12 Terapi Alternatif: Ada Sisi Positif, Ada Juga yang Perlu Diwaspadai


Terapi alternatif boleh saja menjadi pelengkap untuk membantu lansia merasa lebih nyaman atau tetap aktif. Tetapi ketika muncul keluhan baru, carilah pertolongan medis.

2026-09-08T10:00

GERIATRI.CO.ID – “Coba dipijat saja dulu.”

Kalimat seperti ini rasanya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Pegal sedikit, pijat. Pinggang terasa tidak nyaman, dipijat. Badan terasa kurang enak, ada yang menyarankan jamu atau terapi tradisional.

Bagi sebagian lansia, terapi alternatif memang sudah akrab sejak puluhan tahun lalu. Bahkan ada yang merasa tubuhnya lebih nyaman setelah menjalani terapi tertentu. Namun, seperti halnya sesuatu yang lain, terapi alternatif juga memiliki sisi positif dan negatif. Tidak semuanya cocok untuk semua orang, terutama lansia.

Berikut 12 terapi yang cukup dikenal masyarakat dan hal-hal yang perlu diperhatikan.

1. Pijat atau massage

(+) Pijat dapat membantu membuat tubuh lebih rileks dan pada sebagian orang membantu mengurangi rasa pegal atau ketegangan otot.

(-) Tekanan yang terlalu kuat dapat menyebabkan nyeri, memar atau cedera. Lansia dengan tulang rapuh, gangguan pembekuan darah, atau kondisi medis tertentu perlu lebih berhati-hati.

2. Pijat tradisional

(+) Selain memberikan rasa nyaman, pijat tradisional sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat dan sering dilakukan untuk mengatasi keluhan pegal-pegal.

(-) Teknik dan kompetensi praktisinya sangat beragam. Gerakan yang terlalu keras atau manipulasi pada leher dan tulang belakang dapat berisiko menimbulkan cedera.

3. Akupunktur

(+) Akupunktur dapat menjadi terapi komplementer untuk beberapa keluhan tertentu dan pada sebagian orang dapat membantu mengurangi nyeri.

(-)  Ada risiko nyeri, perdarahan ringan, memar atau infeksi bila prosedur dan sterilitas tidak diperhatikan. Karena itu, jangan dilakukan sembarangan.

4. Akupresur

(+) Tidak menggunakan jarum dan relatif sederhana. Tekanan pada titik tertentu dapat memberikan sensasi relaksasi pada sebagian orang.

(-) Klaim manfaatnya untuk berbagai penyakit tidak semuanya memiliki bukti ilmiah yang kuat. Tekanan berlebihan juga dapat menimbulkan rasa sakit atau memar.

5. Refleksiologi

(+) Pijatan pada kaki atau tangan dapat memberikan rasa rileks dan nyaman, terutama setelah lansia beraktivitas.

(-) Jangan menganggap refleksi dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Pada lansia dengan luka kaki, gangguan sirkulasi, atau masalah saraf, perlu kehati-hatian.

6. Bekam

(+) Sebagian orang merasa lebih rileks atau nyaman setelah bekam. Dalam konteks tertentu, bekam dapat digunakan sebagai terapi komplementer.

(-) Bekam basah melibatkan sayatan atau tusukan pada kulit sehingga terdapat risiko perdarahan, infeksi, anemia, dan penularan penyakit jika alat tidak steril. Lansia yang menggunakan obat pengencer darah harus berkonsultasi terlebih dahulu.

7. Jamu

(+) Jamu merupakan bagian dari tradisi kesehatan Indonesia dan beberapa bahan herbal memang memiliki senyawa yang berpotensi memberikan manfaat tertentu.

(-) Alami bukan berarti selalu aman. Dosis, kualitas bahan, kontaminasi, dan interaksi dengan obat perlu diperhatikan. Lansia yang rutin minum obat sebaiknya berkonsultasi sebelum mengonsumsi herbal tertentu.

8. Tai chi

(+) Gerakannya relatif perlahan dan dapat melatih keseimbangan, koordinasi, kelenturan, serta aktivitas fisik.

(-) Tetap ada kemungkinan kehilangan keseimbangan atau cedera jika gerakan tidak disesuaikan dengan kemampuan. Lansia dengan keterbatasan gerak sebaiknya memulai dengan pendampingan.

9. Yoga

(+): Yoga dapat membantu fleksibilitas, kekuatan, keseimbangan, relaksasi, dan kesadaran terhadap tubuh.

(-) Tidak semua posisi yoga cocok untuk lansia. Gerakan ekstrem atau peregangan berlebihan dapat menyebabkan cedera otot maupun sendi.

10. Aromaterapi

(+) Aroma tertentu dapat memberikan efek menenangkan dan membantu menciptakan suasana rileks.

(-) Minyak esensial dapat menyebabkan iritasi kulit atau reaksi alergi pada sebagian orang. Jangan diminum sembarangan dan jangan menganggap aromaterapi sebagai pengobatan penyakit.

11. Terapi panas dan dingin

(+) Kompres hangat dapat memberikan rasa nyaman pada otot atau persendian tertentu, sedangkan kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada kondisi tertentu.

(-) Kulit lansia cenderung lebih rentan. Suhu yang terlalu panas dapat menyebabkan luka bakar, sedangkan penggunaan dingin yang berlebihan dapat mencederai kulit. Pada lansia dengan gangguan sensasi, kehati-hatian menjadi semakin penting.

12. Meditasi dan latihan pernapasan

(+) Relatif mudah dilakukan dan dapat membantu relaksasi, pengelolaan stres, serta meningkatkan kesadaran terhadap tubuh dan pernapasan.

(-) Manfaatnya lebih bersifat mendukung kesehatan dan kesejahteraan, bukan menggantikan pengobatan penyakit. Jangan sampai meditasi atau latihan pernapasan membuat seseorang menunda pemeriksaan medis ketika mengalami keluhan yang serius.

Jadi, mana yang paling baik?

Jawabannya tidak ada satu terapi alternatif yang otomatis paling baik untuk semua lansia.

Lansia berbeda-beda. Ada yang masih aktif berjalan, ada yang menggunakan tongkat; ada yang sehat, ada yang memiliki diabetes, hipertensi, osteoporosis, atau mengonsumsi banyak obat.

Karena itu, prinsip sederhananya adalah: kenali kondisi tubuh, pilih terapi yang aman, dan jangan menggantikan pengobatan yang memang dibutuhkan.

Terapi alternatif boleh saja menjadi pelengkap untuk membantu lansia merasa lebih nyaman atau tetap aktif. Tetapi ketika muncul keluhan baru, nyeri yang menetap, kelemahan mendadak, sesak napas, gangguan kesadaran, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, jangan sibuk mencari tukang pijat dulu—carilah pertolongan medis.

Sebab, terapi alternatif boleh menjadi teman dalam menjaga kebugaran. Tetapi jangan sampai menjadi alasan untuk terlambat mendapatkan pertolongan yang sebenarnya dibutuhkan. (a2s)

terapi alternatif,terapi lansia,bekam,yoga lansia,merawat lansia,Hari Terapi Fisik Sedunia

ARTIKEL LAINNYA

Usia 92 Tahun Masih Lompat 2,05 Meter, Lyu Mingpu Buktikan "Rekor"

Abu Vulkanik dan Kesehatan: Ketika Langit Berubah Warna

Hari Terapi Fisik Sedunia: Menjaga Lansia Tetap Bugar, Mandiri, dan Bebas Bergerak

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026