
Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah
GERIATRI.CO.ID - Abu vulkanik berbeda dari polusi udara biasa, meski sepintas keduanya sama-sama membuat udara terlihat keruh. USGS, lembaga survei geologi Amerika Serikat, bersama jaringan IVHHN yang meneliti bahaya kesehatan gunung berapi, menjelaskan bahwa abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang tajam dan tidak larut air. Sifatnya yang abrasif ini yang membuatnya lebih mudah mengiritasi mata dan saluran napas, bahkan bisa memperparah penyakit pernapasan yang sudah ada, seperti asma.
CDC, badan kesehatan masyarakat Amerika Serikat, menyebut bayi, lansia, dan orang dengan riwayat asma, emfisema, atau penyakit paru kronis lain sebagai kelompok yang paling rentan mengalami gangguan akibat menghirup abu ini. Kalau di rumah ada orang tua, ada baiknya menyiapkan beberapa hal berikut sebelum situasi memburuk.
Bedakan Dulu, Siapa yang Perlu Dijaga Lebih Ketat
CDC menyebutkan bahwa jika peringatan resmi diikuti dengan benar, risiko dampak kesehatan dari erupsi sebenarnya kecil. Yang perlu penjagaan ekstra adalah lansia dengan riwayat asma, PPOK, gagal jantung, atau kondisi tubuh yang sudah rapuh. Lansia yang masih bugar dan tidak punya riwayat penyakit tersebut tetap perlu waspada, hanya saja tidak seketat kelompok dengan penyakit penyerta.
Selama Abu Masih Turun
Untuk lansia yang sehat, selama abu masih turun sebaiknya tetap di dalam rumah dengan jendela dan pintu tertutup rapat, sesuai anjuran CDC. Kalau memang harus keluar untuk urusan mendesak, gunakan respirator N95 yang sudah disetujui NIOSH, bukan masker kain, dan kacamata untuk melindungi mata dari partikel abu yang tajam.
Untuk lansia dengan riwayat penyakit paru, jantung, atau yang sudah renta, lebih baik tidak keluar rumah sama sekali selama masa hujan abu. CDC menegaskan kelompok ini paling rentan mengalami iritasi saluran napas yang serius. Sebaiknya mereka juga tidak dilibatkan untuk membersihkan debu di teras atau halaman; biarkan anggota keluarga yang lebih muda dan sehat yang menanganinya.
Pastikan stok obat rutin, terutama untuk asma, PPOK, atau jantung, cukup sebelum situasi memburuk. CDC menyarankan menyiapkan persediaan obat resep untuk paling tidak satu minggu ke depan.
Rumah Juga Perlu Disiapkan
Panduan keselamatan resmi dari CDC untuk situasi sebelum, selama, dan sesudah erupsi mencakup beberapa hal yang bisa disiapkan di rumah:
Makanan dan Air Minum
Bahaya abu vulkanik tidak berhenti pada udara yang dihirup saja. Saat Gunung St. Helens meletus pada 1980, CDC dan EPA memantau kualitas air minum di wilayah terdampak, dan menemukan bahwa masalah utamanya adalah air yang menjadi keruh karena abu, bukan logam berat atau racun. Beberapa hal berikut penting diperhatikan selama masa hujan abu:
Perlengkapan Darurat
Mengacu pada panduan kesiapsiagaan CDC, ada baiknya rumah sudah menyiapkan:
Kapan Perlu Segera Mencari Bantuan Medis
Aplikasi untuk Memantau Status Gunung dan Sebaran Abu
Penutup
Abu vulkanik biasanya reda dalam beberapa hari, tapi CDC dan USGS menekankan bahwa kepatuhan terhadap arahan resmi adalah faktor paling menentukan dalam menekan risiko kesehatan, baik lewat saluran napas maupun lewat makanan dan air yang tercemar. Dengan menyiapkan rumah, perlengkapan darurat, dan mengenali kondisi lansia di rumah sejak awal, keluarga bisa menghadapi masa-masa ini dengan lebih tenang.
***
Sumber Bacaan
***
Foto: ilustrasi (gemini AI)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri