Dari Riwayat Penyakit hingga Kondisi Fisik, Ini yang Dinilai Sebelum Haji


Dengan mengetahui riwayat tersebut, dokter dapat mempertimbangkan faktor risiko kesehatan yang mungkin dimiliki calon jemaah.

2026-09-10T08:09

GERIATRI.CO.ID - Sebelum dinyatakan memenuhi istithaah kesehatan, calon jemaah haji akan menjalani pemeriksaan yang cukup menyeluruh. Dokter tidak hanya melihat hasil laboratorium, tetapi juga menggali riwayat kesehatan dan memeriksa kondisi tubuh secara langsung.

Calon jemaah haji perlu memastikan kondisi kesehatannya cukup baik untuk menjalani perjalanan dan rangkaian ibadah. Salah satu tahap penting dalam proses tersebut adalah anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Keduanya menjadi bagian dari pemeriksaan medis dasar yang termuat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/508/2024 tentang Standar Teknis Pemeriksaan Kesehatan dalam rangka Penetapan Status Istithaah Kesehatan Jemaah Haji untuk membantu dokter mengetahui kondisi kesehatan jemaah, faktor risiko, serta penyakit yang mungkin memengaruhi kemampuan menjalankan ibadah haji.

Lantas, apa saja yang diperiksa?

Anamnesis

Anamnesis merupakan proses ketika dokter menggali informasi mengenai kondisi dan riwayat kesehatan jemaah. Dalam pemeriksaan istithaah, dokter antara lain menanyakan kondisi kesehatan saat ini, penyakit yang pernah diderita, hingga riwayat penyakit dalam keluarga.

Riwayat kesehatan sekarang

Dokter akan mencari tahu apakah calon jemaah sedang mengalami penyakit tertentu, termasuk penyakit kronis, penyakit menular, maupun kondisi yang berkaitan dengan disabilitas tertentu. Jika memiliki riwayat penyakit jantung koroner maka ditambahkan pertanyaan riwayat serangan terakhir.

Informasi ini penting, terutama bagi jemaah lansia yang mungkin memiliki beberapa penyakit sekaligus dan rutin mengonsumsi obat.

Riwayat penyakit dahulu

Pemeriksaan juga mencakup penyakit yang pernah maupun sedang diderita, termasuk riwayat operasi.

Riwayat tersebut dicatat secara kronologis agar dokter mendapatkan gambaran perjalanan penyakit dan tindakan medis yang pernah dijalani.

Riwayat penyakit keluarga

Dokter juga dapat menanyakan penyakit yang pernah dialami anggota keluarga, khususnya penyakit yang memiliki kaitan genetik.

Dengan mengetahui riwayat tersebut, dokter dapat mempertimbangkan faktor risiko kesehatan yang mungkin dimiliki calon jemaah.

Pemeriksaan Fisik

Setelah anamnesis, pemeriksaan dilanjutkan dengan melihat kondisi tubuh secara langsung.

Pemeriksaan fisik antara lain mencakup:
a. Tanda vital

  • Tekanan darah
  • Nadi
  • Pernapasan
  • Suhu tubuh

b. Postur tubuh

  • Tinggi badan (TB)
  • Berat badan (BB)
  • Lingkar perut
  • Indek massa tubuh (IMT)

c. Pemeriksaan inspeksi dan palpasi 

  • Kulit
  • Kepala (termasuk pemeriksaan saraf kranial)
  • Mata (misalnya katarak atau glaukoma)
  • Telinga (infeksi seperti otitis media purulenta atau acute), hidung (sinusitis), tenggorokan, gigi, dan mulut
  • Leher dan pembuluh getah bening

d. Pemeriksaan dada (toraks)

  • Paru
  • Jantung

e. Pemeriksaan perut (abdoment)
f. Pemeriksaan ekstremitas (kekuatan otot dan reflek)
g. Pemeriksaan rektum dan urogenital

Apabila pada pemeriksaan anamnesis dan pemeriksaan fisik ditemukan kecurigaan terhadap penyakit tertentu yang memerlukan pemeriksaan selain pemeriksaan penunjang yang bersifat wajib maka kepada jemaah haji diberikan pengantar untuk melakukan pemeriksaan medis lanjutan.

Pemeriksaan medis lanjutan merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk memastikan diagnosis, klasifikasi, dan tingkatan (grading) penyakit tertentu. 

Berikut penyakit yang perlu dilakukan pemeriksaan medis lanjutan: 

- PPOK dan Emfisema.

  • Pemeriksaan lanjutan: Spirometri atau skala sesan mMRC dengan six minutes walking

- Stroke

  • CT-Scan Kepala
  • - Tumor (keganasan)
  • USG/CT-Scan dan ECOG score

- Gagal Jantung, Penyakit Jantung Koroner, Kardiomegali

  • Ekokardiografi atau skala NYHA dengan six minutes walking test (SMWT)

- Tuberkulosis

  • Sputum BTA atau TCM

- HIV/AIDS

  • Tes darah cepat atau Elisa test

- Fraktur Tungkai

  • Foto X-ray

     

***

jemaah haji indonesia,calon jemaah haji indonesia,jemaah haji indonesia 2027,haji lansia

ARTIKEL LAINNYA

Catatan Senior Pasca Gathering 3 di Solo

Klub Serie A Como 1907 Beri “Bonus” Tiket Liga Champions untuk Fans Lansia

10 Bahasa Tertua di Dunia

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026