
GERIATRI.CO.ID - Jangan tunggu sampai benar-benar darurat. Bagi lansia, perjalanan jauh sebaiknya juga disertai strategi sederhana menghadapi urusan ke toilet.
Kebelet BAB saat sedang berada di kendaraan umum tentu bukan pengalaman yang menyenangkan. Apalagi jika kereta sedang melaju, jalanan macet, atau lokasi toilet terdekat masih cukup jauh. Panik bisa muncul, malu apalagi.
Peristiwa seorang penumpang lansia yang BAB di dalam KRL hari Jumat (11/9/2026), dikecam keras karena perilaku pengguna Commuter Line itu tidak menjaga kebersihan dan kenyamanan di dalam kereta.
"Fasilitas toilet ini juga ditempatkan di lokasi yang mudah untuk digunakan oleh pengguna. KAI Commuter juga mengimbau kepada seluruh pengguna untuk selalu menjaga kebersihan, kenyamanan dan selalu menghormati pengguna lainnya," ujar VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda.
Lalu, kalau Opa atau Oma tiba-tiba kebelet BAB ketika sedang bepergian, apa yang sebaiknya dilakukan?
Pertama, jangan panik dan jangan malu meminta bantuan. Jika dorongan BAB sudah sulit ditahan, segera beri tahu pendamping atau petugas. Jelaskan dengan terus terang bahwa membutuhkan toilet. Dalam situasi seperti ini, keselamatan dan kenyamanan tubuh jauh lebih penting daripada rasa sungkan.
Kedua, jangan membiasakan diri menahan BAB terlalu lama. Sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah, tetapi terus-menerus menahan dorongan BAB bukan kebiasaan yang baik. Tubuh punya sinyal sendiri, dan sinyal tersebut sebaiknya tidak selalu diabaikan.
Ketiga, kenali pola BAB sebelum bepergian. Ada lansia yang biasanya BAB setelah sarapan atau setelah minum minuman tertentu. Pola ini bisa menjadi petunjuk untuk mengatur waktu keberangkatan. Bila memungkinkan, beri kesempatan tubuh menyelesaikan “urusan pagi” sebelum berangkat.
Keempat, kenali lokasi toilet. Sebelum perjalanan, tidak ada salahnya mengetahui stasiun, terminal, rest area, atau tempat pemberhentian yang menyediakan toilet. Bagi lansia, mengetahui “tempat penyelamatan” seperti ini bisa membuat perjalanan jauh lebih tenang.
Kelima, siapkan perlengkapan darurat. Tisu, tisu basah, pakaian dalam atau celana cadangan, serta kantong plastik kecil mungkin terlihat sepele. Namun ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, benda-benda tersebut bisa terasa sangat berharga.
Tentu, BAB di tempat yang tidak semestinya tetap bukan sesuatu yang dibenarkan. Namun, ketika kejadian melibatkan lansia, kita juga perlu melihat persoalannya dengan kacamata yang lebih manusiawi. Bisa jadi ada masalah kesehatan yang membuat seseorang tidak mampu menahan BAB seperti orang pada umumnya.
Jika kejadian kebelet BAB atau sulit menahan BAB sering berulang, sebaiknya jangan dianggap sekadar “namanya juga sudah tua”. Kondisi tersebut layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan untuk mencari penyebabnya.
Sebab menjadi lansia bukan berarti harus selalu menanggung rasa malu sendirian. Kadang tubuh memang memberi tanda yang tidak bisa ditunda. Yang penting, Opa Oma tahu cara mengantisipasinya dan keluarga tidak ragu membantu. (a2s)
***
Foto: Ilustrasi
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri