
GERIATRI.CO.ID – “Kaki pegal? Dipijat saja.”
“Badan nggak enak? Minum jamu.”
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin sudah sangat akrab di telinga Opa dan Oma. Bahkan, tidak sedikit keluarga yang langsung mencari tukang pijat atau mencoba pengobatan tradisional ketika lansia mengeluhkan sesuatu. Bukan tanpa alasan. Banyak terapi tradisional sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama.
Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan terapi alternatif?
Sederhananya, terapi alternatif adalah berbagai metode di luar pengobatan medis konvensional yang digunakan untuk membantu mengatasi keluhan atau meningkatkan rasa nyaman dan kebugaran. Pijat, refleksi, akupunktur, akupresur, bekam, yoga, tai chi, hingga penggunaan jamu atau herbal tertentu sering masuk dalam pembicaraan mengenai terapi alternatif atau komplementer.
Namun, ada satu garis penting yang jangan sampai terlewat: terapi alternatif bukan berarti harus menggantikan pengobatan medis. Jika digunakan bersama pengobatan medis, istilah yang lebih tepat adalah terapi komplementer. Tujuannya mendampingi, bukan mengambil alih.
Bagi lansia, hal ini menjadi semakin penting. Keluhan yang tampaknya sederhana seperti pegal, pusing, mudah lelah, atau nyeri sendi kadang merupakan tanda dari masalah kesehatan yang perlu diperiksa. Jangan sampai keluhan hanya “ditutupi” dengan pijat atau ramuan, sementara penyebab sebenarnya tidak pernah diketahui.
Contohnya sederhana. Opa mengeluh lutut sakit. Setelah dipijat, terasa lebih enak. Bagus. Tetapi kalau nyeri terus berulang, semakin berat, lutut bengkak, atau Opa mulai kesulitan berjalan, tentu tidak cukup hanya mengatakan, “Berarti kurang dipijat.” Bisa jadi ada masalah pada sendi atau kondisi lain yang membutuhkan pemeriksaan.
Begitu pula dengan jamu dan herbal. Label “alami” tidak otomatis berarti aman untuk semua lansia. Lansia bisa memiliki beberapa penyakit sekaligus dan mengonsumsi beberapa obat. Karena itu, bahan herbal tertentu berpotensi berinteraksi dengan obat yang sedang diminum.
Bukan berarti terapi alternatif harus dijauhi. Pijat yang dilakukan dengan tepat dapat memberikan rasa nyaman. Latihan seperti tai chi dan yoga yang disesuaikan dengan kemampuan dapat membantu aktivitas fisik dan keseimbangan. Tetapi tetap ada syaratnya: sesuaikan dengan kondisi tubuh dan jangan memaksakan diri.
Yang tak kalah penting adalah memilih orang yang memberikan terapi. Jangan asal percaya hanya karena seseorang mengaku “bisa menyembuhkan”. Pastikan tindakan yang dilakukan aman, alatnya bersih, dan hindari terapi yang justru berisiko menyebabkan luka, perdarahan, patah tulang, atau cedera—terutama pada lansia yang tulang dan kulitnya mungkin sudah lebih rentan.
Jadi, dipijat boleh, refleksi boleh, mencoba terapi komplementer boleh—tetapi berhenti obat sendiri, jangan. Begitu pula jangan menunda pemeriksaan hanya karena merasa sudah menemukan “obat alternatif” yang cocok.
Pada akhirnya, menjadi sehat di usia lanjut bukan tentang memilih antara pengobatan modern atau tradisional. Yang lebih penting adalah tahu kapan harus menggunakan terapi komplementer, kapan harus berkonsultasi, dan kapan keluhan tidak boleh dianggap sepele.
Karena Opa dan Oma berhak merasa nyaman. Tetapi lebih dari itu, mereka juga berhak mendapatkan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang aman. (a2s)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri