
GERIATRI.CO.ID - Lansia yang tiba-tiba bingung, sulit diajak berkomunikasi, atau berperilaku berbeda dari biasanya sering kali dianggap sedang mengalami demensia. Padahal, jika perubahan itu muncul secara mendadak, keluarga perlu waspada. Salah satu penyebabnya bisa berupa delirium akibat infeksi serius, termasuk sepsis.
Bayangkan seorang lansia yang biasanya masih mampu berbincang dan mengenali anggota keluarganya. Tiba-tiba ia terlihat mengantuk, tidak mengenali orang di sekitarnya, berbicara tidak nyambung, atau justru menjadi sangat gelisah.
Perubahan seperti ini tidak selalu berarti demensia semakin parah. Jika muncul dalam hitungan jam atau hari, perubahan mendadak pada kondisi mental justru perlu segera dicari penyebabnya.
Bingung mendadak berbeda dengan demensia. Demensia umumnya berkembang secara perlahan dan menyebabkan penurunan fungsi kognitif secara bertahap.
Sebaliknya, delirium biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat berubah-ubah sepanjang hari. Lansia bisa tampak bingung, sulit berkonsentrasi, mengantuk, gelisah, mengalami perubahan perilaku, bahkan mengalami halusinasi.
National Institute for Health and Care Excellence (NICE) menyebut perubahan konsentrasi, respons yang melambat, kebingungan, perubahan perilaku, mobilitas, pola tidur, maupun komunikasi sebagai tanda yang perlu diperhatikan pada delirium.
Pada lansia yang sudah memiliki demensia, kondisi ini menjadi lebih sulit dikenali karena keluarga mungkin menganggap perubahan perilaku tersebut sebagai bagian dari penyakit yang sudah ada.
Padahal, perubahan yang terjadi secara mendadak dari kondisi biasanya (baseline) adalah petunjuk penting.
Lantas, mengapa bisa berkaitan dengan sepsis?
Sepsis merupakan respons tubuh yang ekstrem terhadap infeksi dan merupakan kondisi kegawatdaruratan medis. Tanpa penanganan cepat, sepsis dapat menyebabkan kerusakan jaringan, kegagalan organ, bahkan kematian.
Infeksi yang berkembang menjadi sepsis paling sering berasal dari paru-paru, saluran kemih, kulit, atau saluran pencernaan.
Pada kondisi tersebut, perubahan fungsi otak dapat menjadi salah satu tanda yang muncul. CDC memasukkan confusion atau disorientation sebagai salah satu gejala sepsis.
Karena itu, ketika seorang lansia yang biasanya baik-baik saja tiba-tiba mengalami perubahan kesadaran atau perilaku, keluarga perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya infeksi atau kondisi medis akut lainnya.
Panduan NICE mengingatkan bahwa orang dengan sepsis dapat tidak mengalami suhu tubuh tinggi, sementara pada orang lanjut usia respons denyut jantung terhadap infeksi juga dapat berbeda.
Artinya, tidak adanya demam bukan berarti sepsis bisa disingkirkan. Keluarga perlu melihat perubahan kondisi secara keseluruhan.
Misalnya, seorang lansia yang biasanya aktif tiba-tiba menjadi sangat lemas, mengantuk, bingung, tidak mau makan, napas lebih cepat, atau tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya bisa dilakukan. Perubahan tersebut perlu diperhatikan, terutama jika muncul bersamaan dengan tanda infeksi. (lia)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri