
GERIATRI.CO.ID - Indonesia memang negeri gunung api. Namun ketika beberapa gunung api berada dalam aktivitas tinggi secara bersamaan, kewaspadaan tentu perlu ditingkatkan. Bukan hanya soal erupsi dan lava, tetapi juga tentang sesuatu yang sering dianggap sepele: abu vulkanik. Bagi lansia, abu yang beterbangan bisa menjadi persoalan kesehatan yang tidak boleh dianggap remeh.
Per 8 September 2026, sejumlah gunung api di Indonesia masih mendapatkan perhatian serius dari pemantau gunung api. Di antaranya Gunung Anak Krakatau, Merapi, Semeru, Sinabung, dan Lewotobi Laki-laki, yang berada pada tingkat aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan masyarakat.
Anak Krakatau kembali menjadi sorotan
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi salah satu yang paling banyak mendapat perhatian. Aktivitas erupsinya kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat masyarakat di sekitar kawasan perlu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung.
Bahaya gunung api tentu tidak selalu berupa letusan besar yang terlihat dramatis dari kejauhan. Lontaran material, gas vulkanik, lava, hingga abu vulkanik merupakan bagian dari ancaman yang perlu diperhitungkan.
Dan di sinilah lansia perlu mendapat perhatian khusus.
Mengapa abu vulkanik berbahaya bagi lansia?
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel halusnya dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Pada orang sehat sekalipun, paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, mata perih, atau rasa tidak nyaman saat bernapas.
Pada lansia, persoalannya bisa menjadi lebih rumit. Seiring bertambahnya usia, cadangan fungsi paru dan kemampuan tubuh menghadapi berbagai gangguan dapat menurun. Belum lagi sebagian lansia hidup dengan penyakit kronis seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit jantung, atau kondisi lain yang membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan pernapasan.
Saat udara dipenuhi abu vulkanik, lansia sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. Bila harus keluar, gunakan masker yang mampu menyaring partikel dengan baik dan pastikan penggunaannya benar.
Selain hidung dan paru-paru, mata juga perlu diperhatikan. Kacamata dapat membantu mengurangi masuknya partikel abu ke mata. Hindari mengucek mata apabila terasa perih karena justru dapat memperparah iritasi.
Lima gunung, lima kewaspadaan
Selain Anak Krakatau, aktivitas Gunung Merapi juga terus dipantau. Masyarakat di kawasan rawan perlu memperhatikan rekomendasi mengenai zona yang harus dihindari, terutama yang berkaitan dengan potensi guguran material dan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Gunung Semeru di Jawa Timur juga membutuhkan perhatian. Selain aktivitas erupsi dan material vulkanik, masyarakat di sekitar alur sungai yang berhulu di Semeru perlu mewaspadai potensi lahar, terutama ketika hujan turun deras.
Di Sumatera Utara, Gunung Sinabung juga masuk dalam daftar gunung api yang perlu diawasi. Abu vulkanik dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang tidak selalu berada tepat di sekitar kaki gunung.
Sementara itu, Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, juga menjadi bagian dari gunung api yang membutuhkan kewaspadaan. Masyarakat harus mengikuti radius dan rekomendasi keselamatan yang ditetapkan oleh otoritas karena karakter ancaman setiap gunung api tidak sama.
Lansia jangan menunggu sesak
Satu hal penting yang sering terlupakan adalah jangan menunggu sampai lansia mengalami sesak berat untuk kemudian bertindak.
Jika setelah terpapar abu vulkanik lansia mengalami batuk yang terus-menerus, sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, lemas berlebihan, atau kondisi kesehatan yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Bagi keluarga yang merawat lansia, kondisi seperti ini sebaiknya tidak dianggap sekadar "masuk angin" atau efek biasa dari debu. Terlebih bila lansia memang sudah memiliki penyakit paru atau jantung.
Lansia termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika terjadi erupsi dan hujan abu. Bukan karena lansia harus diperlakukan seperti orang yang tidak mampu, tetapi karena kondisi tubuh pada usia lanjut memang membutuhkan strategi perlindungan yang lebih baik. (a2s)
***
(Foto: Antara)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri