
Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah
GERIATRI.CO.ID - “Nenek sekarang sering pikun, jangan-jangan Alzheimer ya?” Kalimat seperti ini akrab di telinga kita. Kata demensia dan Alzheimer sering dipakai bergantian, dan itu wajar karena keduanya memang berkaitan erat. Tapi keduanya tidak persis sama. Mari kita kenali perbedaannya dengan tenang, supaya kita bisa lebih siap dan lebih peduli pada orang-orang tersayang.
Jawaban singkatnya
Demensia adalah “payung”-nya, Alzheimer adalah salah satu penyakit di bawah payung itu.
Demensia bukan nama satu penyakit. Ini sebutan untuk sekumpulan gejala, yaitu menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir, berbahasa, menilai sesuatu, dan mengurus diri sehari-hari, sampai mengganggu kehidupan. Alzheimer adalah salah satu penyakit otak yang menyebabkan gejala itu.
Analoginya seperti demam. Demam adalah gejala, sedangkan penyebabnya bisa tifus, DBD, atau flu. Demensia itu “demamnya”, dan Alzheimer itu salah satu “penyakit penyebabnya”.
Sebesar apa masalahnya?
Lebih dari 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun. Jadi ini bukan masalah segelintir keluarga, melainkan sesuatu yang dialami banyak orang di banyak negara, termasuk di Indonesia.
Alzheimer: penyebab yang paling umum
Menurut WHO, Alzheimer menyumbang sekitar 60 sampai 70 persen dari seluruh kasus demensia. Pada Alzheimer, sel-sel otak perlahan rusak dan kehilangan hubungan satu sama lain. Para ahli mengaitkannya dengan penumpukan protein tertentu di otak, yaitu amiloid dan tau.
Gejala awalnya biasanya berupa sulit mengingat kejadian atau percakapan yang baru saja terjadi, sementara kenangan lama masih terjaga. Seiring waktu, gejalanya meluas ke bahasa, penilaian, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Prosesnya berlangsung bertahun-tahun dan berbeda pada tiap orang.
Apa yang terjadi di dalam otak?
Bayangkan otak sebagai jaringan jalan raya yang menghubungkan miliaran sel saraf. Pada Alzheimer, jalan-jalan itu perlahan tersumbat dan rusak. Gumpalan protein amiloid menumpuk di sela-sela sel, sedangkan protein tau menggumpal di dalam sel. Akibatnya, pesan antarsel tidak lagi lancar, sel-sel saraf melemah dan akhirnya mati, dan bagian otak pun menyusut. Bagian yang biasanya terkena lebih dulu adalah yang mengatur ingatan, itulah sebabnya lupa hal-hal baru sering menjadi tanda pertama.
Tiga tahap perjalanan Alzheimer
Alzheimer berkembang pelan, dan setiap orang punya kecepatan yang berbeda. Secara garis besar, perjalanannya dibagi menjadi tiga tahap:
• Tahap awal (ringan): masih cukup mandiri, tetapi mulai sering lupa kata, nama, atau letak barang, sulit merencanakan atau mengatur, dan mudah tersesat di tempat yang jarang dikunjungi.
• Tahap menengah (sedang): lupa semakin nyata, bingung soal waktu dan tempat, sulit berpakaian atau mengurus diri, tidur terganggu, serta bisa gelisah, curiga, atau mudah marah. Pendampingan mulai dibutuhkan.
• Tahap lanjut (berat): kemampuan berkomunikasi dan bergerak sangat menurun, sehingga bantuan penuh dibutuhkan. Pada tahap ini, kehangatan sentuhan, suara, dan musik yang dikenal sering masih bisa dirasakan.
Siapa yang lebih berisiko?
Usia adalah faktor risiko terbesar, tetapi Alzheimer bukan sekadar soal umur. Riwayat keluarga dan faktor genetik ikut berperan, dan pada sebagian kecil keluarga penyakit ini bahkan muncul pada usia yang lebih muda. Selain itu, ada faktor gaya hidup dan kesehatan yang masih bisa kita upayakan, antara lain:
• tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas
• merokok dan konsumsi alkohol berlebihan
• kurang bergerak dan kurang aktivitas yang melatih otak
• gangguan pendengaran atau penglihatan yang tidak ditangani
• cedera kepala, depresi, dan kesepian atau minim interaksi sosial
Mitos yang sering kita dengar
• “Alzheimer itu pikun biasa karena tua.” Bukan. Ini penyakit otak yang bisa dikenali dan ditangani.
• “Alzheimer menular.” Tidak. Kita tidak bisa tertular dari orang yang mengalaminya.
• “Hanya orang yang sangat tua yang terkena.” Sebagian besar memang lansia, tetapi sebagian kecil orang mengalaminya lebih dini.
Kenalan dengan jenis demensia lainnya
Selain Alzheimer, ada beberapa jenis lain:
Lupa biasa atau demensia?
Lupa letak kunci atau nama tetangga sesekali adalah hal yang wajar, siapa pun bisa mengalaminya. Perlu diperhatikan bila seseorang:
Perlu diingat juga bahwa demensia lebih sering muncul pada usia lanjut, tetapi bukan bagian yang pasti dari proses menua.
Mengapa perbedaan ini penting?
Karena penyebab yang berbeda bisa berarti penanganan yang berbeda. Beberapa kondisi yang gejalanya mirip demensia, seperti kekurangan vitamin tertentu, gangguan tiroid, depresi, atau efek samping obat, bisa ditangani. Karena itu pemeriksaan ke dokter, seperti dokter umum, dokter saraf, atau dokter geriatri, jauh lebih berguna daripada menebak-nebak sendiri.
Bagaimana dokter memastikannya?
Tidak ada satu tes tunggal yang menjawab semuanya. Biasanya dokter akan:
1. menanyakan riwayat kesehatan dan perubahan yang dialami, sering kali dengan bantuan cerita dari keluarga
2. memeriksa fisik dan saraf
3. melakukan tes daya ingat dan kemampuan berpikir
4. meminta pemeriksaan darah atau pencitraan otak bila diperlukan, untuk mencari penyebabnya
Karena itu, saat berkonsultasi, sebaiknya ajak anggota keluarga yang mengenal keseharian pasien. Cerita mereka sangat membantu.
Adakah obatnya?
Saat ini sebagian besar jenis demensia belum bisa disembuhkan. Meski begitu, penanganan tetap penting. Ada obat yang dapat membantu meringankan gejala pada kondisi tertentu, dan dokter yang menentukan mana yang cocok. Selain obat, dukungan sehari-hari juga besar artinya, seperti rutinitas yang teratur, lingkungan rumah yang aman, aktivitas yang menyenangkan, dan perhatian pada gangguan tidur atau suasana hati.
Khusus untuk Alzheimer, ada obat yang dapat membantu meringankan gejala ingatan dan berpikir untuk sementara waktu, tetapi belum menghentikan penyakitnya. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara juga menyetujui obat jenis baru yang menyasar penumpukan amiloid pada Alzheimer tahap sangat awal. Manfaatnya terbatas dan punya risiko efek samping, serta ketersediaannya berbeda-beda di tiap negara. Karena itu, tanyakan kepada dokter apa yang paling sesuai untuk kondisi Anda.
Untuk keluarga yang merawat
Merawat orang dengan demensia adalah perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh cinta. Beberapa hal kecil bisa membantu:
Pesan hangat
Kalau Anda atau keluarga mulai khawatir, tidak perlu panik dan tidak perlu menunda. Pemeriksaan dini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi supaya kita tahu langkah terbaik. WHO juga menyebut bahwa hingga 45 persen kasus mungkin bisa dicegah atau ditunda dengan mengatasi faktor risiko yang bisa diubah sepanjang hidup. Jadi menjaga tekanan darah, tetap aktif bergerak, dan tetap terhubung dengan orang-orang tersayang itu bermanfaat. Bagi yang merawat, kesabaran dan pelukan sering kali sama berharganya dengan obat.
***
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. Dementia (fact sheet). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dementia
2. Alzheimer’s Association. What Is Dementia? https://www.alz.org/alzheimers-dementia/what-is-dementia
3. National Institute on Aging (NIA), NIH. What Is Dementia? Symptoms, Types, and Diagnosis. https://www.nia.nih.gov/health/alzheimers-and-dementia/what-is-dementia
4. National Institute on Aging (NIA), NIH. What Is Alzheimer’s Disease? https://www.nia.nih.gov/health/alzheimers-and-dementia/what-alzheimers-disease
5. Jack, C. R. Jr., et al. (2018). NIA-AA Research Framework: Toward a biological definition of Alzheimer’s disease. Alzheimer’s & Dementia, 14(4), 535–562. https://doi.org/10.1016/j.jalz.2018.02.018
6. Livingston, G., et al. (2024). Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission. The Lancet, 404(10452), 572–628. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01296-0
7. Alzheimer’s Disease International. https://www.alzint.org
8. Alzheimer Indonesia (ALZI). https://alzi.or.id
**Tulisan ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
.***
Foto: Ilustrasi (gemini/Google)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri