Bukan Sekadar Menambah Vitamin, Ini Cara Menjaga Imun Lansia Tetap Optimal


Penurunan nafsu makan, gangguan penciuman dan pengecap, masalah kesehatan mulut, kesepian, maupun depresi dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi.

2026-09-18T14:13

GERIATRI.CO.ID - Ketika memasuki usia lanjut, menjaga daya tahan tubuh menjadi semakin penting. Tak sedikit keluarga yang kemudian mengandalkan vitamin atau suplemen dengan harapan lansia tidak mudah sakit.

Padahal, menjaga sistem imun lansia tidak sesederhana menambah vitamin. Asupan gizi yang cukup memang penting, tetapi perlu berjalan bersama pola makan sehat, aktivitas fisik, tidur yang cukup, pengendalian penyakit kronis, hingga vaksinasi.

National Institutes of Health (NIH) melalui Office of Dietary Supplements menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan berbagai vitamin dan mineral untuk menjalankan fungsi imun dengan baik. Namun, pada orang yang tidak mengalami kekurangan zat gizi tertentu, mengonsumsi vitamin dan mineral dalam jumlah lebih banyak melalui suplemen belum tentu mencegah infeksi atau membuat seseorang lebih cepat pulih.

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

1. Utamakan makanan bergizi, bukan sekadar suplemen

Vitamin A, B6, B12, C, D, dan E serta sejumlah mineral seperti zinc, selenium, zat besi, magnesium, dan lainnya berperan dalam fungsi tubuh, termasuk sistem imun.

Karena itu, kebutuhan tersebut idealnya dipenuhi melalui pola makan yang beragam. 

NIH menekankan bahwa mengonsumsi berbagai makanan bergizi dapat membantu menyediakan vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan sistem imun.

WHO juga menekankan empat prinsip utama pola makan sehat, yaitu kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein dapat menjadi bagian dari pola makan tersebut.

2. Jangan abaikan risiko kurang gizi

Pada lansia, persoalan imun tidak bisa dipisahkan dari status gizi. WHO menyebut proses penuaan dapat disertai perubahan yang memengaruhi status nutrisi. 

Penurunan nafsu makan, gangguan penciuman dan pengecap, masalah kesehatan mulut, kesepian, maupun depresi dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi. Kekurangan vitamin dan mineral pada lansia juga dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Karena itu, lansia yang berat badannya terus turun, sulit makan, atau mengalami penurunan nafsu makan sebaiknya tidak langsung diberi banyak suplemen. Yang lebih penting adalah mencari tahu mengapa asupan makan berkurang.

3. Tetap aktif sesuai kemampuan

Menjaga imunitas juga berkaitan dengan menjaga tubuh tetap aktif. WHO merekomendasikan orang lanjut usia tetap melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan dan kondisi kesehatannya. 

Bagi lansia dengan mobilitas yang buruk, aktivitas yang melatih keseimbangan juga dianjurkan untuk membantu mencegah jatuh.

Aktivitasnya tidak harus selalu olahraga berat. Berjalan kaki, latihan kekuatan ringan, latihan keseimbangan, atau aktivitas sehari-hari yang membuat tubuh bergerak dapat menjadi pilihan sesuai kondisi lansia.

4. Pastikan vaksinasi tidak terlewat

Imunitas bukan hanya tentang bagaimana tubuh melawan penyakit setelah terinfeksi, tetapi juga bagaimana risiko infeksi dicegah sejak awal.

WHO menilai vaksinasi orang dewasa merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung penuaan sehat. Populasi dunia juga semakin menua, sehingga perlindungan melalui imunisasi pada kelompok usia lanjut menjadi semakin penting.

Jenis vaksin dan jadwalnya tentu perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, serta rekomendasi tenaga kesehatan.

5. Kendalikan penyakit kronis

Lansia sering memiliki lebih dari satu kondisi kesehatan, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau penyakit paru.

Menjaga kondisi tersebut tetap terkontrol merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan. WHO menekankan bahwa pola makan sehat dan aktivitas fisik pada usia lanjut berperan dalam kesehatan, kemampuan fungsional, mobilitas, serta kemandirian.

6. Tidur cukup dan jangan abaikan kondisi psikologis

Kesehatan lansia bukan hanya persoalan fisik. Kesepian, depresi, dan kurangnya dukungan sosial juga dapat berhubungan dengan status gizi dan kesehatan lansia.

WHO mencatat bahwa isolasi dan kesepian termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi pada usia lanjut.

Karena itu, menjaga rutinitas tidur, tetap berinteraksi dengan keluarga atau komunitas, dan memastikan lansia memiliki aktivitas yang bermakna juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Jadi, perlu vitamin atau tidak? Jawabannya tergantung kondisi masing-masing lansia.

Jika terdapat kekurangan vitamin atau mineral tertentu, tenaga kesehatan dapat merekomendasikan suplemen untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, jika tidak ada kekurangan, menambah dosis vitamin secara sembarangan bukan berarti otomatis membuat sistem imun semakin kuat.

Bahkan, mengonsumsi suplemen dalam jumlah berlebihan juga tidak selalu aman. Menjaga imun lansia pada akhirnya bukan soal mencari satu vitamin “penguat imun”. 

Yang lebih penting adalah memastikan lansia mendapatkan makanan bergizi, tetap bergerak, memiliki status gizi yang baik, mendapatkan vaksinasi sesuai kebutuhan, penyakit kronis terkontrol, serta memperoleh dukungan fisik dan sosial. (lia)

***


 

menjaga imunitas,vitamin,tetap sehat lansia,imunitas lansia

ARTIKEL LAINNYA

Oma Koestijah Darti Koestiwi: Usia 93 Tahun, Tetap Aktif Menjalani Hari

Kamar Mandi Ramah Lansia: 8 Alat yang Sebaiknya Ada di Rumah

Flu pada Lansia Bisa Berujung Pneumonia, Kapan Harus Dibawa ke Dokter?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026