut dihakimi. Jangan buru-buru menyela, menyalahkan, atau mengatakan bahwa mereka terlalu sensitif. Terkadang, kesediaan untuk duduk bersama dan mendengarkan sudah menjadi langkah awal yang berarti.
Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga?
Menjaga kesehatan mental lansia tidak selalu harus dimulai dengan kegiatan besar. Keluarga dapat membangun kebiasaan sederhana, seperti mengajak berbincang setiap hari, makan bersama, berjalan santai sesuai kemampuan, atau mengajak lansia mengikuti kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal.
Lansia juga perlu tetap dilibatkan dalam urusan keluarga, kegiatan komunitas, maupun keputusan yang menyangkut dirinya. Kesempatan untuk berkarya, berbagi pengalaman, dan membantu orang lain dapat memperkuat rasa percaya diri serta perasaan bahwa dirinya masih memiliki peran.
Selain itu, kebutuhan fisik juga tidak boleh diabaikan. Tidur yang cukup, aktivitas fisik sesuai kemampuan, makanan bergizi, dan pemeriksaan kesehatan berkala dapat mendukung kesejahteraan secara menyeluruh.
Jika lansia menunjukkan kesedihan berkepanjangan, kecemasan berlebihan, kehilangan minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai, atau perubahan perilaku yang mengganggu keseharian, keluarga sebaiknya mengajak mereka berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dukungan psikologis maupun penanganan medis dapat diperlukan sesuai kondisi masing-masing.
Jangan Menunggu hingga Lansia Merasa Sendirian
Kesehatan mental lansia bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat dan layanan kesehatan yang mudah diakses. Lingkungan yang ramah lansia, kegiatan komunitas yang inklusif, serta kesempatan untuk bersosialisasi dapat membantu mencegah keterasingan.
Pada akhirnya, bertambahnya usia tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hak untuk didengar, dihargai, dan merasa bahagia. Lansia tetap membutuhkan kasih sayang, persahabatan, kesempatan mengambil keputusan, serta ruang untuk menjalani kehidupan sesuai keinginannya.
Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia, 10 Oktober, menjadi kesempatan bagi kita untuk bertanya kepada orang tua, kakek, nenek, atau lansia di sekitar kita: “Bagaimana perasaan hari ini? Ada yang ingin diceritakan?”
Sebab, merawat lansia bukan hanya tentang memastikan tubuhnya tetap sehat. Merawat lansia juga berarti menjaga perasaannya, menghormati suaranya, dan memastikan mereka tidak menjalani masa tua dalam kesepian. (a2s)
***
Foto: Ilustrasi (AI)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri