Ketika Anak Sibuk, Apa Dampaknya bagi Kesehatan Mental Orang Tua?


Sebaliknya, lansia yang tinggal sendiri belum tentu merasa kesepian jika tetap memiliki hubungan sosial yang bermakna.

2026-10-09T08:11

GERIATRI.CO.ID - “Anak saya sibuk, saya tidak mau mengganggu.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian orang tua yang sudah lanjut usia, semakin jarang berkomunikasi dengan anak bisa membuat rumah terasa lebih sepi.

Anak bekerja, mengurus keluarga sendiri, atau tinggal di kota yang berbeda. Sementara itu, kehidupan lansia mungkin sudah berubah: pensiun, kehilangan pasangan, berkurangnya aktivitas, atau lingkar pertemanan yang semakin kecil.

Bukan berarti anak yang sibuk otomatis membuat orang tua mengalami gangguan mental. Namun, ketika kesibukan membuat hubungan sosial lansia semakin terbatas dan rasa kesepian berlangsung terus-menerus, kesehatan mental perlu diperhatikan.

WHO menyebut kesepian dan isolasi sosial sebagai faktor risiko penting bagi masalah kesehatan mental pada usia lanjut. Sekitar satu dari empat lansia di dunia mengalami isolasi sosial, sementara sekitar satu dari sepuluh mengalami kesepian, menurut WHO.

Kesepian tidak selalu berarti seseorang benar-benar sendirian. Seorang lansia bisa tinggal bersama keluarga tetapi tetap merasa kesepian ketika tidak memiliki hubungan yang cukup dekat, tidak memiliki teman berbicara, atau merasa tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Sebaliknya, lansia yang tinggal sendiri belum tentu merasa kesepian jika tetap memiliki hubungan sosial yang bermakna.

WHO menekankan bahwa kualitas hubungan sosial penting bagi kesehatan mental, kesehatan fisik, dan kesejahteraan.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata berapa kali anak datang dalam sebulan.

Kesepian yang berlangsung lama dapat memengaruhi kesejahteraan emosional lansia.

WHO mengaitkan isolasi sosial dan kesepian dengan berbagai dampak terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup. Pada lansia, kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap depresi dan kecemasan.

Beberapa perubahan yang patut diperhatikan keluarga antara lain:

  • lansia semakin jarang berkomunikasi;
  • kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai;
  • lebih sering mengatakan dirinya sendirian atau tidak dibutuhkan;
  • menjadi lebih mudah sedih atau cemas;
  • aktivitas sehari-hari semakin berkurang;
  • pola tidur atau nafsu makan berubah;
  • mulai enggan bertemu orang lain.

Satu tanda saja tentu tidak cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan mental. Namun, perubahan yang menetap atau semakin berat layak diperhatikan.

Sebagian lansia mungkin memang tidak ingin menjadi beban bagi anak. Karena itu, keluarga sebaiknya tidak selalu menunggu orang tua meminta perhatian. Tanyakan lebih dulu. Dengarkan jawabannya.

Menjaga kesehatan mental orang tua bukan berarti seluruh kebutuhan sosial lansia harus dipenuhi oleh anak.

Justru semakin banyak hubungan bermakna yang dimiliki lansia, semakin kuat pula jejaring sosialnya. Teman sebaya, tetangga, komunitas keagamaan, kelompok olahraga, kegiatan lansia, hobi, hingga aktivitas sukarela dapat memberikan rasa terhubung dan memiliki tujuan.

WHO menekankan bahwa kegiatan sosial yang bermakna dapat membantu meningkatkan kesehatan mental, kepuasan hidup dan kualitas hidup, sekaligus mengurangi gejala depresi.

Pada akhirnya, anak tidak harus selalu berada di rumah untuk menunjukkan kepedulian. Yang sering dibutuhkan lansia mungkin bukan percakapan panjang setiap hari, melainkan perasaan bahwa mereka masih diingat, didengar, dan dianggap penting. (lia)

***

Foto: Ibu dan anak laki-lakinya tidak bertegur sapa. (chatgpt.com/ilustrasi)

***

Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver? 


 

anak-orangtua,komunikasi,komunikasi lansia,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Kebiasaan Terburuk yang Tanpa Sadar Bisa Merugikan Lansia

Hari Kesehatan Mental Sedunia: Jangan Abaikan Kesehatan Jiwa Lansia

Menikmati Wisata dengan Aman dan Nyaman

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026