Anak Krakatau Kembali Erupsi, Lansia Perlu Waspada terhadap Abu Vulkanik


Abu vulkanik bersifat abrasif. Partikelnya dapat mengiritasi bahkan menggores permukaan mata.

2026-09-07T07:24

GERIATRI.CO.ID - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus pada Sabtu, 5 September 2026, mulai pukul 23.07 WIB. Berdasarkan laporan khusus Badan Geologi, erupsi masih berlangsung hingga 04.40 WIB pada 6 September dan disertai suara gemuruh. Aktivitas tersebut menghasilkan semburan yang terlihat merah menyala dan menyerupai lava fountain.

Badan Geologi menyatakan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah potensi bahaya, termasuk hujan abu lebat, serta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Di tengah situasi tersebut, keluarga yang tinggal di wilayah yang terdampak abu perlu memberikan perhatian khusus kepada lansia. Abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu biasa. Namun bagi lansia, menghirupnya bukan perkara sepele. Partikel yang sangat halus dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk penyakit yang sudah dimiliki.

Ketika gunung api mengalami erupsi, abu vulkanik dapat terbawa angin dan menyelimuti permukiman. Selain mengganggu jarak pandang dan aktivitas sehari-hari, abu juga dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, hingga paru-paru.

World Health Organization (WHO) menyebut paparan abu dan gas vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut maupun kronis.

Lansia termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika terjadi hujan abu. U.S. Geological Survey (USGS) menyebut orang lanjut usia serta mereka yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan, seperti asma dan bronkitis kronis, lebih berisiko mengalami masalah kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Partikel abu yang berukuran sangat kecil bahkan dapat terhirup hingga masuk lebih dalam ke paru-paru.

Pada paparan yang cukup tinggi, seseorang dapat mengalami batuk, iritasi tenggorokan, pilek, rasa tidak nyaman di dada hingga sesak napas. Pada orang yang sebelumnya sudah memiliki penyakit paru, keluhannya dapat menjadi lebih berat.

Karena itu, lansia dengan penyakit seperti asma, PPOK, bronkitis atau penyakit jantung sebaiknya lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk akibat erupsi.

USGS merekomendasikan kelompok rentan, termasuk lansia, menghindari paparan abu dan, jika memungkinkan, berlindung di dalam bangunan yang tidak terdampak abu. Selama hujan abu berlangsung, keluarga dapat membantu lansia dengan:

1. Membatasi aktivitas di luar rumah

Jika tidak ada kebutuhan mendesak, lansia sebaiknya tetap berada di dalam rumah. Tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu.

CDC juga menyarankan untuk tetap berada di dalam ruangan dan menutup pintu serta jendela ketika terjadi paparan abu.

2. Gunakan masker yang tepat bila harus keluar

Jika lansia memang harus keluar rumah atau membantu membersihkan abu, CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH untuk mengurangi paparan partikel abu. Masker debu biasa memberikan perlindungan yang lebih rendah.

Pastikan masker terpasang dengan baik dan menutup hidung serta mulut.

3. Lindungi mata

Abu vulkanik bersifat abrasif. Partikelnya dapat mengiritasi bahkan menggores permukaan mata. Karena itu, kacamata pelindung dapat digunakan ketika harus berada di luar atau membersihkan abu.

4. Jangan biarkan lansia ikut membersihkan abu jika tidak perlu

Membersihkan abu dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup. 

Sebaiknya pekerjaan tersebut dilakukan oleh orang yang lebih sehat dengan perlindungan pernapasan yang sesuai.

Lansia, terutama yang memiliki penyakit jantung atau paru, sebaiknya tidak mengambil risiko.

5. Pastikan obat rutin tetap tersedia

Bagi lansia yang memiliki penyakit kronis, pastikan obat rutin tidak terputus. CDC juga menyarankan orang dengan penyakit pernapasan membawa obatnya ketika harus berada di luar selama kondisi paparan abu atau polusi.

Bagi keluarga, jangan menunggu sampai lansia mengeluh sesak. Mencegah paparan sejak awal jauh lebih baik daripada menangani masalah kesehatan setelah muncul. (lia)

abu vulkanik,masker,lansia ,erupsi gunung berapi

ARTIKEL LAINNYA

10 Langkah Membersihkan Rumah Setelah Hujan Abu Vulkanik

Mengenal Terapi Alternatif pada Lansia

Masihkah Menyimpan Radio Jadulmu, Opa Oma?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026