Lansia dan Nafsu Makan yang Menurun: Kapan Perlu Diwaspadai


Kekurangan protein bisa mengganggu kesehatan kulit dan meningkatkan risiko infeksi, sementara kekurangan kalsium meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang.

2026-10-09T10:50

Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah

GERIATRI.CO.ID - "Dulu ibu saya makannya banyak, sekarang porsinya tinggal separuh, bahkan kadang cuma disuap beberapa kali sudah bilang kenyang." Keluhan semacam ini sering muncul dari keluarga yang merawat lansia, dan biasanya dianggap wajar seiring bertambahnya usia. Sebagian memang benar. Tapi penurunan nafsu makan yang terus berlanjut ternyata punya nama sendiri dalam dunia medis: anorexia of aging, atau penurunan nafsu makan akibat proses penuaan.

Kondisi ini bukan hal langka. Riset yang dirangkum Hebrew SeniorLife, lembaga geriatri yang berafiliasi dengan Harvard Medical School, memperkirakan sekitar 15-30 persen lansia mengalaminya. Studi lain di Korea bahkan mencatat angka serupa, sekitar 31 persen lansia yang tinggal di komunitas (bukan panti) melaporkan gejala anoreksia terkait usia ini.

Yang jadi masalah, penurunan nafsu makan sering dianggap "biasa saja" sehingga jarang mendapat perhatian serius, padahal dampaknya bisa cukup jauh: dari kehilangan massa otot sampai meningkatnya risiko kematian.

Mengapa Nafsu Makan Menurun Seiring Usia?

Ada beberapa perubahan tubuh yang secara alami membuat lansia makan lebih sedikit. Indra perasa dan penciuman melemah, sehingga makanan terasa kurang menggugah selera dibanding dulu. Proses pencernaan juga melambat, membuat rasa kenyang datang lebih cepat dan bertahan lebih lama. Tinjauan ilmiah yang membahas program ICOPE (Integrated Care for Older People) dari WHO turut mencatat, gigi yang tanggal, mulut kering, dan gangguan menelan ikut berkontribusi pada penurunan nafsu makan ini.

Selain faktor fisik, ada juga faktor yang lebih tersembunyi. Sembelit misalnya, ternyata berkaitan erat dengan hilangnya nafsu makan pada lansia, menurut studi kohort di Korea. Depresi dan gangguan suasana hati pun sama pentingnya, bahkan dalam beberapa penelitian pengaruhnya terhadap nafsu makan justru lebih besar dibanding masalah fisik seperti sembelit atau kesulitan mengunyah.

Faktor lain yang jarang disadari keluarga adalah obat-obatan. Beberapa jenis obat yang biasa dikonsumsi lansia bisa menekan nafsu makan sebagai efek samping, sehingga polifarmasi (konsumsi banyak jenis obat sekaligus) menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diperhatikan. Kondisi sosial pun berperan: makan sendirian, kehilangan pasangan, atau keterbatasan mengakses dan menyiapkan makanan, semuanya bisa membuat lansia kehilangan semangat untuk makan dengan baik.

Kenapa Ini Tidak Boleh Dianggap Remeh

Nafsu makan yang menurun terus-menerus bisa berujung pada malnutrisi, dan dari situ dampaknya menjalar ke banyak hal. Kekurangan asupan gizi mempercepat kerapuhan tubuh atau frailty, mengurangi massa otot, menurunkan mobilitas, dan pada akhirnya menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Kekurangan protein bisa mengganggu kesehatan kulit dan meningkatkan risiko infeksi, sementara kekurangan kalsium meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang.

Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah penelitian besar menemukan hubungan antara anoreksia akibat penuaan dengan peningkatan risiko kematian, bahkan pada lansia yang belum mengalami penurunan berat badan yang signifikan. Artinya, penurunan nafsu makan itu sendiri sudah menjadi tanda peringatan yang perlu ditindaklanjuti, bukan menunggu sampai berat badan turun drastis baru dianggap serius.

Kapan Perlu Dibawa ke Dokter

Penurunan nafsu makan yang berlangsung terus-menerus, disertai penurunan berat badan tanpa sebab jelas, kelelahan yang tidak biasa, atau perubahan suasana hati, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. Evaluasi ini penting karena penyebab penurunan nafsu makan bisa bermacam-macam, mulai dari efek samping obat, gangguan pencernaan, sampai kondisi kesehatan mental yang mendasarinya, sehingga penanganannya pun perlu disesuaikan dengan penyebabnya.

Cara Membantu Lansia Tetap Mendapat Asupan Gizi yang Cukup

  • Sajikan porsi kecil tapi sering, misalnya lima sampai enam kali makan dalam porsi lebih kecil dibanding tiga kali makan besar, supaya tidak terasa berat sekaligus tetap memenuhi kebutuhan kalori harian.
  • Prioritaskan makanan padat nutrisi, terutama yang kaya protein, karena National Institute on Aging (NIA) menekankan pentingnya makanan yang kaya nutrisi dibanding sekadar tinggi kalori namun rendah gizi.
  • Perkaya rasa dan aroma makanan dengan rempah dan bumbu alami, mengingat indra perasa lansia sudah melemah, sehingga makanan hambar sering terasa kurang menarik untuk disantap.
  • Jadikan waktu makan sebagai momen sosial, misalnya makan bersama keluarga, karena makan sendirian sering menurunkan selera makan lansia.
  • Perhatikan tekstur makanan bagi lansia dengan gangguan mengunyah atau menelan, misalnya dengan menghaluskan makanan atau memilih bahan yang lebih lunak, supaya makan tidak terasa jadi beban.
  • Diskusikan obat-obatan rutin dengan dokter, terutama bila nafsu makan menurun setelah memulai obat baru, karena beberapa obat memang bisa menekan nafsu makan sebagai efek samping.
  • Cek kondisi mulut dan gigi secara berkala, karena gigi yang tanggal atau gigi palsu yang tidak pas bisa membuat makan jadi tidak nyaman tanpa disadari keluarga.

Penutup

Penurunan nafsu makan pada lansia memang sering terjadi, tapi bukan berarti harus dibiarkan begitu saja. Mengenali penyebabnya sejak dini, menyesuaikan pola makan dengan kondisi lansia, serta berkonsultasi ke dokter bila keluhan berlangsung lama, semuanya bisa membantu mencegah malnutrisi dan menjaga kualitas hidup lansia secara keseluruhan.

***

Daftar Pustaka
1. National Institute on Aging (NIA), National Institutes of Health (NIH). Healthy Eating, Nutrition, and Diet. https://www.nia.nih.gov/health/healthy-eating-nutrition-and-diet
2. National Institute on Aging (NIA), National Institutes of Health (NIH). How Much Should I Eat? Quantity and Quality. https://www.nia.nih.gov/health/healthy-eating-nutrition-and-diet/how-much-should-i-eat-quantity-and-quality
3. Hebrew SeniorLife (afiliasi Harvard Medical School). (2022). Anorexia of Aging: Causes and Treatment. https://www.hebrewseniorlife.org/blog/causes-appetite-loss-seniors
4. Landi, F., et al. (2022). Anorexia of Aging: Metabolic Changes and Biomarker Discovery. Clinical Interventions in Aging, Dove Medical Press. https://www.dovepress.com/anorexia-of-aging-metabolic-changes-and-biomarker-discovery-peer-reviewed-fulltext-article-CIA
5. Cha, H.S., et al. (2021). Functional Constipation and Anorexia in Community-Dwelling Older Adults: Korean Frailty and Aging Cohort Study (KFACS). PMC, National Institutes of Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8198611/
6. de Souza Genaro, P., et al. (2026). Challenges to Timely Identify and Treat Anorexia in Aging in the Context of the Integrated Care for Older People (ICOPE) Program. PMC, National Institutes of Health. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12809132/
7. Dagenais, J., et al. (2026). The Anorexia of Ageing and Risk of Mortality: More Than a Story of Malnutrition? PMC, National Institutes of Health. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12880563/

***

Foto: (Ilustrasi: gemini.google.com)

jurnal,tidak nafsu makan,lansia tak nafsu makan

ARTIKEL LAINNYA

Kebiasaan Terburuk yang Tanpa Sadar Bisa Merugikan Lansia

Hari Kesehatan Mental Sedunia: Jangan Abaikan Kesehatan Jiwa Lansia

Menikmati Wisata dengan Aman dan Nyaman

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026