Menjaga Lansia Saat Ada Abu Vulkanik: Rumah, Aktivitas, dan Makanan


Yang perlu penjagaan ekstra adalah lansia dengan riwayat asma, PPOK, gagal jantung, atau kondisi tubuh yang sudah rapuh.

2026-09-09T16:23

Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah

GERIATRI.CO.ID - Abu vulkanik berbeda dari polusi udara biasa, meski sepintas keduanya sama-sama membuat udara terlihat keruh. USGS, lembaga survei geologi Amerika Serikat, bersama jaringan IVHHN yang meneliti bahaya kesehatan gunung berapi, menjelaskan bahwa abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang tajam dan tidak larut air. Sifatnya yang abrasif ini yang membuatnya lebih mudah mengiritasi mata dan saluran napas, bahkan bisa memperparah penyakit pernapasan yang sudah ada, seperti asma.

CDC, badan kesehatan masyarakat Amerika Serikat, menyebut bayi, lansia, dan orang dengan riwayat asma, emfisema, atau penyakit paru kronis lain sebagai kelompok yang paling rentan mengalami gangguan akibat menghirup abu ini. Kalau di rumah ada orang tua, ada baiknya menyiapkan beberapa hal berikut sebelum situasi memburuk.

Bedakan Dulu, Siapa yang Perlu Dijaga Lebih Ketat

CDC menyebutkan bahwa jika peringatan resmi diikuti dengan benar, risiko dampak kesehatan dari erupsi sebenarnya kecil. Yang perlu penjagaan ekstra adalah lansia dengan riwayat asma, PPOK, gagal jantung, atau kondisi tubuh yang sudah rapuh. Lansia yang masih bugar dan tidak punya riwayat penyakit tersebut tetap perlu waspada, hanya saja tidak seketat kelompok dengan penyakit penyerta.

Selama Abu Masih Turun

Untuk lansia yang sehat, selama abu masih turun sebaiknya tetap di dalam rumah dengan jendela dan pintu tertutup rapat, sesuai anjuran CDC. Kalau memang harus keluar untuk urusan mendesak, gunakan respirator N95 yang sudah disetujui NIOSH, bukan masker kain, dan kacamata untuk melindungi mata dari partikel abu yang tajam.

Untuk lansia dengan riwayat penyakit paru, jantung, atau yang sudah renta, lebih baik tidak keluar rumah sama sekali selama masa hujan abu. CDC menegaskan kelompok ini paling rentan mengalami iritasi saluran napas yang serius. Sebaiknya mereka juga tidak dilibatkan untuk membersihkan debu di teras atau halaman; biarkan anggota keluarga yang lebih muda dan sehat yang menanganinya.

Pastikan stok obat rutin, terutama untuk asma, PPOK, atau jantung, cukup sebelum situasi memburuk. CDC menyarankan menyiapkan persediaan obat resep untuk paling tidak satu minggu ke depan.

Rumah Juga Perlu Disiapkan

Panduan keselamatan resmi dari CDC untuk situasi sebelum, selama, dan sesudah erupsi mencakup beberapa hal yang bisa disiapkan di rumah:

  • Tutup rapat jendela dan pintu selama abu turun, dan usahakan tetap berada di dalam rumah.
  • Matikan AC, pemanas, dan kipas yang menyedot udara dari luar, termasuk tutup cerobong kalau ada, supaya abu tidak ikut tersedot masuk.
  • Kalau terpaksa berkendara, jangan nyalakan AC mobil karena sistem itu menarik udara luar yang mengandung abu. Pastikan juga semua kaca jendela tertutup rapat.
  • Soal teralis atau jeruji besi di jendela, itu urusan keamanan dari luar, bukan penyaring udara, jadi tidak perlu dipasang khusus untuk menghadapi abu vulkanik.

Makanan dan Air Minum

Bahaya abu vulkanik tidak berhenti pada udara yang dihirup saja. Saat Gunung St. Helens meletus pada 1980, CDC dan EPA memantau kualitas air minum di wilayah terdampak, dan menemukan bahwa masalah utamanya adalah air yang menjadi keruh karena abu, bukan logam berat atau racun. Beberapa hal berikut penting diperhatikan selama masa hujan abu:

  • Simpan makanan dalam wadah tertutup rapat selama abu masih berjatuhan. Usahakan tidak ada makanan atau minuman yang dibiarkan terbuka di meja.
  • Tutup rapat semua penampungan air, karena abu yang jatuh ke sumber air terbuka bisa membuatnya keruh dalam waktu singkat.
  • Kalau air di rumah terlihat keruh setelah kena abu, sebaiknya jangan langsung dipakai untuk minum atau memasak. Tunggu dulu konfirmasi dari penyedia air atau dinas kesehatan setempat bahwa airnya sudah aman.
  • Biasakan cuci tangan sebelum menyentuh makanan, karena abu yang menempel di tangan mudah berpindah tanpa disadari.
  • Untuk kondisi spesifik di daerah masing-masing, tetap ikuti arahan Kemenkes dan dinas kesehatan setempat, karena tingkat keparahan abu bisa berbeda-beda antar wilayah.

Perlengkapan Darurat

Mengacu pada panduan kesiapsiagaan CDC, ada baiknya rumah sudah menyiapkan:

  • Obat resep untuk lansia, idealnya cukup untuk satu minggu, disimpan di tempat yang gampang dijangkau saat darurat.
  • Respirator N95 ber-NIOSH, kacamata pelindung, senter, dan baterai cadangan.
  • Air bersih dan makanan yang tidak mudah basi, untuk berjaga-jaga kalau harus bertahan lebih lama dari perkiraan.
  • Radio atau akses ke kanal resmi pemerintah, supaya tetap update dengan info terbaru soal status erupsi.

Kapan Perlu Segera Mencari Bantuan Medis

  • Sesak napas yang tidak membaik meski sudah pakai obat rutin.
  • Mata, hidung, atau tenggorokan yang terus perih meski sudah menjauh dari area terdampak.
  • Nyeri dada atau gangguan napas yang terasa tidak biasa.
  • Muntah berulang atau sakit perut hebat, yang mungkin terjadi karena tanpa sengaja menelan abu lewat makanan atau minuman.

Aplikasi untuk Memantau Status Gunung dan Sebaran Abu

  • MAGMA Indonesia — aplikasi dan situs resmi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Badan Geologi, Kementerian ESDM. Menyediakan status aktivitas gunung api aktif dan laporan sebaran abu. Bisa diakses lewat magma.vsi.esdm.go.id atau aplikasi Android-nya.
  • BMKG — untuk info arah angin dan potensi sebaran abu di atmosfer, biasanya diumumkan lewat situs dan akun resmi BMKG saat ada erupsi besar.

Penutup

Abu vulkanik biasanya reda dalam beberapa hari, tapi CDC dan USGS menekankan bahwa kepatuhan terhadap arahan resmi adalah faktor paling menentukan dalam menekan risiko kesehatan, baik lewat saluran napas maupun lewat makanan dan air yang tercemar. Dengan menyiapkan rumah, perlengkapan darurat, dan mengenali kondisi lansia di rumah sejak awal, keluarga bisa menghadapi masa-masa ini dengan lebih tenang.

***

Sumber Bacaan

  • Volcanoes and Your Safety — Centers for Disease Control and Prevention (CDC) https://www.cdc.gov/volcanoes/about/
  • Health Effects of Volcanic Air Pollution — CDC https://www.cdc.gov/volcanoes/risk-factors/index.html
  • Safety Guidelines: During a Volcanic Eruption — CDC https://www.cdc.gov/volcanoes/safety/protecting-yourself-during-a-volcanic-eruption-safety.html
  • Safety Guidelines: After a Volcanic Eruption — CDC https://www.cdc.gov/volcanoes/safety/protect-yourself-during-a-volcanic-eruption-safety.html
  • Preparing for a Volcanic Eruption — CDC https://www.cdc.gov/volcanoes/safety/index.html
  • Protect Yourself from Ash during a Volcanic Eruption — CDC https://www.cdc.gov/natural-disasters/psa-toolkit/protect-yourself-from-ash-during-a-volcanic-eruption.html
  • Epidemiologic Notes and Reports: Follow-Up on Mount St. Helens (pemantauan kualitas air oleh CDC dan EPA) — CDC MMWR Archive https://stacks.cdc.gov/view/cdc/183113
  • Volcanic Ash — Health Hazards — United States Geological Survey (USGS) https://volcanoes.usgs.gov/volcanic_ash/health.html
  • The Health Hazards of Volcanic Ash: A Guide for the Public — USGS, IVHHN, dan GNS Science https://pubs.usgs.gov/publication/70170800
  • MAGMA Indonesia — Situs resmi PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM https://magma.vsi.esdm.go.id/

***

Foto: ilustrasi (gemini AI)

jurmal,abu vulkanik,lansia dan kesehatan,lansia kesehatan

ARTIKEL LAINNYA

5 Gunung Api Tengah Waspada, Lansia Jangan Anggap Remeh Abu Vulkanik

Usia 92 Tahun Masih Lompat 2,05 Meter, Lyu Mingpu Buktikan "Rekor"

Cek Medis Bagus Belum Tentu Cukup, Ini 3 Hal yang Juga Dinilai untuk Istithaah Haji

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026