Flu pada Lansia Bisa Berujung Pneumonia, Kapan Harus Dibawa ke Dokter?


Ada satu hal yang sering membuat keluarga terlambat menyadari lansia sedang mengalami infeksi yaitu tidak adanya demam tinggi.

2026-09-18T11:02

GERIATRI.CO.ID - Batuk, pilek, dan badan meriang pada lansia sering dianggap sebagai flu biasa. Padahal, pada usia lanjut, influenza bisa berkembang menjadi komplikasi serius, salah satunya pneumonia.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang berusia 65 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat influenza. Salah satu alasannya adalah perubahan sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia.

Pneumonia sendiri dapat terjadi karena virus influenza langsung menginfeksi paru-paru maupun karena infeksi bakteri sekunder setelah seseorang terserang flu.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan sistem imun dalam merespons infeksi dapat menurun. Risiko menjadi lebih besar bila lansia juga memiliki penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, asma, atau penyakit paru kronis.

CDC mencatat bahwa lansia 65 tahun ke atas menanggung beban terbesar dari penyakit influenza berat pada sebagian besar musim flu. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 70–85 persen kematian terkait influenza dan 50–70 persen rawat inap terkait influenza terjadi pada kelompok usia ini di Amerika Serikat. Karena itu, flu pada lansia sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai penyakit ringan.

Salah satu tanda yang paling perlu diperhatikan adalah kesulitan bernapas atau sesak napas. Keluarga juga perlu segera mencari pertolongan medis jika lansia mengalami:

  • nyeri atau tekanan yang menetap di dada;
  • pusing berat atau terus-menerus;
  • kebingungan atau sulit dibangunkan;
  • tidak buang air kecil;
  • kelemahan atau tubuh terasa sangat tidak stabil;
  • nyeri otot yang berat;
  • penyakit kronis yang tiba-tiba memburuk;
  • batuk atau demam yang sempat membaik tetapi kemudian kembali atau semakin berat.

Gejala tersebut tidak selalu berarti lansia pasti mengalami pneumonia. Namun, kondisi tersebut merupakan tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi medis segera.

Ada satu hal yang sering membuat keluarga terlambat menyadari lansia sedang mengalami infeksi yaitu tidak adanya demam tinggi.

CDC menyebutkan bahwa tidak semua orang dengan influenza mengalami demam, terutama orang lanjut usia. Karena itu, tidak adanya demam bukan berarti influenza atau komplikasi serius bisa langsung disingkirkan.

Pada lansia, perubahan kondisi secara keseluruhan justru perlu diperhatikan. Misalnya, lansia yang biasanya aktif tiba-tiba menjadi sangat lemas, lebih banyak tidur, kehilangan nafsu makan, atau mendadak bingung. Bahkan, CDC menyebut kebingungan sebagai salah satu bentuk presentasi yang dapat muncul pada lansia dengan influenza.

Lantas, kapan sebaiknya dibawa ke dokter?

Tidak perlu menunggu sampai kondisi memburuk untuk berkonsultasi. CDC merekomendasikan agar orang berusia 65 tahun ke atas yang mengalami gejala flu segera menghubungi tenaga kesehatan, karena mereka termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami komplikasi. Obat antivirus influenza juga direkomendasikan diberikan sesegera mungkin pada kelompok berisiko tersebut bila influenza dicurigai atau terkonfirmasi.

Pengobatan antivirus paling bermanfaat bila diberikan sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, pada lansia berisiko tinggi, pengobatan tetap dapat dipertimbangkan meskipun sudah melewati 48 jam, berdasarkan penilaian dokter.

Mencegah influenza tetap lebih baik daripada menghadapi komplikasinya. CDC menyebut vaksinasi influenza sebagai perlindungan terbaik terhadap influenza dan komplikasinya. Untuk kelompok usia 65 tahun ke atas, CDC secara khusus merekomendasikan penggunaan vaksin influenza dosis tinggi, vaksin rekombinan, atau vaksin adjuvan bila tersedia dan sesuai rekomendasi setempat.

Vaksin pneumokokus juga penting dibicarakan dengan dokter. Pasalnya, influenza dapat meningkatkan risiko penyakit pneumokokus, termasuk pneumonia pneumokokus.

Selain vaksinasi, keluarga dapat membantu melindungi lansia dengan menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, rajin mencuci tangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta menjaga kebersihan dan kualitas udara di lingkungan rumah. (lia)

pneumonia ,paru-paru,demam tinggi,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Oma Koestijah Darti Koestiwi: Usia 93 Tahun, Tetap Aktif Menjalani Hari

Kamar Mandi Ramah Lansia: 8 Alat yang Sebaiknya Ada di Rumah

Bukan Sekadar Menambah Vitamin, Ini Cara Menjaga Imun Lansia Tetap Optimal

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026