Influenza 'A' Sedang Ramai, Mengapa Lansia Perlu Lebih Waspada?


Influenza yang awalnya tampak seperti flu biasa dapat berkembang menjadi pneumonia, memperburuk penyakit kronis, bahkan dalam kondisi berat menyebabkan sepsis.

2026-09-21T09:42

GERIATRI.CO.ID - Influenza A tengah ramai diperbincangkan. Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penyakit saluran pernapasan ini, ada satu kelompok yang sebaiknya tidak luput dari perhatian: lansia.

Kementerian Kesehatan RI dalam laporan surveilans hingga 12 September 2026 mencatat proporsi positif influenza meningkat menjadi 38 persen, dari 22 persen pada minggu sebelumnya. Meski demikian, tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah dan terkendali.

Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kasus influenza tidak otomatis berarti sedang terjadi wabah besar. Namun, kewaspadaan tetap penting, terutama pada kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi, termasuk lansia.

Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh mengalami perubahan sehingga kemampuan tubuh menghadapi infeksi dapat menurun.

Menurut CDC, orang berusia 65 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat influenza dibandingkan orang dewasa muda yang sehat. Pada musim influenza tertentu, kelompok usia ini juga menyumbang porsi terbesar dari rawat inap dan kematian terkait flu.

Risikonya semakin besar bila lansia juga memiliki penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru, diabetes, atau penyakit ginjal.

Influenza yang awalnya tampak seperti flu biasa dapat berkembang menjadi pneumonia, memperburuk penyakit kronis, bahkan dalam kondisi berat menyebabkan sepsis. WHO juga memasukkan lansia sebagai salah satu kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza.

Gejala influenza umumnya berupa demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, pilek, serta rasa lelah.

Namun, pada lansia, perhatian sebaiknya tidak hanya tertuju pada demam. 

Perubahan kondisi secara tiba-tiba, seperti lemas berat, nafsu makan menurun, sulit beraktivitas, kebingungan, atau penyakit kronis yang tiba-tiba memburuk, juga perlu diperhatikan.

Jika muncul sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kondisi memburuk setelah sempat membaik, lansia sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Pencegahan tetap menjadi langkah penting. WHO menyebut vaksinasi influenza sebagai cara terbaik untuk mencegah influenza dan komplikasinya. Vaksinasi tahunan terutama dianjurkan bagi kelompok berisiko, termasuk orang berusia 65 tahun ke atas.

Selain vaksinasi, keluarga dapat membantu lansia dengan langkah sederhana:

  • Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
  • Membiasakan mencuci tangan.
  • Menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di situasi yang berisiko.
  • Menjaga ventilasi ruangan.
  • Memastikan lansia cukup istirahat dan mendapatkan asupan cairan serta makanan bergizi.
  • Tidak menunda pemeriksaan jika gejala semakin berat.

Bagi lansia yang memiliki penyakit kronis, influenza juga perlu diperhatikan karena infeksi dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. (lia)


 

influenza,influenza lansia,cukup istirahat,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Alzheimer dan Demensia: Sama atau Beda?

Hari Alzheimer Sedunia: Jangan Menunggu Lupa, Jangan Anggap Lupa Itu Biasa

Jepang Ukir Rekor Demografi: Lebih dari 100 Ribu Penduduk Kini Berusia Seabad

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026