
GERIATRI.CO.ID – Setiap 21 September, dunia memperingati "Hari Alzheimer Sedunia". Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Alzheimer dan demensia bukan semata-mata persoalan orang yang sudah lanjut usia. Perhatian terhadap kesehatan otak justru perlu dimulai jauh sebelum seseorang memasuki usia lansia.
Di sinilah pralansia menjadi penting.
Pralansia—mereka yang mulai memasuki fase menjelang usia lanjut—tidak perlu menunggu sampai usia 60 tahun atau lebih untuk mulai memikirkan kesehatan otak. Sebab, risiko demensia terbentuk melalui perjalanan hidup yang panjang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut usia sebagai faktor risiko terkuat untuk demensia. Namun, sejumlah faktor lain juga berperan, antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, kurang aktivitas fisik, merokok, isolasi sosial, gangguan pendengaran, pola makan tidak sehat dan paparan polusi udara.
Artinya sederhana: menjaga otak tidak harus menunggu tua.
Pralansia bisa mulai dengan hal-hal yang sebenarnya sangat familiar. Bergerak secara rutin, menjaga berat badan, mengontrol tekanan darah dan gula darah, berhenti merokok, tidur cukup, makan lebih sehat, tetap bersosialisasi, serta menjaga pikiran tetap aktif.
Tidak kalah penting, jangan menganggap remeh gangguan pendengaran. Ketika seseorang sulit mendengar, ia bisa semakin menarik diri dari percakapan dan lingkungan sosial. WHO memasukkan gangguan pendengaran sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko penurunan kognitif dan demensia.
Lalu bagaimana dengan lansia?
Pesannya bukan “jangan sampai lupa”. Sebab lupa sesekali adalah bagian dari kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang menetap dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya, sering mengulang pertanyaan yang sama, tersesat di tempat yang sebenarnya sudah dikenal, kesulitan melakukan pekerjaan yang sebelumnya biasa dilakukan, semakin sulit menemukan kata-kata, atau mengalami perubahan perilaku dan kemampuan mengambil keputusan.
Jika perubahan seperti itu muncul dan semakin sering terjadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa itu hanya karena faktor usia. Pemeriksaan lebih dini justru dapat membantu keluarga memahami apa yang sedang terjadi dan menentukan dukungan yang diperlukan. Tema Hari Alzheimer Sedunia 2026 pun menekankan bahwa semakin dini seseorang mengetahui kondisinya, semakin banyak hal yang dapat dilakukan.
Dan satu lagi yang sering terlupakan: Alzheimer bukan hanya urusan orang yang mengalaminya. Ada pasangan yang tiba-tiba harus menjadi pendamping. Ada anak yang harus mengatur obat, makanan, aktivitas dan pemeriksaan. Ada keluarga yang harus belajar memahami perubahan perilaku orang yang dicintainya.
Karena itu, "Hari Alzheimer Sedunia" seharusnya bukan hanya menjadi hari untuk mengingat Alzheimer, tetapi juga mengingat pentingnya keluarga.
Bagi pralansia, ini waktunya mulai menjaga otak. Bagi lansia, ini waktunya lebih peka terhadap perubahan. Dan bagi keluarga, ini waktunya berhenti menganggap semua lupa sebagai “maklum, sudah tua”. (a2s)
***
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri