
Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah
GERIATRI.CO.ID - Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari keluarga yang merawat lansia adalah soal minum: sebenarnya berapa banyak cairan yang mereka butuhkan, terutama saat cuaca sedang panas? Pertanyaan ini wajar, karena dehidrasi pada lansia sering kali tidak terlihat jelas sampai sudah cukup parah.
Data dari National Council on Aging (NCOA) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa dehidrasi memang jadi salah satu masalah kesehatan yang cukup umum dialami lansia, dan bisa berdampak pada keseimbangan tubuh hingga meningkatkan risiko jatuh. Penelitian yang dirangkum dalam jurnal Nutrients juga menemukan bahwa sekitar separuh dari populasi lansia di berbagai negara ternyata tidak memenuhi kebutuhan cairan hariannya — dan kelompok ini menjadi jauh lebih rentan saat musim panas ekstrem berlangsung.
Kabar baiknya, ini adalah masalah yang bisa dicegah. Bukan karena lansia malas minum, tetapi karena tubuh yang menua memang mengubah cara seseorang merasakan haus dan mengatur cairan. Berikut penjelasan mengapa hal itu terjadi, seberapa banyak cairan yang sebaiknya dipenuhi, tanda-tanda dehidrasi yang perlu dikenali sejak dini, serta cara praktis membantu lansia tetap terhidrasi baik selama musim kemarau.
Mengapa Lansia Lebih Rentan Dehidrasi?
Rasa haus sebenarnya adalah alarm alami tubuh yang memberi tahu kita untuk minum. Namun, seiring bertambahnya usia, sensitivitas alarm ini menurun — tinjauan ilmiah dalam jurnal Nutrients menjelaskan bahwa ambang rasa haus pada lansia cenderung lebih tinggi, sehingga tubuh sudah kekurangan cairan cukup banyak sebelum rasa haus benar-benar dirasakan. Akibatnya, banyak lansia berhenti minum bukan karena sudah cukup cairan, melainkan karena memang tidak merasa perlu.
Selain itu, total cairan tubuh pada lansia secara alami lebih sedikit dibanding orang dewasa muda, dan fungsi ginjal dalam mengatur keseimbangan cairan juga ikut menurun. Beberapa kondisi lain turut memperberat risiko ini: keterbatasan mobilitas yang membuat lansia enggan sering ke kamar mandi, gangguan penglihatan yang menyulitkan mengambil minum sendiri, hingga obat-obatan seperti diuretik yang meningkatkan pengeluaran cairan lewat urine. Pada lansia dengan diabetes, kondisi ini bisa makin kompleks — kadar gula darah yang tinggi akibat kurang minum justru mendorong tubuh mengeluarkan lebih banyak urine, yang selanjutnya memperberat dehidrasi.
Berapa Banyak Cairan yang Sebaiknya Dipenuhi?
Kebutuhan cairan setiap orang sebenarnya berbeda-beda, tergantung berat badan, tingkat aktivitas, suhu lingkungan, dan kondisi kesehatan. Sebagai gambaran umum, National Academy of Medicine di Amerika Serikat menyarankan asupan cairan harian sekitar 13 gelas untuk pria dan 9 gelas untuk wanita usia 51 tahun ke atas, dihitung dari seluruh sumber cairan termasuk makanan. Sementara itu, European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN) memberi angka yang sedikit berbeda: sekitar 2 liter untuk pria dan 1,6 liter untuk wanita lansia per hari.
Perbedaan angka antar lembaga ini wajar, karena kebutuhan cairan memang bersifat individual. Yang terpenting bukan mengejar angka yang persis sama untuk semua orang, melainkan memastikan cairan diminum secara teratur sepanjang hari — bukan menunggu haus, dan bukan pula sekaligus dalam jumlah besar. Bagi lansia dengan kondisi tertentu seperti gagal jantung atau gangguan ginjal, kebutuhan cairan bisa jauh berbeda dan justru perlu dibatasi, sehingga penyesuaian sebaiknya dilakukan bersama dokter yang merawat, bukan mengikuti anjuran umum begitu saja.
Mengenali Tanda Dehidrasi Sejak Dini
Cara paling sederhana untuk memantau status cairan adalah dengan memperhatikan warna urine — menurut American Heart Association, urine yang berwarna jernih hingga kuning muda umumnya menandakan cairan tubuh tercukupi, sementara warna kuning gelap atau kecokelatan bisa menjadi tanda tubuh mulai kekurangan cairan.
Tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai keluarga meliputi mulut dan bibir kering, mudah lelah, pusing atau limbung terutama saat berdiri, kebingungan mendadak, serta berkurangnya frekuensi buang air kecil. Pada lansia, kebingungan mendadak (yang kadang disalahartikan sebagai tanda penuaan biasa) justru bisa menjadi salah satu tanda awal dehidrasi yang perlu segera ditangani. Lembaga kesehatan AS (NIH) turut mencatat bahwa dehidrasi termasuk salah satu penyebab tersering rawat inap pada lansia, sehingga tanda-tanda ini sebaiknya tidak dianggap remeh.
Bila lansia menunjukkan kebingungan berat, tidak sadarkan diri, atau tidak mampu minum sendiri karena mual terus-menerus, ini merupakan kondisi darurat yang perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Cara Membantu Lansia Tetap Terhidrasi
Salah satu cara paling efektif adalah menjadikan minum sebagai kebiasaan terjadwal, bukan menunggu rasa haus muncul — misalnya menyediakan segelas air setiap kali selesai makan, minum obat, atau bangun tidur. Meletakkan air minum di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau, terutama bagi lansia dengan keterbatasan mobilitas atau penglihatan, juga membantu meningkatkan asupan cairan tanpa terasa memberatkan.
Cairan tidak harus selalu berupa air putih. Sup, buah-buahan dengan kadar air tinggi seperti semangka dan jeruk, susu, serta jus dapat menjadi sumber cairan tambahan yang membantu memenuhi kebutuhan harian, sekaligus memberi variasi rasa yang mungkin lebih disukai lansia dibanding air putih saja. Kopi dalam jumlah wajar umumnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan — tinjauan ilmiah menunjukkan konsumsi kafein dalam dosis sedang tidak banyak memengaruhi status hidrasi, meski tetap perlu diperhatikan pada lansia dengan kondisi jantung tertentu.
Selama musim kemarau, kebutuhan cairan biasanya meningkat karena penguapan keringat yang lebih banyak, sehingga jadwal minum perlu disesuaikan lebih sering dari biasanya, terutama pada siang hari saat suhu memuncak. Bagi lansia yang mengonsumsi diuretik atau memiliki gangguan ginjal maupun jantung, penyesuaian jumlah cairan sebaiknya tetap didiskusikan dengan dokter, karena menaikkan asupan cairan secara sepihak bisa membawa risiko tersendiri bagi kondisi tersebut.
Penutup
Dehidrasi pada lansia adalah masalah yang mudah luput dari perhatian, tetapi sebenarnya bisa dicegah dengan langkah-langkah sederhana: menjadwalkan minum secara teratur, mengenali tanda-tanda awal, dan menyesuaikan kebutuhan cairan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Peran keluarga sangat menentukan di sini, mengingat lansia sering kali tidak menyadari sendiri bahwa tubuhnya sudah mulai kekurangan cairan.
***
* Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Bagi lansia dengan gangguan jantung, ginjal, atau kondisi kronis lain, kebutuhan cairan sebaiknya ditentukan bersama dokter yang merawat.
Daftar Pustaka
1. National Council on Aging (NCOA). How to Stay Hydrated: A Guide for Older Adults. https://www.ncoa.org/article/how-to-stay-hydrated-for-better-health/
2. National Institutes of Health (NIH), StatPearls – NCBI Bookshelf. Adult Dehydration. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555956/
3. National Institute on Aging (NIA), National Institutes of Health (NIH). Hot Weather Safety for Older Adults. https://www.nia.nih.gov/health/safety/hot-weather-safety-older-adults
4. American Heart Association (AHA). How to Be Active Safely in Warm Weather. https://www.heart.org/en/healthy-living/exercise-and-physical-activity/getting-active/how-to-stay-active-in-warm-weather
5. Nikolaou, C., et al. (2025). Hydration Strategies in Older Adults. Nutrients, 17(14), 2256. https://www.mdpi.com/2072-6643/17/14/2256
6. European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN), dikutip dalam: ASA Generations. (2024). Fluid in the Balance: Hydration and Nutrition Recommendations for Older Adults. https://generations.asaging.org/hydration-and-nutrition-recs-older-adults/
***
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri