Abu Vulkanik dan Kesehatan: Ketika Langit Berubah Warna


Ini salah satu penjelasan kenapa daerah-daerah pasca-erupsi kerap melihat lonjakan kasus infeksi saluran napas, bukan cuma iritasi biasa yang hilang begitu debu bersih.

2026-09-08T13:09

Oleh dr. Fatihah 'Kiki' Fikriyah

GERIATRI.CO.ID - Akhir pekan lalu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi menerus, menyemburkan kolom abu vulkanik hingga puluhan ribu kaki ke udara. Abunya lantas menyebar ke berbagai daerah di sekitarnya, mulai dari Lampung, Banten, hingga wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, bahkan sempat memaksa beberapa bandara ditutup sementara. Bukan cuma Anak Krakatau, beberapa gunung berapi lain di Indonesia juga tercatat menunjukkan peningkatan aktivitas belakangan ini.

Bagi banyak orang, berita seperti ini biasanya cuma numpang lewat di linimasa, dianggap urusan orang-orang yang tinggal dekat gunung saja. Padahal abu vulkanik bisa terbawa angin sampai ratusan kilometer jauhnya, menutupi langit kota-kota yang bahkan tidak terasa dekat dengan gunung apa pun. Dan begitu abu itu turun, ada satu pertanyaan yang jarang dipikirkan: ke mana perginya debu itu setelah tidak terlihat lagi di udara? Sebagian besar ternyata sudah lebih dulu masuk ke saluran napas orang-orang yang sempat menghirupnya.

Bukan Debu Biasa

Abu vulkanik itu berbeda dari debu jalanan atau asap kendaraan. Isinya campuran pecahan batu, mineral, dan kaca vulkanik yang ukurannya bisa sangat halus, cukup kecil untuk masuk jauh ke dalam paru-paru. Seberapa berbahaya abu ini bergantung pada beberapa hal: ukuran partikelnya, kandungan silika kristal di dalamnya, dan sifat permukaan partikel itu sendiri. Gejala pernapasan akut seperti asma dan bronkitis cukup sering muncul setelah paparan, meski sejauh ini belum ditemukan bukti kuat soal efek jangka panjang terhadap fungsi paru.

Polanya makin jelas kalau dilihat dalam skala yang lebih besar. Pada lebih dari 2.000 perempuan yang tinggal di area terdampak abu vulkanik, makin tinggi kadar partikel di udara suatu wilayah, makin tinggi pula angka keluhan pernapasan kronis di sana, dari sekitar 5% di area paparan rendah menjadi hampir 10% di area paparan tinggi. Bukan lonjakan yang dramatis, tapi cukup untuk menunjukkan ada hubungan yang nyata.

Bukan Cuma soal Iritasi Sesaat

Ada satu hal menarik: abu vulkanik ternyata bisa mengganggu kerja makrofag, sel imun yang bertugas melawan bakteri di paru-paru. Paparannya justru mempercepat pertumbuhan bakteri sekaligus melemahkan kemampuan sel imun untuk membasminya. Ini salah satu penjelasan kenapa daerah-daerah pasca-erupsi kerap melihat lonjakan kasus infeksi saluran napas, bukan cuma iritasi biasa yang hilang begitu debu bersih.

Efeknya pun tidak berhenti di paru-paru saja. Gas belerang dioksida, tefra halus, dan abu bisa memperberat penyakit yang sudah ada, mulai dari gejala pernapasan akut, iritasi mata, gangguan kulit, tekanan darah tinggi, sampai gejala stres pasca-trauma pada penduduk yang tinggal di sekitar zona erupsi. Dan seperti biasa, dampaknya tidak merata, anak-anak dan lansia jadi kelompok yang paling sering disebut paling terdampak.

Kalau Sudah Menyangkut Lansia

Ini bagian yang jadi perhatian utama. Salah satu gambaran paling jelas datang dari dua desa dekat Gunung Galeras, Kolombia, salah satunya berada tepat di zona bahaya tinggi vulkanik. Dari 31 lansia yang tinggal di zona terpapar, 18 orang mengalami gangguan obstruksi saluran napas. Di desa kontrol yang tidak terdampak, angkanya hanya 6 dari 31 orang. Perbedaan ini jauh dari kebetulan secara statistik.

Yang membuat temuan ini lebih berarti, paparan abu vulkanik yang berlangsung bertahun-tahun pada tubuh yang sudah menua diduga bisa punya efek yang mirip dengan polusi udara pada umumnya, meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, bahkan berpotensi ikut andil pada risiko demensia. Sayangnya data soal efek jangka panjang ini masih tergolong sedikit, jadi kesimpulannya belum bisa terlalu tegas, tapi cukup untuk jadi alasan kewaspadaan ekstra.

Alasan lansia lebih rentan sebenarnya tidak jauh berbeda dari yang sudah kita bahas soal polusi udara pada umumnya, paru-paru yang sudah kurang lentur, sistem imun yang melambat, ditambah penyakit bawaan seperti asma atau PPOK yang membuat tubuh lebih gampang bereaksi berlebihan. Lansia bahkan disarankan untuk tidak ikut membersihkan abu vulkanik pasca-erupsi, dan kalaupun terpaksa keluar rumah, memakai masker N95 yang terpasang rapat menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Yang Perlu Diperhatikan Kalau Erupsi Terjadi

Mengingat Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dengan puluhan gunung berapi aktif, situasi seperti ini bukan sekadar kemungkinan jauh. Beberapa hal sederhana yang bisa membantu melindungi lansia saat ada abu vulkanis di sekitar rumah:

  • Tetap di dalam rumah dengan jendela dan pintu tertutup rapat selama abu masih turun.
  • Kalau harus keluar, gunakan masker N95 yang menutup rapat, bukan masker kain biasa yang tidak menyaring partikel halus.
  • Serahkan urusan bersih-bersih debu ke anggota keluarga yang lebih muda dan sehat, bukan ke lansia atau siapa pun dengan riwayat penyakit paru dan jantung.
  • Perhatikan tanda-tanda sesak, batuk yang tidak biasa, atau nyeri dada, dan jangan tunda mencari bantuan medis kalau muncul gejala tersebut.

Penutup

Erupsi gunung berapi memang jarang terjadi dibanding polusi udara kota yang datang setiap hari. Tapi begitu terjadi, dampaknya bisa dirasakan berbulan-bulan setelah abunya sendiri sudah tidak terlihat lagi. Untuk lansia, momen langit yang berubah warna itu bukan sekadar pemandangan yang perlu difoto, tapi sinyal untuk lebih berhati-hati menjaga siapa saja yang paling rentan di sekitar kita.

***

*Semua data dan temuan di atas berasal dari sejumlah penelitian dan laporan yang tercantum lengkap pada daftar sumber di halaman berikut.

**Sumber Bacaan

•  Respiratory Health Effects of Volcanic Ash with Special Reference to Iceland — PMID 21159135  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21159135/
•  Chronic Pulmonary Effects of Volcanic Ash: An Epidemiologic Study — PMID 3718009  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3718009/
•  Effects of Eyjafjallajökull Volcanic Ash on Innate Immune System Responses — PMC 3672917  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3672917/
•  Volcanic Ash and the Respiratory Immune System — PMC 3672927  https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3672927/
•  Mapping the Global Health Burden of Volcanic Exposure: A Scoping Review — PMC 12504282  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC12504282/
•  Respiratory and Physical Health Consequences in Older Adults in a High-Risk Volcanic Area — PMC 11412650  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11412650/
•  Health Impacts of Volcanic Ash — IVHHN  https://www.ivhhn.org/information/health-impacts-volcanic-ash
•  Volcanic Eruptions — American Lung Association  https://www.lung.org/clean-air/emergencies-and-natural-disasters/volcanic-ash

***

(Foto: Setkab.go.id)

abu vulkanis,aku vulkanik,erupsi gunung berapi,lansia sehat,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Usia 92 Tahun Masih Lompat 2,05 Meter, Lyu Mingpu Buktikan "Rekor"

12 Terapi Alternatif: Ada Sisi Positif, Ada Juga yang Perlu Diwaspadai

Hari Terapi Fisik Sedunia: Menjaga Lansia Tetap Bugar, Mandiri, dan Bebas Bergerak

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026